Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
49. Tanda Bangkit


__ADS_3

"Ma, kalo lagi nangis jangan senyum. Aku tau Mama nangis, jangan coba buat nyembunyiin itu dari aku," balas Imran yang kemudian memeluk erat tubuh ibunya. Kemudian secara perlahan, tangis Arsy tak dapat dibendung. Tangisan itu pun semakin menjadi dan terdengar tak karuan.


"Lain kali, Mama gak perlu lagi ngabisin tenaga Mama bikin pesta buat lelaki gak tau diri itu,"


"Lelaki itu gak pantas buat dapetin ini semua dari Mama,"


"Gak pantas, Ma. Dia gak pantas."


"Aku gak mau liat Mama terus-terusan kayak gini,"


"Aku sayang Mama."


...****************...


Di malam yang sunyi ini, Ramdan tengah merenung di balkon kamarnya. Memutar kembali semua yang perkataan yang sempat Abi katakan.


Apa Kau mencintai putri dari keluarga Vero, Naura?


Karena Abi lihat, Kau dan Naura terlihat dekat. Bahkan sangat dekat. Apa Kau lupa batasan seorang lain muhrim? Apa pernah Abi mengajarkan kedekatan seperti itu?


Apa Abi pernah mengajarkan hal yang telah kau lakukan saat ini? Kau dekat dengan seorang gadis yang bukan muhrimmu. Dan gadis itu adalah seorang putri dari keluarga Vero, keluarga yang selalu Abi hormati, dan telah Abi anggap keluarga sendiri. Tapi apa yang kau lakukan membuat Abi malu melihat dan bertemu keluarga itu.


Ia memejamkan matanya sesaat kala ingatan itu kembali menyadarkan hatinya bahwa perlakuannya sangat tidak pantas. Perlakuannya hanya membuat Abi merasa malu kepada keluarga Vero. Ini semua salahnya.

__ADS_1


Abi akan mengambil keputusan. Nikahi Naura secepatnya.


Jika Kau memang benar mencintai Naura, putri dari keluarga Vero, maka Kau harus menikahinya. Dan jika kau tidak mencintainya, maka Kau harus menjauhinya. Itu semua agar tidak menimbulkan fitnah bagimu dan juga bagi dua keluarga. Abi tidak ingin melihat itu terjadi.


Keputusan dari Abi begitu tiba-tiba. Cukup membuat Ramdan tergoyah dengan kenyataan yang di mana dia seakan harus menikahi Naura. Tapi bukankah hal itu yang diharapkan Ramdan? Menikah dengan Naura? Ya, namun Ramdan tidak pernah menyangka bahwa dirinya kalau akan menikah dengan cara seperti ini. Ramdan mencintai Naura, namun tak ingin seakan dengan paksaan menikah dengan gadis itu. Hal itu di luar rencananya.


Ramdan teringat pilihan yang diberikan oleh Abi padanya.


Kau hanya memiliki dua pilihan saja. Beri tahu Abi apabila Kau sudah memilih salah satu pilihan itu.


Ramdan mengusap wajahnya dengan kasar, menandakan pikirannya tengah kacau, dan perasaanya kalut. Ia merasa dilema dengan dua pilihan itu dari Abinya. Apa yang harus ia pilih? Manakah yang harus ia pilih? Beberapa saat kemudian, perkataan Umi melintas di benaknya.


Jujur saja, Umi merasa sedikit kecewa padamu, Ram. Begitu juga dengan Umi Fatwah di sana. Jangan sampai Kau membuat Umi Fatwah di sana merasa kembali kecewa dengan pilihan yang akan Kau ambil.


Jadikan itu pelajaran. Ingatlah, Abi dan Umi sangat menyayangi kita. Mereka hanya berharap yang terbaik untuk masa depan kita. Seperti yang baru saja dikatakan Umi tadi, jika sekarang Kau membuat mereka kecewa, jangan sampai kau membuat mereka kecewa untuk ke dua kalinya dengan mengambil pilihanmu.


Kita tahu, tak semua rencana manusia itu berhasil, tetapi rencana yang Allah berikan adalah sesuatu yang baik.


Sebaiknya kau tanyakanlah pada hati kecilmu, dan tanyakan pada Sang Pencipta karena Dialah Maha Pemilik segala jawaban.


