
"Masa sih buat kamu menor? Ya gak apa-apa sih, di mata aku kamu tetep sempurna kok." ujar Dylan seraya tersenyum lebar ke arah Hana.
"Terserah! Hidup gue tuh bukan di hadapan lo doang. Jadi gue gak bakal beli yang warna itu. Jijik gue," balas Hana kesal, kemudian mengalihkan pandangannya untuk memilih warna make up sesuai seleranya.
"Kok beli yang itu, Han? Itu kayaknya cair deh, mending yang ini aja, stik, gak bakal cepet tumpah apalagi luntur di bibir kamu." usul Dylan masih menunjukkan warna lipstik yang tadi, saat melihat Hana yang memegang liptint berwarna merah biasa, tidak gelap dan tidak juga berwarna terang atau cerah.
Hana menghela napasnya kasar. "Dieeeem!" titah Hana dengan penuh penekanan.
Dylan mengangkat kedua alisnya ke atas, "Oke." balasnya.
Hana berjalan pergi dengan kesal. Dylan masih mengikuti langkah gadis itu. Kini mereka telah berdiri di depan meja sang kasir. Hana langsung meletakkan semua belanjaannya di atas meja. Membiarkan sang kasir menghitung biaya perbelanjaan.
Sementara Dylan bersiap mengeluarkan dompetnya dari dalam saku. "Biar aku aja yang bayar." ujar Dylan berusaha menjadi lelaki yang peka. Sedangkan Hana yang mendapat itu, hanya menanggapi dengan memutar bola mata malas.
"Totalnya tiga ratus lima puluh ribu, Mas." ujar sang kasir dengan senyum ramah.
Dylan membulatkan bola matanya sesaat mendengar total biaya beberapa make up kecil yang telah dibeli oleh Hana. Kalau dilihat, hanya ada empat barang yang dibeli oleh Hana, yang antara lain ialah bedak lipat, hand body, krim wajah, dan liptint. Sungguh tidak masuk akal bagi dalam pikiran Dylan.
"Kenapa diem? Lo jadi bayar gak?" tanya Hana menyadarkan Dylan yang masih tampak tercengang.
"Jadi dong," jawab Dylan. Kemudian membuka dompetnya yang terlihat kurus dari luar.
Terlihat di dalam dompet, dua lembar uang lima puluh ribu, serta dua koin uang seribu. Hana yang melihat itu, membuka mulutnya dengan tak percaya. Lalu menggingit bibir bawahnya dan mengalihkan pandangannya malu pada sang kasir. Hana teesenyum masam setelah itu. Sedangkan sang kasir menatap mereka dengan raut wajah bingung.
"Han, aku boleh pinjem uang kamu dulu gak?" tanya Dylan setengah berbisik.
Hana menarik napasnya dan menghelanya panjang, "Buat apa? Udahlah, gue aja yang bayar! Malu-maluin tau gak sih!" balas Hana yang mendelik sebal ke arah Dylan. Dylan hanya tersenyum kecil dan menggaruk tengkuknya.
Hana mengambil uang dalam tas selempang kecilnya, kemudian memberikannya pada sang kasir. Hana lalu mengambil plastik merah muda yang diberikan oleh sang kasir.
__ADS_1
"Terima kasih, Mbak, Mas." ucap sang kasir dengan ramah. Hana dan Dylan hanya menanggapinya dengan senyuman dibuat-buat. Pasalnya, Hana merasa sangat malu, sama seperti Dylan. Mereka berdua kini telah keluar dari toko make up tersebut.
"Han, maafin aku ya." ujar Dylan.
Hana sontak menghentikan langkahnya, "Makanya lain kali jangan sok-sok-an mau bayarin! Lo gak tau apa, harga make up di jaman sekarang?!" balas Hana kesal.
"Gak tau." Dylan menggelang.
"Lo kenapa ngejawab sih?!" tukas Hana.
"Lah, tadi kamu kan, nanya." jawab Dylan apa adanya.
