Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
26. Kekhawatiran


__ADS_3

Ramdan termenung di atas kursi tunggu rumah sakit. Mengangkat wajahnya, dan melihat pintu yang bertuliskan IGD, Instalasi Gawat Darurat. Wajahnya tampak lesu, matanya dipejamkan, dan hatinya kacau. Mengkhawatirkan seseorang yang telah hadir dalam hatinya.


Selang beberapa menit kemudian, keluarganya yang terdiri dari Abi Bilal, Umi Marwah, dan Fatimah menghampiri Ramdan dengan perasaan khawatir. Ramdan pun mendapati kedatangan Baron sebagai kakak dari Naura. Pertanyaan Baron terdengar lebih dahulu, dan tampak lebih khawatir dibanding yang lainnya.


"Ram. Apa yang terjadi pada Adikku?" tanya Baron menyentuh pundak Ramdan.


"Aku tidak tahu, Kak. Naura tiba-tiba saja terjatuh dan tak sadarkan diri." jawab Ramdan dengan lesu.


"Dokter sedang memeriksa keadaannya," sambung Ramdan.


Baron memijat keningnya dengan mata yang dipejamkan sesaat. "Terima kasih Kau telah membawanya ke rumah sakit dengan cepat." ujar Baron menepuk kecil pada pundak Ramdan. Ramdan hanya mengangguk kecil menanggapi.


Mereka semua kini duduk di atas kursi tunggu rumah sakit, menunggu dokter selesai memeriksa. Sedangkan Baron tengah mengabari orangtuanya.


Ramdan tak mampu lagi berlarut-larut bersedih menunggu dokter selesai memeriksa keadaan Naura yang tak kunjung keluar. Ramdan menelusupkan wajahnya pada lipatan lengannya di atas paha. Fatimah yang duduk di samping Ramdan, menyadari hal itu, Fatimah sedikit bingung dengan sikap Ramdan. Fatimah mengusap lembut punggung Ramdan yang dibalut baju koko tebal berwarna cokelat. Fatimah hendak menanyakan keadaan Ramdan, tetapi mengurungkan niatnya ketika pintu IGD terbuka dan seorang dokter wanita keluar dari ruangan itu.


Ceklek!


Dokter wanita yang berpakaian tertutup dengan balutan hijab di kepalanya, serta jas putih dan rok panjang menutupi seluruh tubuhnya. Semuanya segera menghampiri dokter wanita tersebut terutama Ramdan yang segera beranjak dan menghampiri sang dokter bersana beberapa pertanyaannya yang langsung dilontarkannya.


"Bagaimana Dok? Apa keadaan Naura baik-baik saja? Apa ada hal yang serius padanya?" tanya Ramdan khawatir.


"Saya perlu berbicara dengan keluarga dari pasien. Apa Anda suaminya?" pertanyaan sang dokter membuat semuanya terdiam sesaat, terutama Ramdan.


"Saya Kakaknya, Dok." ujar Baron kemudian.

__ADS_1


Dokter kemudian mengangguk. "Mari ikut Saya ke ruangan Saya. Ada hal yang perlu Saya bicarakan," ucap dokter itu yang kemudian berjalan pergi.


Baron enggan melangkahkan kakinya, memandang Abi Bilal dan Umi Marwah, tetapi saat Abi Bilal mengelus dan menepuk kecil punggungnya seolah memberi semangat pada dirinya untuk berbicara dengan sang dokter. Terutama saat melihat Fatimah yang tersenyum dan berusaha memberinya dorongan keberanian.


"Pergilah, Kak." ucap Ramdan dengan senyum kecil. Ramdan menghela napasnya setelah melihat Baron mengangguk dan berjalan pergi mengekori langkah sang dokter.


Baron menduduki kursi yang berada di depan meja sang dokter, kini dirinya dan dokter wanita itu duduk dengan posisi berhadapan. Baron tampak tegang melihat wajah sang dokter yang tampak serius. Kemudian dokter itu pun mulai mengeluarkan suara dan berbicara.


"Saya hanya jngin memberitahukan bahwa pasien bernama Naura itu sedang mengalami tidak sadarkan diri. Dari hasil pemeriksaan medis yang telah kami lakukan, Naura sepertinya mengalami penyakit Hepatitis Alkoholik." ujar dokter.


"Hepatitis Alkoholik?" ulang Baron, telinganya belum mendengar nama tersebut. Lebih tepatnya, Baron tidak mengetahui apa pun yang berkaitan dengan medis.


"Hepatitis Alkoholik adalah suatu penyakit yang berupa peradangan di bagian hati. Hepatitis ini disebabkan oleh terlalu banyak mengonsumsi minuman beralkohol."


