
Di sepanjang perjalanan mereka berdua yaitu Amira dan Alex saling berbalas ucapan, namun kecuali Maura yang hanya memilih untuk diam dan tidak ingin ikut campur dengan urusan kedua kakak kelasnya itu. Alex terus saja menoleh ke belakang meskipun tangannya sibuk menyetir, melihat Amira yang duduk bersama Maura.
"Amira, kenapa sih lo malah duduk di belakang?" tanya Alex tampak sedikit tak suka sembari melirik ke arah belakang.
"Lagi dan lagi lo nanya yang gak guna." balas Amira hanya melirik ke arah Alex, karena matanya menatap ke luar jendela mobil.
"Kok gak guna? Ya guna lah. Gue pengen tau kenapa lo duduk di belakang? kenapa lo gak duduk di depan aja sama gue? Harus berapa kali sih gue jelasin sama lo kalo gue tuh suka sama lo, dan gue gak mau lo jauhin gue?" tanya Alex seakan menuntut.
"Harus berapa kali lagi coba gue jelasin ini juga sama lo, kalo gue tuh gak suka sama lo? Kenapa masih gak peka sih jadi cowok?" balas Amira yang kembali kesal oleh lelaki itu.
"Kenapa lo gak suka sama gue?" tanya balik Alex.
Amira terdiam sejenak. "Udah deh. Lo kalo masih mau duduk di mobil gue, mending gak usah ngomong. Lo cukup diem aja. Kalo lo masih bersuara, lebih baik lo turun, karena gue gak suka orang yang bikin gue kesel ada di hadapan gue." ujar Amira sembari kembali mengarahkan pandangannya menatap ke luar jendela mobil. Kedua tangannya dilipat di depan dada.
Alex hanya bisa menghela napasnya pelan, mencoba menetralkan pikiran dan hatinya. Ia akan memilih untuk diam seperti apa yang diinginkan gadis kesukaannya itu, demi bisa tetap melanjutkan perjalanan menuju sekolah bersama Amira, walau pun juga bersama Maura.
"Buruan jalannya! Keburu telat neh," ujar Amira kepada Alex yang tengah menyetir.
"Iya, sabar. Orang sabar disayang Alex." balas Alex sembari melirik ke arah belakang dan tersenyum kecil.
"Dih! Makanya gue gak sabar, biar gue jauh dari lo." balas Amira.
Sedangkan Maura? Tentu saja dirinya masih terus menatap ke arah luar jendela dengan sikap acuh tak acuh dan merasa menjadi nyamuk, meski pun ia bukanlah sebenarnya makhluk berupa nyamuk. Itu 'kan pribahasa yang sering digunakan anak di jaman sekarang?
Pandangan yang Maura layangkan ke luar jendela, tak sengaja melihat sosok laki-laki tinggi yang ia kenal, tak lain ialah Imran. Terlihat Imran yang keluar dari sebuah gedung tinggi dan megah. Sepertinya Imran tidak melihat Maura. Mobil yang Maura naiki pun perlahan berlalu dan pandangan sosok Imran ikut menghilang.
__ADS_1
...****************...
Saat jam pelajaran tengah berlangsung, seorang guru berujar tiba-tiba kepada seluruh muridnya di dalam kelas.
"Oh, iya anak-anak. Satu minggu lagi kita akan melaksanakan ulangan akhir semester. Jadi, materi ini harus kalian pahami baik-baik." Ujar seorang guru perempuan.
"Iya Bu,"
"Baik Bu,"
"Siap Bu,"
Semuanya membalas dengan anggukan yang serempak. Sedangkan Maura justru terdiam dengan kedua bola mata yang sedikit dibulatkan.
Maura tersadarkan, lalu memijat pelipisnya perlahan seraya bergumam tak jelas dengan mata yang dipejamkan. Melihat itu, Siska dibuat semakin bingung terhadap temannya itu.
"Kamu kenapa, Ra? Ditanya kok malah diem?" Tanya Siska kedua kalinya.
"Hah, iya. Maafin aku Sis, aku lagi bingung nih. Aku lupa kalo minggu depan kita akan ujian akhir semester." Jawab Maura.
"Ya terus? Eh, maksudnya kamu belum menghafal materi gitu?" Tanya Siska yang seperti biasanya, lemot dalam berpikir.
"Iya, Sis." Jawab Maura yang masih tampak kebingungan.
"Ya tinggal hafalin dong. Kenapa masih pusing?" Tanya Siska sembari membuka buku dan menulis dengan pena pulpen.
__ADS_1
"Aku pusing karena buku aku ada di Kak Imran." Ujar Maura.
Pernyataan itu pun berhasil membuat Siska langsung menoleh ke arah Maura dengan mata yang membulat penuh, tanda terkejut.
"Apa?!"
"Tsuutt.. jangan kenceng-kenceng Sis. Aku denger kok." Ujar Maura sembari meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, menyuruh Siska untuk tidak bersuara lebih keras. Dan hal itu akan memancing seluruh murid satu kelas mereka.
"Woy! Jangan berisik napa! Kedengernya kayak kesurupan aja tau," ujar seorang siswa yang menoleh sekilas ke arah Siska.
Siska hanya melirik siswa tersebut dan kembali memandang temannya, Maura. "Ra, apa yang kamu bilang tadi? Buku kamu ada di Kak Imran? Berarti ..." kata-kata Siska bergantung.
"Berarti lo sama Kak Imran itu emang lagi beneran deket?" Lanjut Siska.
***
Jangan lupa follow akun penulis dan kadih dukungan buat cerpen milik penulis. And, dont forget to mampir di karya yang akan segera dirilis oleh penulis ini yaa. Pantau terus gessssss!
Sinopsis:
Darel Keano, membenci kelemahan meskipun kata itu lekat pada dirinya sendiri. Takdir yang menurutnya buruk, hanya bisa diratapi dengan lemah.
Rayne Alea, orang pertama yang menjadikan Darel sebagai temannya, juga membantunya bangkit dari kelemahan dan takdir buruk itu. Cerita ini bukan hanya tentang kebersamaan Darel dan Rayne, tetapi juga tentang cinta yang tumbuh di antara keduanya.
Namun, ternyata takdir buruk masih terus mengiringinya. Mereka berdua terpisahkan dengan dua dunia yang berbeda. Takdir menciptakan kemustahilan bagi keduanya untuk saling memiliki. Tetapi bukankah cinta itu abadi?
__ADS_1