
Mirsha pun membiarkan air mata satu persatu jatuh, mengalir dan membasahi pipinya. Karena ia pun harus bisa menerima kepergian Gehna, sahabatnya.
"Gak mungkin!" Naura menggelengkan kepalanya pelan beberapa kali. Ia mengusap wajahnya dengan kasar. Kini ia merasa frustasi. Mirsha langsung memeluk erat sahabatnya. Mereka saling mengalirkan air mata di pundak.
"Gue benci! Gue benci perpisahan ini!" Tangisnya di pundak Mirsha.
"Lo gak usah membenci perpisahan. Karena kita pun akan berpisah 'kan?"
"Maksud lo?" Tanya Naura tanpa melepas pelukan.
"Gue tau semuanya. Besok, lo bakal pergi ke pesantren 'kan?" Ujar Mirsha menguatkan hati.
Perlahan Naura melepas pelukan. Naura terlihat bingung harus menjawab apa. Ia merasa bersalah karena akan meninggalkan Mirsha seperti Gehna meninggalkan mereka. Ia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan.
"Maaf" Ia hanya dapat mengatakan satu kata itu pada sahabatnya.
Mirsha menghapus deraian air mata di pipi, seakan menahan tangis dan kesedihannya. Lalu menggenggam tangan Naura.
"Gak papa. Mungkin ini adalah takdir kehidupan. Kita harus bisa menerimanya" Ia memaklumi. Namun dalam hati, ia rasanya tak sanggup untuk merelakan satu persatu sahabatnya pergi jauh meninggalkan dirinya.
"Gue rasa, hari ini adalah hari dimana kita terakhir bertemu. Gue minta maaf, besok gue gak bisa nganter lo. Besok, gue ada urusan" Lanjutnya.
Mirsha melepas kalung liontin merah di lehernya.
"Lo jaga baik-baik ya. Mungkin hanya ini kenangan terakhir dari gue. Kalo lo kangen gue, anggep aja gue ada dalam liontin ini" Mirsha memberikannya pada Naura.
"Lo harus sehat-sehat disana ya. Gue selalu ada buat lo walaupun kita terpisah jauh"
"Dan semoga, lo bertemu dengan sosok teman dan sahabat yang jauh lebih baik dari gue dan Gehna. Gue minta maaf kalo gue pernah salah sama lo"
"Setelah ini, gue bakal kangen banget sama lo. Dan gue bakal nunggu waktu sampai waktu itu menentukan kita bertiga untuk bertemu kembali. Dan persahabatan kita utuh kembali"
"Dan ingat pesan dari gue. Jangan pernah lupain gue dan persahabatan"
Naura mengangguk-anggukan kepalanya mendengarkan penuturan Mirsha yang mengharukan. Ia tak bisa berkata-kata. Ia langsung memeluk sahabatnya dengan sangat erat, seakan hanya itu ungkapan rasa terima kasih dari hatinya. Mirsha pun membalas pelukan. Mereka kini tengah menangisi satu sama lain.
Mereka tidak menyangka dengan apa yang terjadi. Dan tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka saling berharap akan bertemu kembali suatu saat nanti dengan tiga sahabat yang utuh kembali.
Mirsha adalah sosok sahabat yang peduli dan pengertian. Sedang Naura adalah sosok sahabat yang pengasih dan baik hati. Dan Gehna adalah sosok sahabat yang paling penyayang.
Namun kini, persahabatan telah berakhir. Pertemuan ini adalah yang terakhir. Hanya jejak kenangan yang dapat terukir. Dan kenangan itu tak dapat terpungkiri.
See you again..
...
__ADS_1
*
Malam hari telah tiba. Semua santriawan tengah duduk di depan meja makan seperti biasa.
"Ram. Sebentar lagi, makan malam kita akan datang" Bisiknya cemas.
"Ya. Aku tak sabar menunggunya" Jawab Ramdan acuh tak acuh.
"Hey! Apa kau lupa? Kakakmu telah--"
"Apa? Menaburkan satu wadah garam? Yang benar saja Kak. Dia hanya bercanda. Apa kau mempercayainya?" Potong Ramdan.
"Assalamualaikum?" Ucap Udin yang membawa satu panci besar yang berisi opor ayam dari dapur. Beberapa pelayan pun terlihat berada di belakang pak Udin.
"Waalaikumussalam" Jawab semua ikhwan disana.
Beberapa pelayan mulai menyiuk nasi dan segala lauk pauknya keatas piring. Membagikannya kepada semua ikhwan disana.
"Makasih, Pak" Ujar Ramdan ketika salah satu pelayan memberikan jatah makannya.
Setelah semua makanan dibagikan, para pelayan segera pergi dan berlalu.
