
Dret!
Dret!
Maura mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di sana. Kak Amira, kakak kelasnya yang dikenal sebagai wakil ketua Osis di sekolahnya.
"Halo? Assalamualaikum, Kak?"
"Waalaikumussalam. Maaf mengganggu waktumu, Maura. Apa besok ada jadwal ekskul?"
"Sama sekali tidak menggangu. Ekskul dilaksanakan sekitar jam satu siang."
"Oke. Maura, bisakah besok nanti kita berangkat ekskul bareng? Sekalian, ada yang mau Aku bicarakan,"
"Tentu, Kak." balas Maura yang awalnya enggan menyetujui. Tetapi, menolak permintaan orang lain tanpa alasan adalah suatu ketidaksopanan. Dan Maura tidak memiliki alasan. Panggilan suara berakhir setelah salam.
Sejujurnya, alasan Maura hanya satu. Enggan berkunjung ke kelas lain karena dirinya selalu merasa risih diperhatikan sedemikian rupa. Entah bagaimana bisa akhir-akhir ini dirinya menjadi pusat perhatian. Alasan yang tidak layak dijadikan bahan penolakan.
Maura yang sebelumnya sedang asik membaca buku cerita karangan, kembali melanjutkan bacaannya yang sempat tertunda. Namun baru beberapa saat, fokusnya terganggu kembali karena suara notifikasi panggilan yang masuk pada ponselnya.
Panggilan suara dari nomor tidak dikenal.
"Halo?" seru Maura ragu.
"Ha-halo. Assalamualaikum,"
__ADS_1
"Waalaikumussalam. Maaf, ini dengan siapa?"
"A-aku Imran."_ Suara yang terdengar gugup dari seberang sana.
Sontak, Maura langsung membulatkan matanya karena terkejut.
"A-ada apa, Kak?"
"A-aku ingin meminjam buku IPA milikmu. Bukuku hilang kemarin. Em, apa boleh?"
Maura sempat berpikir sejenak. Membuat Imran menunggu di seberang sana.
"Bo-boleh, Kak. Besok."
Panggilan suara berakhir setelah beberapa detik setelahnya. Keduanya enggan memutuskan panggilan terlebih dahulu. Hingga akhirnya Mauralah yang memutuskan panggilannya.
...
"Wow!" Dylan dan Arul menyoraki Imran setelah panggilan suara itu berakhir.
Imran memandangi kedua sahabatnya secara bergantian dengan wajah yang kesal. "Andai aja gue tau rencana kalian sebelumnya, gue gak bakalan ikut permainan ini!" gerutu Imran seraya meletakkan ponselnya di atas meja.
"Tapi Lo tadi beneran so sweet banget Ran! Sama-sama gugup! Ya gak?"
"Bener banget! Gue yakin, Lo gak nyesel untuk panggilan suara kali ini."
__ADS_1
Dylan dan Arul tertawa pecah sembari memegang perut mereka masing-masing. Mungkin agar perut mereka tidak terguncang lebih hebat.
Imran hanya mendengus kesal dan beranjak dari duduknya. Berjalan keluar kamar, "Berisik!"
"Lah, Lo mau ke mana?"
"Ke WC!" ketus Imran dan meninggalkan kamarnya.
"Gue mau ikut ah," ucap Dylan beranjak dari duduknya. Tangannya ditarik oleh Arul.
"Mau ngapain Lo? Curiga gue," tanya Arul yang sudah merasa negatif thinking.
"Apaan emang? Gue cuma pengen mastiin dia gak pake sikat gigi gue. Kan jorok!" ucap Dylan seraya menjitak kening Arul sebagai tanda memberi pelajaran. Dylan mendesah pelan dan melangkah pergi. Sedangkan Arul meringis pelan, memegangi keningnya yang baru saja terkena jitakan, sembari menatap kepergian Dylan yang tampak sedikit kesal padanya.
...****************...
Pengajian telah berakhir. Seluruh santri dan santriawati mulai membubarkan diri dari majlis. Sedangkan Naura menggigit bibir bawahnya, bingung akan sesuatu yang terlintas di benaknya. Apakah dirinya perlu bertemu dengan Ramdan? Untuk meminta maaf, tentunya? Ataukah nanti saja, lagi pula masih banyak waktu untuknya bertemu kembali dengan Ramdan? Tetapi perasaan
"Kamu sedang apa?" tanya Fatimah bersama Shela dan yg lainnya.
"Ti-tidak. Aku ada urusan sebentar." jawab Naura. Ia baru menyadari bahwa akhir-akhir ini, dirinya sering mengucapkan bahasa baku.
"Baiklah. Kami duluan,"
Naura tersenyum simpul seraya menganggukkan kepalanya. Kemudian Fatimah dan yang lainnya berjalan pergi.
__ADS_1