Memilih Cita Atau Cinta

Memilih Cita Atau Cinta
penolakan orang tua


__ADS_3

Sudah seminggu Agnes dan Wulan di Balai Latihan Kerja untuk mengikuti kursus bahasa Inggris.Tempat BLK yang cukup jauh dari tempat kerja Agnes, memaksa gadis itu untuk bolak balik dan hanya mengikuti kursus saat ia libur.Beruntung di BLK disediakan asrama, jadi Agnes bisa menginap ketika kemalaman.


Siang itu, mereka sudah menyelesaikan kursus pertamanya yang diampu Mr.Agung, dosen Fakultas Keperawatan UI.Pengalaman Mr.Agung menempuh gelar master di UK, membuat pria itu terpilih menjadi mentor di BLK itu.


" Wul, tungguin" seru Agnes ketika melihat Wulan sudah selesai berberes.


Keduanya berjalan menyusuri jalan raya ujung aspal untuk kembali ke asrama menyantap makan siang.


" Wul, ada anak baru lagi?" tanya Agnes melihat beberapa gadis yang belum pernah diliatnya melanggar mereka.


" iya, dari Kediri.baru datang kemarin.yang bawa pak Yahya.istrinya kan orang kediri.kalo yang rombongan itu, dari makasar.udah seminggu selang sehari sama aku disini.mereka ada 5 orang." jelas Wulan menunjuk serombongan gadis yang memang terlihat memakai logat Indonesia timur.


" wah, jauh jauh juga ya peminatnya" cetus Agnes heran.Pasalnya Jakarta - Makasar cukup jauh, belum lagi tiket pesawatnya, biaya hidup di jakarta,meski tinggal di asrama dan makan dijamin, tapi keperluan sehari hari tentunya juga menghabiskan banyak uang.


Agnes yang sudah kerja saja, harus berpikir tentang keuangannya.

__ADS_1


Hanya menempuh perjalanan 10 menit, mereka sudah tiba di asrama.Agnes mengikuti Wulan, karena memang dia tidak mempunyai tempat tidur sendiri.


" makan dulu apa sholat dulu?" tawar Wulan


" sholat dulu sajalah Wul..paling makannya juga masih antri kan" jawab Agnes


Keduanya mengambil wudhu dan kemudian sholat dhuhur di mushola.


Tak berapa lama, keduanya bergabung dengan yang lain mengambil jatah makan siang.


" balik Wul..besok masuk pagi."


" oh,,mau langsung balik?"


" nanti ajalah, agak sorean.panas banget.mau istirahat dulu."

__ADS_1


" yuk, tiduran di kamar saja" ajak Wulan


Keduanya berbaring dan memainkan ponselnya.


********


Sementara, proses ta'aruf Sito dan Wina sudah berlanjut lagi.Sito sudah bertamu ke rumah Wina sebelum ia meminta ijin keluarganya untuk menikah.Entah apa yang ada di pikiran Sito ,dia terlihat terburu buru.


" Le, ibuk gak sreg sama calonmu itu.Kalo sesuai dengan yang kamu sampaikan, apakah kamu yakin mau menikahi nya? Ingat, Le..menikah bukan main main. tapi seumur hidup.Jangan sampai hanya karena kecewa atau nuruti ustadzmu itu, kamu mengorbankan perasaanmu." nasehat ibuk Sito


Sito terdiam, dia juga sebenarnya ragu melanjutkan ta'aruf ini.Tapi tak enak dengan ustadz Samsul.


" kalo kamu takut sama ustadzmu itu, biar ibuk yang bilang, kalo orang tuamu gak setuju.Yang menjalani rumah tangga kamu Le, bukan ustadzmu.pikirkan sekali lagi ya" pinta ibuknya.Sito adalah anak lelakinya, wajar seorang ibuk ingin anaknya bahagia dan mendapatkan pendamping yang layak.


" iya,buk..nanti Sito pikirkan lagi dan bilang sendiri sama ustadz Samsul." akhirnya Sito mengalah.Yah, dia harus memikirkan lagi.Tidak ingin mengecewakan ibuknya, apalagi dia sendiri juga tidak begitu sreg dengan calonnya itu.Jangan sampai dia menjadikan pernikahannya hanya sebagai pelampiasan saja.Sementara dia belum bisa melupakan sosok Agnes.

__ADS_1


__ADS_2