
" mau dipijat?" Sito kembali menawarkan diri untuk memijat kaki Agnes.
" eh..enggak enggak usah...makasih"
" jangan salah paham.ini pijatan di telapak kaki kok..namanya pijat refleksi biar peredaran darah lancar..gak sakit dan gak usah kuatir, aku pernah ikut pelatihan seperti ini" jelas Sito tersenyum.Dia paham Agnes tentu merasa tak nyaman
" iya gak papa kali Nes..biar lekas membaik." Tante Wi ikut berkomentar
" tapi janji gak sakit kan?" tanya Agnes ragu ragu.Dia pernah merasakan pijatan seperti itu dulu waktu ingin menguruskan berat badan, dan sakitnya luar biasa.
" enggak..nanti aku pijat pelan pelan.." Sito tersenyum lembut, mengerti ketakutan Agnes.
" ya sudah.telapak kaki saja kan? tapi Agnes tetap pake kain buat nutupi kaki Agnes ya"
Sito hanya mengangguk dan mulai memijit telapak kaki Agnes yang terlindungi jarik tipis.
Dia tersenyum simpul dengan sikap posesif Agnes yang tidak mengijinkannya menyentuh Agnes secara langsung.
Sito memijit lembut sesekali melihat respon Agnes yang kadang meringis ketika pijatan itu sedikit menekan syaraf syaraf kakinya.
" ih..sakit mas..bisa pelan pelan saja" desis Agnes yang memang tidak tahan nyeri
" ini juga sudah pelan pelan kok..biasanya lebih dari ini" jawab Sito masih tenang.
" iya..tapi ini beneran sakit.Mas gak ngerasain sih" gerutu Agnes
__ADS_1
Sito hanya tersenyum tanpa berusaha membalas.
" sudah selesai..coba rasakan bedanya" Sito akhirnya menyudahi pijatannya
" Alhamdulillah.." Agnes mendesah lega setelah siksaan yang ia tahan itu.
" makasih ya mas"
" sama sama..kalo gitu, aku pulang dulu ya..habis ini istirahat lagi.obatnya masih ada kan?" tanyanya memastikan obat yang ia belikan kemarin masih cukup..
" masih kok..sekali lagi makasih ya"
" om, tante..Sito pamit dulu" ucapnya berpamitan sama tante Wi dan kedua orang tua Agnes.
" ya, hati hati" kedua orang tua Agnes menjawab serempak.
" Waalaikumsalam"
Sepeninggal Sito, tante Wi juga pamit pulang.
" Nes..tante pulang dulu..udah dipijit kan pasti langsung sehat nih" bisiknya menggoda
Agnes hanya tersipu dan memilih masuk kembali ke kamarnya melanjutkan istirahatnya.
*****
__ADS_1
Sesampai di rumah,Sito masuk kamar minimalisnya.Membaringkan tubuhnya di kasur tipisnya.Dia tersenyum membayangkan reaksi Agnes ketika dipijitnya tadi.."Dia benar benar menjaga, bahkan aku gak diijinkan menyentuh kulitnya" gumannya.
Tak sabar membawanya ke kamar ini,, membayangkan desah manjanya ketika dipijit tadi..Sito segera menghapus hayalannya ketika pikiran kotor mulai merasukinya.Bagaimanapun dia adalah lelaki dewasa, tak salah kan memikirkan hal yang agak kotor.
Dibukanya laci lemari bajunya, tempat ia menyimpan hal hal privasinya.
Diraihnya sebuah buku berlogo Bank Rakyat Indonesia..dibuka dan diliat angka saldo yang tertera disana..' masih kurang banyak untuk menyiapkan sebuah pernikahan. jika hanya mengharapkan gajinya sebagai karyawan, akan kelamaan baginya mengumpulkan uang.Dia harus mencari pekerjaan sampingan, tapi apa?
Kembali dimasukkannya buku itu ke dalam laci dan ditutupnya.
Kemudian dia membaringkan tubuhnya kembali, menatap langit langi kamarnya dan berpikir.
" Mas..ada tamu" suara Pretty membuyarkan lamunannya.
Bergegas ia beranjak dan keluar kamarnya menemui tamu yang dimaksud.
" ya pakde, ada yang bisa dibantu" sapanya pada sosok lelaki paruh baya di depannya
" oh..iya mas..maaf malam malam mengganggu.TV di rumah saya gak keluar gambarnya mas,padahal udah dicolokin.Tolong diliat bisa?"
Sito tersenyum " iya pakde.nanti habis isya saya liat." ujarnya.
' Alhamdulillah, dapat job.bisa menambah saldo' pikirnya.
" iya mas..saya pamit dulu kalo gitu"
__ADS_1
" iya pakde, monggo.hati hati"
*****