Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
36. Berbohong


__ADS_3

"Iya. Orangnya yang udah biasa ikut sih. Gue, Hana, Siska, Sabrina, Ana." jawab Amira sembari memasukkan beberapa camilan ke dalam mulutnya.


"Udah, segitu doang?" tanya Imran.


"Hah? Maksud lo? Ya iya, mau siapa lagi emang?" Amira bertanya balik.


Di seberang telepon, Imran enggan menjawabnya. Namun lima detik kemudian Amira teringat sesuatu.


"Oh, ya. Kecuali Maura. Dia berhalangan hadir karena kakaknya sedang di rumah sakit. Jadi Maura gak bisa ikut." ujar Amira. Mulutnya tak henti-henti dimasuki camilan.


Tak ada respon dari Imran beberapa detik setelahnya, membuat Amira curiga bahwa sambungan telepon sudah terputus. Tapi setelah melihat layar ponselnya, terlihat sambungan telepon masih berlangsung. Amira meletakkan ponselnya kembali pada daun telinganya saat Imran kembali berbicara.


"Memang di mana rumah sakit itu?" tanya Imran.


"Katanya sih, di Bogor." jawab Amira yang terdengar tidak jelas karena mulutnya berbicara sembari mengunyah camilan.


"Apa? Lo tadi bilang apa? Yang jelas dong." ujar Imrang yang justru terdengar dingin. Amira dibuat sedikit terkejut olehnya.


"Sorry, gue lagi makan camilan. Oh, ya, katanya sih rumah sakitnya di daerah Bogor." ulang Amira sedikt memperjelas kalimatnya.

__ADS_1


"Oh." ujar Imran dari seberang telepon. Dan panggilan suara itu pun kemudian berakhir. Tentu saja diakhiri oleh Imran, karena Amira sibuk sekali dengan mulut dan camilannya, apalagi kini dirinya tengah terbatuk-batuk karena camilan yang sempat tersedak. Amira segera meraih gelas berisikan air mineral di atas meja, lalu meneguknya dengan tak sabaran. Kini dirinya tampak kelelahan karenanya. Amira menyandarkan tubuhnya ke belakang, dinding sofa dan melirik sekilas ponsel yang berada di genggamannya.


"Dasar, ketos gilak. Kadang humor, tapi kadang juga dingin. Maunya apa sih? Selalu aja bikin kesel!" gerutu Amira.


...****************...


Ramdan membuka pintu dan melihat Naura yang sedang memandang ke arah jendela ruangan. Malam yang terang oleh sinar bulan, yang dikelilingi oleh ribuan bintang. Di atas sofa ruangan itu pun ternyata terdapat Fatimah yang sedang berbaring dan tertidur di sana. Ramdan menutup pintu dan mulai melangkah secara perlahan agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan sang Kakak. Sementara Naura menoleh ke arahnya.


"Assalamualalikum," ucap Ramdan yang terdengar seperti berbisik ke arah Naura. Ramdan membawa semangkuk bubur hangat di tangannya.


Naura tersenyum sekilas seraya melirik Fatimah yang masih terbaring pulas di atas sofa, "Waalaikumussalam." balas Naura dengan suara yang dikecilkan.


"Bagaimana keadaanmu saat ini?" tanya Ramdan yang masih dengan suara kecilnya.


"Sabarlah, itu semua demi kepulihanmu." balas Ramdan. Naura hanya mengangguk dan tersenyum kecil.


"Aku membawakanmu makanan. Kau belum memakan apapun." ujar Ramdan seraya meraih sendok yang berada di dalam mangkuk bubur.


"Apa itu bubur?" tanya Naura saat mencium bau bubur yang berasal dari mangkuk itu.

__ADS_1


"Ya."


"Baiklah."


Ramdan melayangkan suapan lembut ke dalam mulut Naura. Naura menerima suapan itu dan mengunyahnya perlahan. Terasa asin, dan sangat gurih di lidahnya. Sejujurnya, Naura tidak ada selera untuk makan, tetapi ia tetap memakan bubur itu demi perutnya yang terasa lapar.


Meski Ramdan kini tengah berada di dekat Naura, bahkan tengah menyuapi gadis itu, tetapi matanya tidak berani menatap Naura apalagi dengan kedekatan ini.


"Di mana Bunda?" tanya Naura.


"Mereka sedang pergi ke pesantren bersama Abi." jawab Ramdan. Naura mengernyitkan dahinya dengan heran.


"Untuk apa?" tanya Naura.


"Maura, adikmu akan menginap sementara di sana."


Naura hanya mengangguk, lalu terbesit sesuatu di benaknya. "Bagaimana Kau tahu Maura adalah adikku?" tanya Naura heran.


"Aku telah mengenalmu dan keluargamu sejak aku masih dini. Karena aku adalah Bima." gumam Ramdan dalam hati.

__ADS_1


"Karena ... Maura sempat memperkenalkan dirinya padaku." jawab Ramdan setelah terdiam beberapa detik. Naura hanya mengangguk sebagai tanggapan.


"Maafkan, Aku telah berkata bohong padamu. Semoga suatu saat Kau dapat memaafkan Aku dan menerima kenyataan bahwa Bima yang dahulu Kau kenal itu adalah Aku." ucap Ramdan dalam hati. Wajahnya rampak lesu dan merasa bersalah.


__ADS_2