Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
29. Restu Kedua


__ADS_3

Flashback off


"Sudah bertahun-tahun diriku menunggu kehadirannya, namun kenyataan tak kunjung datang. Hingga akhirnya aku ternyata masih dapat bertemu dan dipertemukan oleh waktu. Dahulu, aku menunggu temanku untuk kembali bermain bersamaku, tetapi kini temanku datang dengan meninggalkan rasa melebihi rasa pada teman."


"Aku tidak tahu pasti tentang apa yang aku rasakan. Setiap malam, aku selalu bersujud di hadapan Sang pencipta, dan aku menyelipkan namanya dalam ruang doaku."


Ramdan bercerita panjang lebar untuk mengulas cerita dari masa lalunya hingga ke masa sekarang. Rasanya, tak mampu dirinya menutup-nutupi rasa yang tertutup kepada Kakaknya. Sementara Fatimah yang mendengarkan cerita dari adiknya, Fatimah merasa tak percaya dan tak menyangka, tetapi juga bersikap memakluminya.


"Apa Kau mencintainya?" tanya Fatimah.


Ramdan hanya diam tak menjawab. Beberapa saat kemudian, suaranya kembali terbuka. "Entahlah, Kak." jawab Ramdan dengan suara pelan.


"Lalu apa Kau mendapat jawaban dari doa-doamu?" tanya Fatimah membuat Ramdan sontak menatapnya.


Ramdan mengangguk kecil. "Wajahnya selalu hadir dalam mimpiku. Bukan hanya satu kali, tetapi beberapa kali." jawab Ramdan.


Fatimah terdiam dan berfikir sejenak, sampai akhirnya terlintas sebuah keputusan di benaknya.

__ADS_1


"Nikahilah Naura," ucap Fatimah membuat Ramdan sontak sedikit tersentak dan terdiam sembari masih menatap mata sang Kakak.


"Mintalah izin pada keluarganya, serta mintalah restu pada Abi dan Umi. Setelah kau berhasil mendapatkan izin dan restu, halalkan Naura untuk menjadi istrimu."


Ramdan masih terdiam dan netra matanya menunjukkan keraguan dan kegugupan.


"Tenanglah. Restu Kakak menjadi restu kedua dari restu pertama, yaitu dari Allah." ujar Fatimah membuat kedua sudut bibir Ramdan sedikit terangkat.


***


"Halo? Assalamualaikumum, Baron putraku?"


"Bagaimana kabarmu?"


Sesaat kemudian Yuni membalas Baron yang berada di seberang sana.


"Kabar Bunda sangat baik di sini. Oh, iya, bagaiamana Naura di sana? Apa adikmu sudah merasa nyaman di sana? Apakah baik-baik saja?" ujar Yuni sekaligus bertanya terhadap Baron di seberang telepon.

__ADS_1


Suara Baron yang keluar dari speaker ponsel, berusaha memberi tahu kabar dan keadaan sang adik kepada ibundanya. Yuni yang mendengar itu pun tanpa sadar ponselnya terlepas dari genggaman tangan, yang kemudian ponsel itu terjatuh.


Mulutnya sedikit terbuka, ingin mengatakan ketidakpercayaannya namun tak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Sementara Baron yang hanya mendengar suara aneh—suara ponsel terjatuh—segera merasa khawatir dan beberapa kali memanggil nama ibundanya tersebut, tetapi tak ada jawaban. Beberapa saat kemudian, suara tangisan kecil terdengar di telinga Baron, tepatnya suara yang terdengar dari seberang panggilan suara. Sudah tak dapat digambarkan betapa merasa bersalahnya seorang anak yang tidak sengaja membuat ibundanya menangis, bahkan tangisan itu terdengar pilu.


Baron yang tak mampu mendengar tangisan sang ibunda lebih lama lagi, akhirnya mematikan panggilan suara itu dan panggilan itu pun berakhir. Kini Baron mencari salah satu nama dalam kontak ponselnya. Setelah mendapatkannya, Baron langsung memanggil dengan panggilan suara melalui ponselnya.


"Halo Maura? Ini Kakak"


"Waalaikumussalam. Kabar Kakak baik. Tapi kabar Bunda saat ini tidak baik."


Bisa dibayangkan Maura yang bertanya-tanya dan mulai khawatir di seberang sana. Untuk sesaat Baron terdiam menyadari kekhawatiran wanita yang dirinya sayangi. Apa Baron bersalah? Tentu saja tidak. Baron hanya merasa bersalah.


Baron bercerita singkat tenang keadaan Naura saat ini, juga bercerita tentang keadaan Ibunda mereka yang bersedih ketika mendengar kabar Naura. Baron juga mengatakan bahwa dirinya merasa bersalah telah memberikan kabar buruk, terutama tidak bisa menjaga adiknya sendiri di pondok pesantren. Baron menitipkan pesan maaf pada Ibunda dan Ayah mereka.


Di rumah Maura.


"Tidak Kak. Kakak sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini, Kak Naura jatuh sakit karena penyakit yang mengidapnya, tidak ada sangkutpautnya dengan Kakak. In Sya Allah Kak Naura akan segera pulih kembali," ucap Maura membantah pernyataan Kakaknya yang merasa dalang masalah.

__ADS_1


__ADS_2