
" mbak..ini teh angetnya diminum dulu..mau dikerokin?" tawar Oki yang telah datang membawa segelas teh hangat dan sebotol minyak kayu putih di tangannya.Wajahnya menampakkan kekhawatiran.
Agnes melihat Sito untuk meminta ijin.Sito pun mengangguk mempersilahkan keduanya masuk ke kamar Oki untuk kerokan.
Oki membantu Agnes menuju kamarnya.
" pake sarung ini dulu mbak..biar bajunya gak kotor" katanya menyerahkan sebuah sarung motif bunga untuk Agnes.
Agnes pun segera melepas bajunya dan memakai sarung itu kemudian tengkurap.
Oki segera mendekati Agnes dan mulai mengeroki punggung Agnes yang sudah terbuka.
" nih..masuk angin mbak..baru satu kerokan dah merah."
" tadi dari rumah belum terasa ,Ki.mungkin waktu di jalan kena anginnya" elak Agnes sambil meringis menahan sakit pada punggungnya yang terkena goresan koin.
" mbak..masnya tadi siapa? baru liat?" tanya Oki di sela sela kegiatan kerokannya.Dia memang cukup penasaran dengan pemuda tampan dan penuh perhatian yang datang bersama Agnes tadi.Tapi tak berani bertanya saat di ruang tamu.
" oh..temanku..lebih tepatnya sodara jauh" jawab Agnes.Dia belum siap mengatakan hubungannya dengan Sito selama belum ada restu orang tua
" tapi kayaknya dia sayang banget mbak..perhatian lagi.
dari caranya ngliatin mbak tadi, gak mungkin kalo cuma teman apalagi sodara" Oki gak akan percaya begitu saja penjelasan Agnes setelah apa yang dia liat.
__ADS_1
" kalo gak percaya, tanya aja sendiri.." Agnes bangkit dari tidurnya. "udahan belum? lama banget..kasihan temanku ditinggal kelamaan" tanya Agnes yang memang sudah gak kuat menahan sakit memilih mengakhiri sesi kerokan mereka dan memakai kembali pakaiannya.
Mereka berdua kembalinke ruang tamu.
" sudah mendingan?" tanya Sito penuh perhatian.
" sudah mas.." jawab Agnes meneguk sisa teh manisnya dan mengambil sepotong bronies untuk melumerkan mulutnya yang terasa pahit.
Sito bernafas lega melihat Agnes sudah membaik.Dia juga ikut mengambil potongan bronies dan memakannya.
Sementara Oki memilih diam memperhatikan keduanya.
" masnya rumahnya mana?" tanya Oki hati hati
" oh,..sama rumah e mbak Agnes sebelah mananya?" tanyanya lagi kepo
" dekat rumah e kakekku yang dulu mantu itu, Ki" jelas Agnes
Setelah ngobrol cukup lama, Oki permisi meninggalkan keduanya.
" Dik..kamu tadi di dalam cerita apa saja?" tanya Sito yang ternyata juga penasaran
" gak ada mas..cuma ngobrol biasa saja..ya,nanyain sih, siapa mas?" jawab Agnes asal
__ADS_1
" trus kamu bilang apa?"
" ya..kubilang saja mas temanku, masih sodara sama aku" jawab Agnes enteng
Sito mendesah kecewa.Ia berharap Agnes akan mengakuinya sebagai calon suaminya.tapi ternyata Agnes hanya mengenalkannya sebagai teman.
"mbak, mas..yuk makan dulu" ajak Oki yang ternyata telah menyiapkan makan siang buat mereka.
Tak ingin mengecewakan tuan rumah, keduanya menuju ruang makan dan mengambil makanan.
Agnes yang memang sedang demam, tentu tak berselera makan,hingga kemudian Sito yang mengambilkan makanan untuknya.
Agnes hanya berdecak kesal, pasalnya Siyo mengambilkan makanan cukup banyak untuknya.
" mas...ini kan porsi buruh.masak aku dikasih makanan sebanyak ini.gimana kalo gak habis" gerutu Agnes dengan cemberut
Sito melihat gemas gerutuan Agnes yang justru terdengar begitu manja di telinganya.." kalo gak habis, nanti mas yang habiskan" ucapnya lembut
Agnes langsung tersipu.' apaan sih, malu kan ada Oki' batinnya.Untung memang dia eedang sedikit demam, jadi tak terlihat kalo sedang tersipu.
Oki memilih cepat cepat menyelesaikan makannya dan menuju ruang tamu mengambil minumannya.
" huh...apanya yang teman..jelas jelas mereka lebih terlihat seperti orang pacaran" gerutunya meneguk habis es tehnya
__ADS_1
****