
Terlihat Dylan dengan motornya di hadapan Hana. Dylan membuka kaca helm yang menutupi matanya. Tentu saja Hana terkejut dibuatnya. Bukankah Dylan tadi pergi ke arah yang berbeda? Mengapa sekarang dia berada di sini? Apa dia tidak jadi pulang?
"Lo?"
"Iya, aku. Kenapa?" balas Dylan.
"Bukannya lo tadi pulang ya? Kenapa lo sekarang ada di sini coba?" tanya Hana bingung.
Dylan tersenyum, "ternyata kamu merhatiin aku ya?" goda Dylan yang justru membuat Hana kembali kesal pada lelaki itu.
"Jangan kepedean deh lo!" Hana memutar bola mata kesal.
"Iya. Tadi aku cuma mau bayar parkir aja kok. Aku gak bakal tega liat kamu kepegelan di sini," ujar Dylan.
"Ayo pulang," ajak Dylan menawarkan tumpangan.
Sebenarnya Hana tidak ingin berlama di tempat ini, tetapi dirinya juga tidak yakin sekaligus gengsi pada Dylan.
"Tenang aja, aku bakal nganterin kamu selamat sampai rumah. Janji deh," ujar Dylan yang seakan tahu apa yang ada dalam pikiran Hana.
Enggan menerima tumpangan dari lelaki itu, Hana akhirnya mengangguk dan menaiki motor milik Dylan setelah memakai helm yang disodorkan Dylan padanya. Motor itu pun melaju di jalanan dengan mulus.
Angin yang meniup kencang di sepanjang perjalanan, membuat rambut milik Hana tampak berantakan.
"Jangan ngebut!" ucap Hana menepuk keras pundak Dylan, karena lelaki itu mengendarai motornya dengan cukup cepat. Hana takut kecepatan.
"Iya, sabar. Cewek lagi PMS sangat dianjurkan untuk lebih sabar," balas Dylan.
__ADS_1
"Dari mana lo tau gue lagi ..." ucapan Hana tak bisa ia lanjutkan karena enggan mengulang kata PMS. Ya, namanya juga gadis pemalu atau malu-maluin.
"Aku cuma nebak. Dari tadi kamu emosi terus, bahkan nyaris erupsi." balas Dylan sembari tersenyum geli karena ternyata tebakannya memang benar. Dan Hana kini hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan perasaan malu.
...****************...
Hari sudah semakin sore. Ramdan keluar dari ruangan rawat Naura dan menghampiri kedua orang tuanya.
"Ram, ayo kita pulang dahulu, hari sudah sore. Masih ada keluarga Vero yang menjaga putri mereka. Dan bukankah Kau tidak membawa pakaian ganti?" ujar Bilal pada sang putra.
"Iya, Abi. Baiklah, Ramdan akan ikut pulang." jawab Ramdan sembari tersenyum.
"Ayah juga ingin mengatakan sesuatu hal penting padamu. Dan kita harus membicarakannya di rumah." ujar Bila membuat Ramdan merasa bingung dan tidak memahami apa yang dimaksud oleh sang ayah.
"Abi akan membicarakan apa? Seperti ada yang tidak beres." pikir Ramdan dalam hati.
Setelah Bilal dan Marwah mulai berjalan pergi, Ramdan menoleh ke arah sang kakak. Dan Fatimah memberikan tatapan yang mengisyaratkan ada sesuatu yang memang serius. Entah apa, karena Fatimah segera berjalan menyusul kedua orang tua mereka. Tak bisa berbuat apapun, Ramdan akhirnya ikut melangkah pergi.
Sementara Fatimah, hanya memberikan tatapan yang tak bisa ia katakan. Fatimah menggelengkan kepalanya perlahan, membuat Ramdan semakin merasa kebingungan dan semakin penasaran.
Setibanya di rumah, Bilal langsung mebyuruh anggota keluarganya itu untuk duduk di sofa ruang tamu. Bilal sempat terdiam beberapa saat memikirkan dan mematangkan keputusan yang ia ambil. Tetapi sebelumnya ia akan menanyakan sesuatu hal pada sang putra.
