
Di tempat lain, di bagian rumah sakit yang tidak cukup ramai akan orang-orang. Ramdan ingin sekali mengungkapkan kesedihannya, namun dirinya tampak berada di tempat yang tidak tepat. Ramdan kembali melangkahkan kedua kakinya dan pergi lebih jauh. Kini dirinya telah berada di sebuah taman rumah sakit yang tampak luas dan tidak ramai orang.
Ramdan duduk di atas kursi berwarna putih di taman itu. Mengusap wajahnya dengan kasar, dan napasnya terdengar memburu.
"Mungkin inilah saatnya Aku menangis karena nya." gumam Ramdan dalam hati.
Wajahnya menunduk lesu dengan mata yang terpejam. Air mata yang menggenang tak dapat lagi ditahan, yang akhirnya merambat keluar dan menetes dari ujung bulu matanya. Kedua telapak tangannya digenggam erat seakan menjadi pelampiasan yang terpendam. Keningnya mulai mengkerut seiring emosi dan sedihnya semakin memuncak. Dalam hatinya terus mencoba untuk mengucapkan bacaan suci seperti beristighfar agar emosinya tidak semakin kalut.
__ADS_1
Ramdan membuka kedua bola matanya secara perlahan. Telapak tangan yang sebelumnya tergenggang kuat, kini akhirnya dibuka lebar-lebar secara perlahan juga. Tak mampu menghirup napas karena mungkin emosinya akan kembali tersulut, Ramdan menahan napas di dadanya. Mengangkat wajahnya dan memandang pancaran cahaya yang berkilau di langit yang luas. Beberapa detik kemudian, barulah Ramdan menghela napas dengan sedikit perasaan lega di dada. Satu telapak tangannya mengusap permukaan wajah yang sempat basah oleh air mata.
Matanya masih memandang langit malam yang dihiasi benda-benda langit. Bulan berbentuk sabit yang memancarkan cahaya terang dari setiap sisinya, bersama ribuan bintang yang tampak gemerlap, yang juga tampak mengelilingi sang bulan. Mereka begitu indah apabila mereka bersatu.
"Apa Aku dan Naura akan bersatu seperti bulan dan bintang?" tanya Ramdan dalam hati. Matanya kembali dipejamkan untuk mengingat masa lalu. Bayangan demi bayangan tentang sosok Naura begitu menyenangkan pikirannya. Tak tersadar sudut bibirnya terangkat.
Sedetik kemudian, Ramdan menyadari apa yang dilakukannya. Dirinya tampak berpikir dalam diam tentang dirinya dan hatinya sendiri.
__ADS_1
Pikirannya kembali mengingat Naura yang masih terbaring di atas ranjang rumah sakit, membuat hatinya kembali seakan menyempit dan dadanya seakan sesak. Tangannya mengusap wajah dengan kasar. Perasaannya kembali kalut dan kacau. Ingin sekali rasanya dia berteriak tapi apa daya, tak bisa dirjnya melakukan hal itu. Kini dirjnya sudah tersulut emosi dan rasa sedih kembali.
Di tengah dirinya dalam keadaan terpuruk, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan berdering dalam saku baju kokonya. Setelah diraih, Ramdan langsung mengangkat panggilan suara itu yang ternyata dari sang kakak, Fatimah.
"Ram? Kau ada di mana?" tanya Fatimah di seberang telepon, yang terdengar menyeru.
"Aku sedang berada di taman. Ada apa Kak?" jawab Ramdan dengan suara pelan.
__ADS_1
"Ada kabar baik untukmu. Naura telah sadarkan diri," ucap Fatimah.
Ramdan seketika membatu dan sangat terkejut mendengarnya. Tanpa mematikan ponselnya, dengan perasaan tak sabaran, Ramdan beranjak dari kursi dan berlari menjauh dari sana berasama air mata yang masih menetes, dan tangannya masih terus menyeka air mata yang tampak semakin deras. Kini Ramdan tak memedulikan orang-orang di sekitarnya yang tengah menatap keadaannya. Dirinya hanya memiliki satu tujuan saat ini. Berlari dan terus berlari sampai akhirnya dirinya tiba dan segera memasuki ruangan rawat Naura. Perlahan kakinya melangkah untuk mendekat ke arah ranjang Naura dengan perasaan senang. Sementara Naura yang keadaannya masih lemah, hanya memandang Ramdan dengan sedikit senyuman.