
3 tahun kemudian....
Sejak pertemuan ketiganya hari itu, Agnes dan Sito tak lagi bertemu ataupun bertukar kabar.
Agnes yang sudah berada di luar negeri sebagai tenaga kerja telah berganti no ponsel.Sedikitpun tak berniat untuk sekedar say hello dengan Sito, lebih tepatnya dia trlah mengubur semua kenangan dan cintanya dengan Sito ketika pemuda itu memutuskan untuk menikah.
Bagi Agnes, pantang baginya mencintai jodoh orang.
Meskipun begitu, Sito justru masih mengingat Agnes. Ada sedikit rasa rindu dan penyesalan dalam hatinya ketika terakhir melihat Agnes hati itu.Tak hanya semakin cantik dan dewasa, tapi dia tetap ceria meski mungkin sedang terluka.
Meski kini Sito telah dikarunia seorang anak laki laki yang justru mirip istrinya,tapi dia masih berusaha mencari kabar tentang keadaan Agnes di luar negeri dari Jack dan beberapa cerita tetangganya.
Hari ini, Agnes sudah menyelesaikan kontrak kerjanya setelah 3 tahun di luar negeri.Usianya sudah di atas 25 tahun, dan ayahnya juga tak mengijinkannya untuk memperpanjang kontraknya lagi.Ayahnya berdalih, bahwa dia lebih membutuhkan keberadaan anaknya daripada uangnya. Hingga akhirnya Agnes pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontraknya lagi.
Sudah seminggu Agnes dirumah, setelah melepas kangen dengan keluarga besarnya, kini ia berkumpul dengan teman teman TPA nya dulu. Hal yang selalu ia rindukan saat di perantauan.
__ADS_1
" Dar, cepat pulang. Aslam gak ada yang jagain.kakak iparmu mau lairan" seru Wawan yang dimintai tolong ibunya Sito untuk memanggilkan adiknya Sito itu.
Agnes, Pretty , Dar dan beberapa teman lainnya nampak terkejut.Mereka segera membubarkan diri dari masjid.Pun dengan Agnes, yang akhirnya ikut Dar dan Pretty melihat keadaan ponakannya.
Dar berlari duluan, sementara Pretty ,Agnes dan yang lainnya membereskan peralatan yang baru mereka pakai untuk ngobrol di teras masjid.
Selesai berberes,Agnes dan Pretty kemudian menyusul Dar, sedangkan yang lainnya memilih pulang.
Sesampainya dirumah Pretty, nampak Dar masih terlihat kuatir menggandeng seorang anak kecil. Ia memang menunggu Pretty untuk diajak kerumah Sito kakaknya, yang berada agak jauh dari rumahnya.
Sesampainya di rumah Sito yang cukup sederhana sekali,Agnes terkejut denganapa yang dilihatnya..rumahnya sangat kecil, bahkan lantainya masih dari tanah, dindingnya juga dari bata yang belum dipoles. Belum lagi, jendela rumahnya yang terbuat dari papan bekas ,dan kursi tamu yang juga kursi lusuh.Ternyata seperti ini kehidupan Sito setelah menikah..Apakah dia beruntung, tak berjodoh dengan Sito?
" masuk mbak" ajak Pretty membuyarkan lamunan Agnes.
Kedua kakak beradik itu memaklumi keterkejutan Agnes dengan keadaan kakaknya.
__ADS_1
" eh, iya"
Mereka masuk ke kamar Sito untuk membantu menyiapkan jarik dan perlengkapan bayi yang mungkin sudah disiapkan oleh Wina sebelumnya.
Lagi lagi Agnes terkejut dengan kondisi kamar itu, kasur lusuh dan tepes, dengan sprei jarik lusuh pula ditutupi karpet yang sudah sobek d sampingnya.
Ada lemari kayu dengan kaca yang sudah retak.
Dar segera mengambil tas dan memasukkan beberapa jarik, baju ganti dan perlengkapan bayi yang ada di atas meja.
Sementara Pretty mengambilkan baju untuk ponakannya yang akan ia ajak menginap dirumahnya.
" emang lairannya di mana, Dar?" tanya Agnes
" ditempat bu bidan,mbak.tadi baru berangkat pake motor ,belum bawa apa apa.nih nanti bajunya mau kita anterin.Wong mas e gak bawa apa apa juga, bahkan uang pun tak ada.Tadi kupaksa tak kasih uangku 100 ribu buat pegangan" ujarnya masih menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Agnes lagi lagi hanya terkejut, sebegitu miskinkah Sito sekarang, sampe untuk persiapan kelahiran istrinya saja dia tak punya uang?