Ramdan terdiam mengingat nasihat dari Fatimah. Di saat semuanya terasa kacau, sang kakak selalu senantiasa memberikan motivasi yang begitu sangat berpengaruh padanya. Ramdan menghela napasnya panjang dan perlahan. Kemudian beranjak dari kursi yang ia duduki di balkon kamar, lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Ia memutar keran hingga terlihat air yang mengalir. Ia mulai membasuh setiap anggota tubuhnya dari wajah, tangan, kaki, dan sebagainya. Ya, benar sekali, Ramdan tengah mengambil wudhu. Mensucikan diri dan bersiap untuk shalat isya, karena adzan baru saja berkumandang.

__ADS_1


Setelah berwudhu, Ramdan mengampar sajadah berwarna hitam di atas tikar kamarnya. Ia memulai niat dan mengangkat tangannya yang disebut takbiratul ikhram. Bacaan fatihah dan bacaan sunnah-sunnah lain begitu fasih dibacanya. Dengan segenap usaha, hatinya hanya difokuskan pada Sang Pencipta. Hatinya menatap Sang Pencipta dengan khusyu'.


Shalat itu diakhiri dengan dua salam. Mengusap wajahnya pelan sebagai tanda syukur telah selesai menunaikan ibadah shalat isya. Membaca beberapa dzikir dan wiridan seperti yang biasa ia lakukan di setiap sehabis shalat. Kali ini ia menambahkan beberapa dzikir tambahan, seolah merayu Sang Pencipta untuk selalu menjaga jiwa dan hatinya. Juga untuk selalu menjaga orang-orang di sekitarnya.


Setelah selesai membaca dzikiran yang menghabiskan sekitar dua pukuh menit, Ramdan terdiam dengan mata yang dipejamkan. Kemudian ia kembali berdiri dan mendirikan shalat istikharah.


Tak ada yang bisa ia lakukan selain menunaikan shalat istikharah. Menghilangkan keraguan dan rasa bimbang yang tengah melanda hatinya. Hanya kembali kepada Allah, hati dan jiwanya akan baik-baik saja, begitu juga langkahnya.


Beberapa menit kemudian, akhirnya ia telah selesai menunaikan shalat istikharah tersebut. Ia terdiam sejenak, baru lah ia mengangkat kedua tangannya ke atas. Ia berdoa dalam hati dengan mata yang dipejamkan, biarlah hanya hatinya saja yang berkomunikasi dengan Sang Pencipta.


"Ya, Allah. Ampuni dosa-dosaku. Ampuni segala dosa yang telah hamba perbuat. Jangan hukum Abi atas perlakuanku. Jangan hukum Abi dengan rasa malunya. Ampuni dosaku, ya Rabb."


"Jika memang hati ini hanya bertempat pada Naura, maka satukan kami dalam ikatan suci. Hamba mencintai Naura atas rasa cinta yang Engkau berikan. Jika memang hamba ditakdirkan untuk bersamanya, maka hamba akan bersamanya sesuai takdir yang Engkau berikan."


Setetes air mata terjatuh dari matanya yang masih terpejam. Diikuti dengan dua dan tiga tetes air mata yang kini membasahi wajahnya.


"Engkau lah Maha Pengampun lagi Maha Pemberi petunjuk, maka berilah hamba sedikitnya petunjuk dari Mu, ya Rabb."


"Aamiin, ya Rabbal 'alamiin." ucapnya setengah berbisik.


Ramdan menutup doa itu dengan mengusapkan kedua tangan yang diangkat tadi ke permukaan wajah secara perlahan. Air mata di wajah pun ikut terusap. Ramdan menatap kedua telapak tangannya yang tampak basah oleh air mata.


Memaknai air matanya itu dengan makna bahwa dirinya telah bangkit. Karena baginya, menangis di hadapan Tuhan adalah bentuk kebangkitan. Tidak sama halnya dengan tanggapan orang-orang yang memaknai tangisan itu adalah kelemahan. Dan baginya, tangisan kelemahan itu saat kita menangis di hadapan manusia. Namun berbeda dengan menangis di hadapan Tuhan, kita akan senantiasa mendapat motivasi yang sesuangguhnya, dan di situ lah letak kebangkitan kita.

__ADS_1


__ADS_2