"Kemungkinan besar, iya." jawab dokter.


"Apa penyakit itu berbahaya Dok?" tanya Baron.


"Tentu. Hepatitis Alkoholik bisa saja menimbulkan keparahan yang fatal bagi tubuh. Tapi, Naura hanya mengalami gejala yang cukup ringan saja, sehingga kemungkinan kecil Naura mengalami keparahan tersebut. Naura hanya mengalami gejala ringan seperti kulit menguning, sering merasa perih dan sakit di bagian perutnya, merasa mual dan turunnya nafsu makan. Serta berat badan pun semakin berkurang." jelas dokter.


Sementara Baron menghela napasnya sedikit lega mendengar bahwa sang adik tak akan mengalami keparahan penyakit.


"Tapi Saya dan beberapa rekan Saya masih perlu memeriksa bagian dalam tubuh Naura. Kami akan mencoba mengambil sempel dari hatinya untuk mengetahui apakah hati Naura masih berfungsi ataukah tidak. Jadi kami meminta izin melakukannya," ujar dokter.


Baron berusaha bersikap tenang ketika mendengar pernyataan demikian. "Baiklah, silakan lakukan pemeriksaan kepada Naura. Tapi Saya mohon, lakukan apa pun yang terbaik untuk kesembuhan adik saya, Dok." ujar Baron kemudian.

__ADS_1


Dokter itu hanya mengangguk dan menampakkan keyakinan. "Anda jangan terlalu khawatir. Kami akan berusaha yang terbaik untuk setiap pasien. Kita hanya perlu berdoa pada Sang Pencipta yang memegang segalanya termasuk kesembuhan." ucap dokter.


Baron menanggapinya dengan tersenyum kecil dan mengangguk. Apa yang dikatakan sang dokter memang benar kenyataannya. Sang pencipta adalah yang Maha Menciptakan.


......................


Setelah sekian menit menunggu, akhirnya Baron keluar dari dalam ruangan itu dan menghampiri keluarga pondok. Melihat Baron yang berjalan menghampiri, semuanya sontak berdiri dan menghampiri.


"Apa yang dikatakan Dokter?" pertanyaan Ramdan mewakili keluarganya yang juga sama penasaran dengannya.


Baron menatap mata Ramdan dengan lesu, membuat semua orang semakin kkawatir dan penasaran terhadap apa yang dikatakan sang dokter hingga membuat Baron selesu ini.


"Dokter mengatakan bahwa Naura memiliki penyakit Hepatitis Alkoholik. Organ hatinya bermasalah, dan Dokter akan memeriksanya lebih lanjut." lantas Baron tertunduk lesu. Sementara yang lain terkejut dan merasa semakin khawatir akan terjadi apa-apa pada Naura. Ya, terutama Abi Bilal dan Umi Marwah yang sudah menganggap Naura seperti putri mereka sendiri. Apalagi Naura sering diajak oleh Ayahnya ke pondok sejak usia yang sangat kecil, entah Naura mengingatnya atau tidak.


Ramdan menelan salivanya dalam diam ketika mendengar apa yang disampaikan Baron dari sang dokter. Kemudian matanya menatap ke arah pintu ruang di mana Naura diperiksa. Sementara yang lain mulai duduk kembali, Ramdan justru mendekati pintu IGD itu. Kini dirinya sudah berada tepat di depan pintu IGD. Menatap pintu itu dengan tatapan sendu bersama kesedihannya.


Tiba-tiba pintu itu terbuka dan menampakkan seorang suster wanita. Suster itu sedikit tersentak mendapati seseorang yang berdiri di depan pintu. Hampir saja ditabraknya. Sedangkan Ramdan tidak bereaksi apa pun kecuali dirinya yang segera menanyakan keadaan Naura.


"Bagaimana keadaan Naura sekarang? Apakah sudah membaik? Apakah pemeriksaannya sudah selesai?"


"Passien masih dalam keadaan pemeriksaan. Silakan Bapak menunggu di ruang tunggu, karena passien akan segera dokter tangani." ucap suster itu.


"Sus, tolong bawakan ini ke laboratorium untuk diperiksa oleh Dokter Dean." seru suster itu pada seorang suster lain, dan memberikan mangkuk medis berwarna silver dengan kain penutup di bagian atasnya sehingga tak dapat Ramdan melihatnya.


Ramdan berniat untuk menanyakan hal tersebut, tetapi suster itu terlanjur berjalan pergi setelah mengucapkan, "permisi,". Suster itu kembali ke dalam ruangan IGD.

__ADS_1


__ADS_2