"Gak gitu juga, maksud gue!" tukas Hana sebelum ia kembali melangkahkan kakinya pergi. Dylan masih dengan niatnya mengekori langkah gadis itu.
"Kamu mau ke mana sekarang?" tanya Dylan yang sudah berjalan di samping kanan Hana.
"Kamu nanya?" balas Hana dengan bibir atas yang diangkat dan bibir bawah yang dimajukan. Hana mengikuti sindrom yang sedang trending di dunia maya.
"Itu kan sindrom dari duplikat aku. Kenapa kamu ikutin?" tanya Dylan, namun tak ada jawaban dari Hana.
DIlihatnya, Hana masih tampak kesal dan tidak tidak ingin melihatnya.
"Kita mau ke mana?" tanya Dylan lagi.
"Hah? Apa kata lo? Kita? Lo aja kalee," balas Hana mengangkat sebelah alisnya dan menoleh sekilas. Membuat Dylan tak bisa menjawabnya dan hanya bisa berdeham.
"Oke, kamu mau ke mana?" Dylan meralat pertanyaan itu.
"Pulang lah." jawab Hana tanpa menoleh ke arah lelaki itu.
__ADS_1
"Mau ku antar?" ranya Dylan menawarkan tumpangan.
"Gak usah." jawab Hana cepat.
Kini mereka telah keluar dari mall dan berada di parkiran. Dylan hanya berdian diri di dekat motor miliknya dan memperhatikan Hana yang tengah memesan ojol di tepi jalan.
Hana menoleh ke arah Dylan yang tengah menatap ke arahnya. Jujur, dirinya merasa risih karenanya. Dylan menyunggingkan senyum lebar ke arah Hana, tetapi Hana tak menanggapi dan justru mengalihkan pandangannya ke depan, hamparan jalan raya.
Setelah lima menit menunggu, ojol yang dipesan oleh Hana tak kunjung datang, dua detik kemudian ponsel Hana berdering menandakan ada panggilan suara masuk.
"Halo?"
"Apa? Ojol yang saya pesan dicancel?"
"Lho, kenapa gitu sih? Saya udah nunggu dari tadi,"
"Kalo saya pesan lagi, jadi lama lagi dong nantinya."
"Ya udah."
Hana mengakhiri panggilan suara itu dengan kesal. Bisa-bisanya ojol yang ia pesan dicancel karena urusan mendadak dari sang ojol. Jika ia memesan lagi ojol, maka waktu yang harus ia tunggu semakin lama. Karena ia tahu, susah sekali mencari ojol di sekitar wilayah ini. Entah karena apa.
Hana menoleh ke arah Dylan yang masih setia menatap ke arahnya. Hana jadi merasa heran, mengapa Dylan masih di sana dan tidak pulang.
Di sisi sana, Dylan yang tak tahu apa masalah yang membuat ojol yang dipesan Hana tak kunjung datang, tetapi dirinya paham akan sesuatu. Ojol itu tidak akan datang. Akhirnya, Dylan memilih untuk menaiki motornya. Kini ia telah melajukan motonya ke luar dari halaman parkir. Namun bukan ke arah di mana Hana berdiri.
Sementara Hana yang melihat Dylan pergi bersama motornya, tersenyum masam karena sempat mengira bahwa Dylan akan melajukan motornya ke arah Hana dan mengantarnya pulang. Tetapi perkiraannya salah, Dylan pergi ke arah yang berbeda. Mungkin Dylan akan pulang.
Hana mengedarkan pandangannya menatap layar ponsel miliknya, hendak memesan ojol kembali. Tetapi belum sempat ia memesan, suara telakson motor berhasil mengagetkan dirinya dan langsung menoleh ke arah depan.
__ADS_1
Terlihat Dylan dengan motornya di hadapan Hana. Dylan membuka kaca helm yang menutupi matanya. Tentu saja Hana terkejut dibuatnya. Bukankah Dylan tadi pergi ke arah yang berbeda? Mengapa sekarang dia berada di sini? Apa dia tidak jadi pulang?