Memilih Cita Atau Cinta

Memilih Cita Atau Cinta
bekal untukmu


__ADS_3

" hmmmm...kayaknya cukup deh..nasi, sayur oseng buncis, dan ikan asin..semoga mas Sito suka" guman Agnes tersenyum puas memandang kotak bekal yang sengaja ia siapkan untuk Sito.


Dia sudah sibuk di dapur semenjak subuh, menyiapkan sarapan untuk keluarganya.


Kemarin dia sudah meminta bantuan Om Bari untuk menitipkan bekal buat Sito karena mereka sering berangkat kerja bareng.


Dan pagi ini, Agnes sudah selesai dengan bekalnya sebelum jam 06.30.


Dia segera mengambil kunci motornya dan memacunya menuju rumah Tante Wi.


" Assalamualaikum" teriaknya heboh setelah memarkirkan motornya di halaman rumah kakeknya itu.


" Waalaikusalam warohmatullahi wa barakatuh" suara jawaban salam dengan santun terdengar dari dalam.siapa lagi kalo bukan Om Bari yang memang santun dalam berbicara meski sama yang lebih muda sekalipun.


Agnes menjadi malu sendiri dengan salam hebohnya.Didapatinya Om Bari telah bersiap dengan seplastik yang pasti bekal buatan istrinya.

__ADS_1


" belum berangkat, Om?" tanya Agnes canggung


" belum..masih nunggu temannya" jawabnya sembari tersenyum


" emmm...Agnes jadi nitip ya Om..Agnes punya hutang sama mas Sito, jadi sebagai gantinya Agnes buatin bekal saja.." ujar Agnes malu malu sambil menyerahkan kotak bekal itu ke Om Bari dan diterima dengan senyum merekah.


" Pasti dia akan senang nanti..Biasanya kalo jam makan siang, dia gak pernah jajan ataupun makan.hanya minum air putih yang disediakan di kantor.padahal pekerjaannya butuh fisik yang kuat.mungkin sedang berhemat agar bisa cepat melamar seseorang" jelas Om Bari memggoda seraya melirik reaksi Agnes.


Agnes pun tersipu, tak disangka Sito benar benar seserius itu dengannya hingga harus rela tidak makan siang.


"ih..apaan sih Tan.." Agnes kembali tersipu


Thin thin..


" itu dia sudah datang..gak menyapa dulu,,Nes?" tanya tante Wi sengaja menggoda

__ADS_1


" gaklah Tan.." elak Agnes meski kemudian dia mengikuti tante Wi yang mengantar suaminya keluar rumah.


Dilihatnya Sito sudah bersiap di atas motornya, menunggu Om Bari yang juga telah siap di boncengannya.


Keduanya akhirnya melaju setelah salam pamitan, meninggalkan Agnes dan tante Wi di teras rumah.


" jadi....? sudah ada perkembangan nih?" tanya tante Wi


" iya gitu deh Tan..Agnes merasa bersalah sama mas Sito kalo gak ngasi kesempatan sama dia buat buktiin kesungguhannya sama Agnes.Tapi Agnes juga gak mau ngecewakan bapak sama ibu Tan." ucap Agnes sendu.


Ya, melihat kesungguhan dan perubahan pada Sito, siapa yang gak luluh.


"liat saja kedepannya..namanya cinta kan harus diperjuangkan,kayak om sama tante juga gitu.dulu banyak yang menentang, sampe akhirnya kami bisa bersatu..Meski sebenarnya disayangkan juga sih, kamu cantik, berpendidikan, pasti bisa dapat yang lebih baik dari dia.Tapi dia belum tentu dapat yang sebaik kamu.makanya dia begitu memperjuangkan kamu..Tapi, kamu sendiri apa sudah siap dengan segala kemungkinan kalo kalian bersama nanti? keluarga besarnya sudah lama gak suka dengan keluargamu terutama ibumu. Tante hanya kasihan membayangkan kamu dikucilkan keluarga besarnya saat kalian ada pertemuan keluarga. Memang sih, keluarganya Sito sendiri gak pernah ada konflik dengan keluarga kita. Tapi yang namanya menikah, pasti kan ketemu keluarga besar..Tante eman sama kamu" ujar tante Wi menatap kasihan dengan keponakannya itu.Diantara sekian banyak ponakannya, hanya Agnes yang dekat dengannya.Wajar jika kemudian tante Wi akan selalu memikirkan kebahagiaan Agnes.


Agnes terdiam merenungi ucapan tante Wi yang memang benar adanya. Membuatnya ragu tapi tak berani mengambil keputusan tegas terhadap perasaannya.Tidak hanya dia tak ingin menyakiti Sito yang telah berharap banyak, tapi juga dia sendiri tak mampu membohongi hatinya yang telah jatuh cinta dengan pemuda itu.

__ADS_1


^^^^^^


__ADS_2