"Ayo kita makan!" Yuda mengangkat sendok, siap untuk menyiuk makanannya diatas piring.
"Stop!" Baron tiba-tiba menghentikan.
"Hm, Kita belum membaca doa bukan?"
Kemudian mereka membaca doa makan yang hampir terlupakan. Semua ikhwan memulai suapan pertama, kedua, ketiga, dan selanjutnya.
Namun, Baron hanya menatap makanannya dengan ragu. Hal itu membuat Ramdan terkekeh.
"Makanlah! Tidak apa-apa. Buktinya kami pun baik-baik saja" Ramdan pun tengah menyuap makanannya dengan lahap.
"Apa harus aku suapi?"
"Apa kau tidak berbohong? Apa makanannya tidak asin, atau rasanya mengerikan?"
"Tidak. Rasanya sangat enak. Ayolah, makan! Jika kau tidak makan, perutmu akan berdemo"
"Hey! Mana jiwa lelakimu?" Ramdan menantang. Baron dibuat kesal.
Baron langsung menyuap makanannya dengan cepat tanpa henti.
"Enak?". Baron hanya menjawabnya dengan anggukan beberapa kali tanpa menghentikan kunyahannya yang menumpuk di dalam mulut.
__ADS_1
"Kakak ku itu sangat mengasihani mu. Maka, lain kali kau jangan mengganggunya!" Dan sekali lagi, Baron hanya menjawab dengan angukan beberapa kali.
Semua makanan diatas piring sudah disikat habis. Mereka mengucap hamdalah karena merasakan nikmat kekenyangan.
"Jujur saja, Kakak mu itu kadang baik dan lembut. Namun kadang pula ia sangat menyeramkan"
"Apa kau mengatainya? Ingatlah Kak, Nona macan itu adalah Kakak ku!"
"Aku tau"
"Hey, coba kau pikirkan cara agar Kakak mu itu luluh padaku. Dan ia tidak terlihat menyeramkan di depanku! Sebagai gantinya, aku akan membuatmu dekat dengan adikku, Naura. Bagaimana?" Baron mengangkat kedua alisnya beberapa kali.
Ramdan terkekeh mendengarnya, tak menghiraukan tawaran lucu yang diberikan Baron.
"Ayolah! Ku mohon.." Baron memelas.
"Emm, bagaimana kalau kau memakai kain penutup mata? Dengan begitu, kau tak dapat melihat wajah Kakak ku yang menyeramkan itu. Kau mengerti? Oh, ya. Aku tahu, kau pasti mengerti. Kalau begitu, aku pergi duluan ya" Ramdan segera berlalu dan menghilang begitu saja. Baron tahu, ia menghindarinya.
"Kau menyebalkan!" Gerutu Baron yang merajuk.
Baron menatap tajam kearah pintu.
"Lihat saja, jika suatu saat nanti kau jatuh cinta pada Adikku. Aku akan menunggumu meminta bantuan dariku. Dan pada saat itulah aku akan tertawa kejam padamu. Sampai air liurku membanjiri wajahmu. Whahaha.." Ia tersenyum sinis kemudian tertawa mengerikan.
"Hey, ada apa denganmu?"
Baron tersentak. Ia melihat sekeliling. Ia tak sadar, bahwa di ruangan itu masih ada banyak ikhwan. Mereka tengah melihat Baron dengan keheranan. Setelah sadar, ia cengengesan menahan malu karena ia sempat tertawa sendirian, seperti orang yang tidak waras. Ya, dia memang sosok yang sadar diri.
"Akting, guys. Akting" Baron berbohong.
"Oh. Ku kira kau sudah tak--"
"Hey, aku pergi dulu ya. Biasalah, masih ada kitab Al-Bukhori yang belum ku hafal" Potongnya celingukan kemudian berlalu dengan tergesa.
"Assalamualaikum, Kak Baron?" Sapa kedua akhwat yang tidak sengaja berpapasan dengannya di lapangan.
"Waalaikumussalam" Jawabnya cepat dengan tersenyum kecil seraya terus berlalu.
"Hey, Baron! Kau akan kemana?" Tanya Umar yang tengah menyapu lantai di majelis.
Baron tetap mengebut kakinya.
"Kemana-mana hatiku senang" Ketusnya tanpa melihat kearah Umar.
"Sepertinya, dia sedang kesal. Karena kulihat, wajahnya sangat amat mengerikan dan jawabannya pun juteknya minta ampun" Gerutu Umar sedikit kesal.
__ADS_1
"Sabar.. Dia memang begitu. Jika ia sedang merasa kesal, maka ia juga akan membuat orang lain kesal" Ujar Yuda yang tengah menggulung tikar.