
"Baiklah, mari ikut Saya." ujar dokter itu yang mendapat anggukan kecil dari Baron. Baron mulai melangkah dan berjalan mengekori langkah sang dokter.
"Kak," panggil Ramdan dengan suara pelan. Fatimah dapat melihat kecemasan yang teramat pada wajah dan sikap Ramdan. Ramdan tampak gelisah dalam diam, dirinya berulang kali mengucapkan lafadz-lafadz yang sekiranya dapat membuat hatinya merasa tenang.
Fatimah mengusap punggung sang adik dengan perasaan sayang, mencoba memberinya kekuatan akan ketabahan.
***
(Grup Nicknaw Paripurna)
Amira : Assalamualaikum semua... Selamat malam..
Ana : Waalaikumussalam, Kak. Malam juga. Ada apa nih?
Sinta : Waalaikumussalam, Kak. Malam,
Amira : Aku cuma mau ngasih info penting aja, besok sekolah libur ya.. Karena guru-guru ada rapat penting sama ketua Yayasan.
Sinta : Hah, masa sih Kak? Asikkk
Ana : Sudah sekian lama ku menunggu hari itu, dan baru tiba sekarang. Okelah, aku tetap terharuu..
Mellisa : Yess! Libur! Jadi besok aku mau piknik sama gebetan, hahaha
Amel : Kok libur? Padahal aku besok mau ketemuan sama Erza. Kak tolong ubah lagi dong.
Amira : Aduh, gak bisa Mel. Kakak cuma wakil osis, jadi gk megang bagian itu, kecuali ada kegiatan
Amel : Ya udah, kalo gitu adain exskul silat aja Kak
Amira : Exskul silat itu udah dijadwal Mel. Di hari selasa. Sedangkan besok hari kamis.
Sinta : Mel, eh lu bawel banget dah dibilanginnya sama Kak Amira. Ya kalo libur, ya udah libur aja. Gue pengen banget libur soalnya.
Ana : Bentar, Mel kamu ada hubungan apa sama Erza?
Sinta : Bener juga, kalian udah jadian ya? Dari kapan udah berapa lama usia kandungan lu?
Amel: Eh, gue gak hamil ya, Ikan Teri!
Sinta : Hahaha. Maksud gue, usia hubungan lu sama Erza
Amel : Belum lama kok. Baru kemarin. Makanya aku pengen ketemuan, baru juga jadian udah pisah aja kan gak seru deh
Amira : Harus banget ya ketemu?
Amel : Wajib kak :v
Amira : Oh, tapi Kakak gak bisa ngapa-ngapain.
Amel : Ya udah deh, mungkin udah nasibnya kayak gini. Sorry kak.
__ADS_1
Amira : Iya, santai aja.
Ana : Wah lu pake pelet apa Mel?
Amel : Pelet ikan.
Ana : Haha. Dasar Jantung Ikan!
Amel : Sejak kapan ikan berjantung?
Ana : Udah dari tadi. Baru tau ya? Makanya belajar woy! Jangan pacaran mulu dah. Gue bukan ceramah atau apaan, cuma mau ngasih tau kalo pacaran itu dosa! Kayak gue dong gak pacaran.
Amel : Haha! Gue bilangin sama si Jonny baru tau rasa lo. Dasar Si Paling Ustadzah deh ya,
Ana : Eh, jangan. Ustadzah cuma becanda ya.
Sinta : Njs!
Amira : Besok siapa aja yang mau ikutan bimbel? Tempatnya yang biasa, di dekat taman kota.
Hanatasya : Oke. Sekalian deh buat ngilangin kejenuhan.
Siska : Oke Kak, gaskeun!
Sabrina : Ayo deh Mir. Gue ikut.
Ana : Ayo aja. Semoga ketemu guru cakep.
Ana : Biarin :v Lo gak ikut?
Sinta : Seperti biasa, gue mah sibuk. Jadi sorry gak bisa ikut ya.
Ana : Lo mah udah biasa ngeles kayak gitu. Sok sibuk padahal.
Sinta : Hehe. Amel juga sama lah, bukan gue aja.
Amira : Yok. Besok ketemuan aja. Eh, ngomong-ngomong Maura di mana? Biasanya Maura yang selalu semangat kalo diajak bimbel.
Sabrina : Gak tau deh tu. Halo Maura?
Maura : Eh, maaf semua.. Aku cuma menyimak aja tadi. Aku mau izin gak ikut dulu ya. Ada urusan keluarga.
