Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
31. Bersedih


__ADS_3

"Ta-tapi Naura ... Naura lebih parah sakitnya dari pada Bunda yang seandainya hanya sakit demam." penglihatan Yuni mulai memburam karena air mata yang mulai menggenang di depan bola matanya.


"Serahkan semuanya pada Allah, Bun. Kita hanya perlu berdoa dan berusaha," ucap Maura yang langsung mendapat anggukkan setuju dari Hilman.


Setelah sekian jam terhabiskan oleh sepanjang perjalanan, mobil Hilman dan keluarga pun akhirnya tiba di depan gedung rumah sakit. Kini mereka telah berada di depan meja resepsionis.


"Di mana pasien yang bernama Naura Verona dirawat?" tanya Hilman pada wanita berpakaian pegawai rumah sakit.


"Sebentar ya, Pak" balas wanita itu seraya mengalihakan pandangannya pada layar komputer di dekatnya.


"Pasien bernama Naura dirawat di kamar nomor 127, di lantai dua Pak." jawab wanita itu.


"Terima kasih," Hilman bersama Yuni dan Maura pun akhirnya berjalan pergi menuju kamar yang disebutkan oleh wanita itu. Langkah mereka sedikit tergesa demi bisa segera melihat keadaan Naura.

__ADS_1


...****************...


"Sepertinya Baron telah memberi tahu keluarganya tentang keadaan Naura saat ini. Mereka pasti akan segera berkunjung ke rumah sakit." ucap Fatimah.


"Aku akan selalu ada di sampingmu. Meskipun di saat Adikku ini akan memilih untuk meninggalkan Kakaknya," ujar Fatimah sembari tersenyum dan menggoda sang adik.


"Terima kasih, Kak. Aku merasa beruntung memiliki saudari sepertimu." balas Ramdan.


Keduanya beranjak dan berjalan menuju tempat orang tua mereka berada. Setelah keduanya sampai, keduanya mendapati orang tua Naura yang juga tampaknya baru saja tiba.


"Wa'alaikumussalam,"


"Bagaimana kabar Tante Yuni dan Om Hilman?" tanya Fatimah.

__ADS_1


"Alhamdulillah, sehat, Fatim." jawab Hilman, sedangkan Yuni hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya dan mengangguk.


"Bagaimana kabar Naura di dalam sana?" tanya Yuni seraya mengalihkan pandangannya ke arah pintu IGD, ruangan Naura dirawat.


Mendengar Yuni yang berulang kali menanyakan keadaan Naura meski sudah berulang kali juga dijawab, semuanya terdiam dan tidak menjawab. Mereka tahu, Yuni tidak lupa dengan jawaban tentang pertanyaannya menanyakan Naura, tetapi karena Yuni seakan menunjukkan rasa berberat hati untuk menerima kenyataan salah satu putrinya yang kini berada di rumah sakit.


Hilman memilih mengajak Yuni untuk duduk bersama keluarga sahabatnya, Bilal. "Kamu duduk saja di sini bersamaku. Kita menunggu hasil selanjutnya dari dokter." ucap Hilman yang menarik tubuh sang istri secara pelan untuk menelusup ke dalam pelukannya. Isak tangis kembali terdengar dari Yuni. Semua orang memakluminya, tak ada seorang pun ibu yang tak merasa sedih melihat anaknya tengah mengalami sakit.


"Apa ini salah kita, menjauhkan Naura dari kita, apa ini disebabkan oleh kita?" tanya Yuni mulai merasa menyesal sendiri.


"Keputusan yang kita ambil adalah keputusan yang tepat. Jangan Kamu salah-salahkan keputusan baik itu. Semuanya atas kehendak Allah," balas Hilman.


"Tenanglah Tante. Semuanya akan baik-baik saja. Naura insya Allah akan segera pulih kembali. Kita semua mengharapkan hal itu," ujar Ramdan yang tak mampu melihat seorang ibu menangisi anaknya.

__ADS_1


"Terima kasih, Ram. Terutama pada semuanya yang telah bersusah payah menunggu kabar Naura yang selanjutnya," ungkap Hilman.


"Tidak masalah. Lagi pula, kita adalah saudara. Kita juga dianjurkan untuk saling membantu dalam kebaikan kepada sesama saudara kita sendiri. Bukan begitu?" balas Bilal, yang mendapat anggukan dari Hilman dan Yuni serta Marwah. Hilman dan Yuni merasa bersukur didekatkan dengan orang-orang baik yang bertakwa.


__ADS_2