Memilih Cita Atau Cinta

Memilih Cita Atau Cinta
tes tulis


__ADS_3

" Nes..mbak berangkat dulu.kamu tesnya masih jam 8 kan..santai saja dulu.mbak masuk jam 7 kurang seperempat sih." teriak Watik dari teras yang sedang memakai sepatunya.


Agnes keluar dan mendapati Watik telah bersiap " ya mbak..gak pake sragam mbak?"


" sragamnya dipake di ruang ganti Nes..buat ngurangi infeksi nosokomial..yuk, duluan ya..nanti kamu tanya ke resepsionis saja.mereka akan menunjukkan tempatnya..semangat! Assalamualaikum" Watik pun melangkah meninggalkan Agnes


" Waalaikumsalam" jawab Agnes kemudian menutup pintu dan bersiap siap.


Pukul 07.30 Agnes sudah sampai di lobi rumah sakit.Hawa dingin dari central pendingin begitu terasa di kulitnya, berbanding terbalik dengan hawa di luar rumah sakit yang sudah mulai memanas.


Agnes memilih duduk di kursi tunggu lobi sambil menunggu barangkali ada beberapa calon pegawai yang akan ikut tes juga, biar ada temannya.


Dan benar saja, dari pintu lobi nampak seorang gadis yang seumuran dengannya menuju resepsionis dan sepertinya menanyakan ruang ujian.Setelah berbasa basi, gadis itu kemudian menghampiri Agnes dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


" mau tes juga mbak?" tanya Agnes hati hati.


Gadis itu menoleh dan tersenyum


" iya mbak..mbaknya juga?" tanyanya


" iya mbak" jawab Agnes tersenyum.


" ohya..kebetulan ya..mbaknya darimana?" tanyanya lagi


" saya dari tangerang. sudah kerja sih di rimah sakit husada.cuma disini katanya gajinya lebih besar, jadi ya pengen nyoba disini juga.siapa tau rejeki" jawabnya


Obrolan mereka terhenti ketika seorang satpam menghampiri mereka dan memberitau mereka tes akan dilaksanakan dan mengantar keduanya ke ruang diklat di lantai 3.

__ADS_1


Mereka menaiki lift menuju lantai 3 dan langsung menuju ruang diklat sesuai arahan dari resepsionis di lobi sebelumnya.


Tampak di ruangan itu, telah penuh dengan peserta tes yang berjumlah sekitar 30 orang termasuk Agnes.Mereka segera menempati kursi yang tersisa dan menyiapkan alat tulis.


Seorang perawat senior dengan gaya maskulin tapi ramah, memperkenalka diri sebagai kak Hera.Dia adalah adalah kasie Diklat di rumah sakit itu.Sesuai dengan jabatannya, kak Hera benar benar perfeksionis seperti seorang dosen pengajar.


Setelah perkenalan singkat dan dilanjutkan tata cara tes, Kak Hera dibantu stafnya membagikan soal dan lembar jawaban.Mereka memiliki waktu 2 jam untuk menyelesaikan soal soal itu.


Agnes membaca satu persatu soal ujian di tangannya.Sejenak dia pesimis bisa lolos, mengingat soal soal ini jauh dari ekspetasinya. Dia hanya bisa pasrah. Dia akui, dia memang kurang persiapan setelah panggilan tes yang dibilang mendadak itu.Hingga dia hanya membawa perlengkapan seadanya. Meski dia membawa beberapa buku rangkuman materj kuliahnya, tapi dia justru tidak bisa konsentrasi belajar, lantaran sejak dia tiba, Watik selalu mengajaknya ngobrol.meski sesekali dia harus mencuri waktu ketika Watik sedang tidur untuk sekedar membaca kembali materi kuliahnya dulu.


Hingga waktu 2 jam yang diberikan berlalu, terpaksa Agnes menjawab sebisanya.siapa tau untung.


Pengumuman hasil tes akan diumumkan seminggu kedepan lewat telpon.Agnes bergegas keluar ruangan dan mampir ke toliet menuntaskan hasrat alamnya yang tertahan di ruang diklat yang dingin itu.Di kosan Watik, air PAM mengalir kecil, jadi akan lebih hemat jika sekalian meminjam toilet rumah sakit yang tentunya lebih bersih.

__ADS_1


Tak lupa dia juga membeli makan siang sebelum kembali ke kosan.


__ADS_2