"Sebelum Abi mengatakan sesuatu hal penting, Abi ingin menanyakan hal penting juga." ujar Bilal menatap Ramdan.
"Apa itu, Bi?" tanya Ramdan penasaran. Sementara Marwah dan Fatimah hanya terduduk diam.
"Apa Kau mencintai putri dari keluarga Vero?" pertanyaan Bilal berhasil membuat Ramdan terkejut.
__ADS_1
"Jawab Abi, Ram. Apa Kau mencintai putri dari keluarga Vero, Naura?" tanya Bilal kedua kalinya saat melihat Ramdan hanya terdiam dengan keterkejutannya.
"Mengapa Abi menanyakan hal itu?" tanya balik Ramdan dengan posisi wajah yang sedikit menunduk.
"Karena Abi lihat, Kau dan Naura terlihat dekat. Bahkan sangat dekat. Apa Kau lupa batasan seorang lain muhrim? Apa pernah Abi mengajarkan kedekatan seperti itu?!" balas Bilal yang menatap sang putra tak percaya. Mendapat sedikit gertakan suara dari sang ayah, Ramdan hanya bisa diam dan semakin menundukkan wajahnya. Ia sadar, bahwa ia memang salah. Sedangkan kedua wanita yaitu Marwah dan Fatimah hanya bisa berharap sang Abi tidak lebih tersulut emosi. Berharap semuanya akan berakhir baik -baik saja.
"Katakan, Ram. Apa Abi pernah mengajarkan hal yang telah kau lakukan saat ini? Kau dekat dengan seorang gadis yang bukan muhrimmu. Dan gadis itu adalah seorang putri dari keluarga Vero, keluarga yang selalu Abi hormati, dan telah Abi anggap keluarga sendiri. Tapi apa yang kau lakukan membuat Abi malu melihat keluarga itu." ujar Bilal.
"Maafkan Ramdan, Abi." ujar Ramdan menyesal.
"Apa Kau tahu? Hilman sendiri lah yang mengatakan kedekatan kalian pada Abi. Tidak seharusnya Abi mendengar pernyataan itu dari keluarga mereka. Di mana letak pikirmu, Ram?" Bilal masih menatap sang putra dengan tatapan tak percaya dan tak menyangka.
"Ramdan sadar, Ramdan lah yang salah. Maafkan Ramdan, Abi." ujar Ramdan menyesal sekali lagi. Posisinya masih menundukkan wajah.
"Jadi, Kau benar mencintai putri mereka? Kau mencintai Naura?" pertanyaan dari Bilal yang sudah ke berapa kalinya membuat Ramdan terdiam beberapa saat.
"Ram, katakan pada Abi. Abi hanya ingin tahu tentang perasaan putranya sendiri. Ingatlah, Abi tidak menyukai suatu kebohongan." ujar Bilal merendahkan nada suaranya.
"Iya, Abi. Ramdan mencintai Naura." jawab Ramdan kemudian. Berhasil membuat Bilal sedikit terkejut dan terdiam menatap sang putra yang masih menunduk.
"Baiklah. Abi akan mengambil keputusan. Nikahi Naura secepatnya." ujar Bilal sontak membuat Ramdan mengangkat wajahnya dengan perasaan sangat terkejut.
Sedangkan Marwah dan Fatimah tidak menampakkan rasa terkejut karena mereka telah mengetahuinya sebelum pertemuan keluarga ini. Mereka sempat berbincang sebelumnya di rumah sakit.
"Abi? Apa yang Abi katakan?" lirih Ramdan tak menyangka.
"Ya, putraku. Jika Kau memang benar mencintai Naura, putri dari keluarga Vero, maka Kau harus menikahinya. Dan jika kau tidak mencintainya, maka Kau harus menjauhinya. Itu semua agar tidak menimbulkan fitnah bagimu dan juga bagi dua keluarga. Abi tidak ingin melihat itu terjadi." ujar Bilal.
__ADS_1
Ramdan masih menatap Bilal dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Kau hanya memiliki dua pilihan saja. Beri tahu Abi apabila Kau sudah memilih salah satu pilihan itu." ujar Bilal lagi sebelum akhirnya meninggalkan ruang tamu dan menunju ruang kamar.