
Sorenya Watik tiba di kos an menjelang asar.Gadis itu terlihat kelelahan.Mungkin karena pasiennya banyak.
" baru pulang mbak?" tanya Agnes basa basi.
" iya Nes..tadi habis rujuk ke harkit." jawabnya menghempaskan badannya di bed dan menghidupkan kipas angin dengan kecepatan maksimal.
" gimana tadi tesnya" tanyanya setelah berhasil mengurangi rasa lelahnya
" susah mbak..Agnes pasrah saja" jawab Agnes sendu
Watik tertawa lirih " jangan pesimis dulu.tunggu hasilnya.trus kapan pengumumannya?" tanyanya lagi
" minggu depan mbak..mau ditelpon katanya" jawab Agnes
__ADS_1
"oh..ya sudah.ditunggu dulu.sabar saja.Habis ini rencanamu gimana?"
" Agnes belum tau mbak..Kemarin Agnes dikasih alamat bude Agnes, tapi di daerah matraman jakarta timur..jauh ya mbak dari sini?" tanya Agnes mengingat dia bahkan baru kali ini menginjak kaki di ibukota.
" ya jauh.disini kan jakarta barat, kalo ke timur ya jauh.tapi kan bisa lewat tol naik mayasari. Kapan mau kesana?"
" Agnes belum pernah kesana mbak.baru kali ini Agnes ke Jakarta.Agnes juga gak begitu akrab dengan bude." jawab Agnes lugu.
" ya nanti mbak antar.ada alamat dan rute bisnya kan?"
" kalo gitu, lusa saja kita kesana.mumpung mbak pas libur"
" iya mbak..makasih"
__ADS_1
*****
Lusa kemudian...
Setelah menempuh perjalanan sejam naik bis, dilanjutkan oper angkot, akhirnya mereka tiba di rumah bude Yem yang terletak di tengah pemukiman padat. Rumah dengan 2 lantai itu berada di tengah tengah perumahan yang berdempetan khas perumahan jakarta.Bude Yem sudah merantau di Jakarta sejak masih muda dan sudah berkeluarga.Mencukupi kebutuhan hidupnya dari berjualan daging ayam di pasar kramat jati, dia terbilang sukses sekarang dengan sudah memiliki rumah tingkat dan beberapa kontrakan.Dan juga sudah mampu membantu beberapa kerabatnya dari kampung untuk berjualan di Jakarta.Tapi kehidupan sederhana ala desa masih kental terasa di rumahnya.Dulu Kakak kedua Agnes juga pernah tinggal disini sebelum akhirnya mendapatkan pekerjaan dan kos sendiri.
Agnes dijemput oleh Pakde Man, suami bude Yem karena bude Yem masih jualan di pasar.
" budemu masih di pasar, nanti dhuhur baru pulang" ujar pakde Man ramah.Pria paruh baya dengan badan kurus seperti Doyok itu, kemudian mempersilahkan Agnes dan Watik istirahat di lantai 2 yang lebih segar.
" kalo mau buat minum, buat sendiri ya Nduk.disini dapurnya, es nya di kulkas juga ada.kalo mau istirahat, di depan TV juga bisa.Pakde tinggal dulu jemput budemu.Gak usah sungkan, anggap rumah sendiri.kemarin ibukmu sudah telpon kesini" ujarnya lagi yang kemudian pergi menjemput istrinya.
" Nes..kayaknya pakdemu ramah.sodara dari bapak atau ibuk?" tanya Watik
__ADS_1
" aku juga baru sekali ini ketemu pakde Man mbak..aku taunya bude Yem, dulu waktu masih kecil, bude sering main ke tempat kakek dan nenekku.setelah besar trus merantau ke Jakarta, jualan daging ayam di pasar, ketemu pakde dan nikah.Anaknya 3, yang 2 kembar.tapi satunya ditinggal di desa dan diasuh sama ayah angkatnya." jelas Agnes yang juga masih asing dengan keluarga bude Yem ini karena belum pernah ketemu sekalipun kecuali dengan bude Yem yang pernah datang kerumahnya waktu mudik lebaran.Mengingat dulu waktu kecil, ibunya Agnes dan bude Yem berteman baik.