Memilih Cita Atau Cinta

Memilih Cita Atau Cinta
kegalauan Sito


__ADS_3

Sito kemudian melangkahkan kakinya dengan gontai menuju rumahnya.Masih terbayang dengan jelas senyum Agnes tadi.Senyum yang sudah lama ia rindukan, senyum yang sudah lama menghilang dan hampir ingin ia hapus.


Hatinya kembali bimbang dengan kehadiran gadis itu.Bersusah payah dia mencoba menekan hatinya untuk melupakan segala rindu dan harapan kepada gadis yang setahun lalu telah memporak porandakan hatinya.Kepergian Agnes yang tanpa pamit,bahkan tanpa kabar,mampu membuatnya kehilangan kepercayaan diri.Yah..dia menjadi tidak punya keyakinan akan cinta Agnes.Merasa dirinya hanya bertepuk sebelah tangan mencintai seorang Agnes yang ternyata lebih memilih mengejar cita citanya daripada harus memperjuangkan cinta seorang Sito.


Sito berpikir, dia sudah memberikan cinta yang besar untuk gadis itu, tapi sepertinya Agnes tak memberikan hal yang sama.

__ADS_1


Hingga kemudian, Ia bertemu Endang saat ia pulang kampung dan mengabarkan keadaan Agnes di ibukota, kesulitan dan perjuangan yang harus Agnes hadapi untuk bisa bekerja termasuk alasan Agnes meninggalkannya tanpa kabar.Ia jadi mengerti dan kemudian menjadi semakin salut dengan Agnes.Apalagi beberapa saat yang lalu, dia dan Agnes juga sudah bertukar kabar melalui pesan ponsel.


Meski beberapa kali ia mendapat teguran dari ustadz Samsul, selaku murobbinya yang memintanya untuk memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan Agnes jika tidak ada kejelasan dalam hubungan mereka, apalagi Agnes juga sepertinya belum siap untuk menikah.Sehingga ustadz Samsul memintanya untuk memutuskan harapannya dan menerima gadis lain yang lebih siap untuk menikah, dan tentunya lebih sepadan dengannya.


" kalo mas Sito masih mau ngaji sama saya, segera putuskan gadis itu dan terima biodata dari gadis yang sudah saya siapkan" demikian ustadz Samsul mencercanya dengan kalimat final yang tak mampu ia tolak selain sami' na wa atho' na.

__ADS_1


Sito memang menerima biodata itu, tanpa bermaksud menindaklanjutinya.Meski sudah berulangkali ia melakukan istikharah, tapi tetap saja hatinya tak tersentuh dengan gadis di biodata itu.Justru bayangan Agnes semakin mengganggunya.


Tapi ia juga tak bisa seterusnya mengabaikan teguran sang ustadz yang hanya memberinya waktu sebulan untuk mengambil keputusan,menindak lanjuti atau mengembalikan biodata itu.


Dia memang sudah sepenuhnya siap untuk menikah, bahkan sebelum Agnes pergi dia sudah menyiapkan semuanya.

__ADS_1


" apakah aku harus menyerah,ataukah aku harus memastikan perasaan Agnes kepadaku? tapi bagaimana jika dia telah berubah? bagaimana jika dia telah menemukan sosok yang lebih segalanya daripada aku yang hanya seorang karyawan rendahan ini.bahkan gajinya sekarang pun bisa berapa lipat gajiku.Ataukah aku harus menuruti saran ustadz Samsul ,menerima gadis lain yang lebih sepadan untukku dan melupakan Agnes? Mungkin memang benar yang dikatakan ustadz Samsul, aku gak sepadan sama dia aku gak akan mampu mengimbanginya dan lebih baik aku menerima biodata ini.sebelum aku kecewa dan terlalu berharap dengannya." Sito kembali larut dalam pikirannya.Di satu sisi, dia masih mencintai Agnes dan belum bisa move on dari gadis itu, tapi disisi lain, dia juga takut dengan sang ustadz yang secara tidak langsung tak akan menganggapnya lagi sebagai mutarobbinya..


__ADS_2