Siska : Urusan apa Ra? Kok tumben, biasanya juga suka main gaskeun aja, haha.
Maura : Hehe iya. Kakak ku lagi ada di rumah sakit. Sekarang aku lagi ada di Bogor. Jadi maaf ya gak bisa ikut bimbel bareng.
Amira : Semoga cepat disembuhkan ya, gak papa kamu gak ikut juga, santai.
Siska : Maafin aku ya. Kirain karena hal yang gak segenting itu.
Sabrina : Semoga kakak kamu segera sembuh.
__ADS_1
Sinta : Yang sabar ya, Ra.
Maura : Aamiin.. Makasih semuanya.. Semoga doa kalian dikabulkan..
Amira : Oke.
...****************...
"Assalamualaikum,"
"Waalaikumussalam" balas Fatimah dan Ramdan secara bersamaan. Terlihat dua keluarga yang baru saja kembali dari kantin. Mereka segera duduk di kursi tunggu.
"Bagaimana keadaan Naura? Apa dokter sudah memeriksanya?" tanya Yuni pada Fatimah dan Ramdan yang duduk di sebelahnya. Ramdan dan Fatimah saling memandang sejenak.
"Sudah, Tante." jawab Fatimah membuat Yuni dan yang lainnya tertegun dan terkejut. Perasaan senang mulai menyelimuti hati Yuni dan juga yang lainnya.
"Baron sudah mewakili keluarganya untuk berbicara sesuatu bersama Dokter mengenai keadaan Naura. Kami pun masih menunggunya," ujar Fatimah.
Yuni hanya menganggapinya dengan mengangguk, kemudian berdoa atas keselamatan Naura dalam hati. Tak terkecuali dengan Hilman yang juga sedikit merasa lega akan hal itu.
"Semoga Allah senantiasa memberi Naura kesehatan dan ketabahan untuk kalian," ucap Bilal yang langsung dibalas dengan senyum tulus dari Hilman dan Yuni.
"Semoga doamu dikabulkan." balas Hilman.
Beberapa menit setelah itu, Baron keluar dari ruangan sang dokter dan menghampiri keluarganya. Kedatangan Baron membuat Semua orang terkesiap dan setelah itu Yuni dan Hilman segera menghampiri putra sulung mereka.
"Bagaimana keadaan adikmu?" tanya Hilman pelan, mendahului Yuni yang berniat mengeluarkan suaranya.
"Naura memiliki penyakit yang cukup serius." jawab Baron. Dalam hitungan detik, orang tuanya seketika seakan melemas. Yuni tampak menggelengkan kepalanya pelan, berusaha tidak mempercayainya.
"Lalu?" tanya Hilman.
"Akan tetapi, gejala yang terjadi pada Naura tidak terlalu parah. Dokter juga memberi tahu bahwa penyakit Naura di level ringan, dan tidak akan terlalu membahayakan nyawanya, juga tidak perlu dioperasi." ujar Baron.
"Naura hanya membutuhkan waktu rawat untuk beberapa hati ke depan. Dokter akan merawatnya dengan beberapa alat dan obat khusus." lanjutnya.
Kini Yuni telah berada dalam dekapan Hilman. Wajahnya menelusup dalam sembari mengalirinya dengan air mata kesedihan.
"Apa Ayah menyetujui Naura untuk dirawat di rumah sakit?" tanya Baron pelan.
"Lakukan apapun agar Naura dapat pulih kembali." jawab Hilman sembari mendekap sang istri lebih erat.
Sementara Maura yang sedari tadi berdiri di samping sang ibunda, ikut memeluk tubuh ibundanya. Kesedihan tak juga dapat dihindari oleh Maura. Sedangkan Baron masih berdiri di posisi nya dengan wajah yang ditundukkan, serta mata yang dipejamkan untuk menahan air mata yang hendak terjatuh.
Berbeda dengan Ramdan, setelah mendengar pernyataan tersebut, dirinya segera melangkah mundur dan menjauh dari kerumunan dua keluarga itu. Tak ada yang menyadari tingkah yang dilakukan Ramdan, namun sang Kakak Fatimah melihat dan menyadari hal itu. Ketika Fatimah hendak melangkahkan kakinya untuk menghampiri Ramdan, pergelangan tangannya tiba-tiba saja digenggam oleh Umi-nya, Marwah.
"Kau akan pergi ke mana, Fatimah putriku?" tanya Marwah. Fatimah hanya menggeleng menanggapinya. Fatimah enggan untuk menceritakan apa yang terjadi pada sang adik. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk mengungkapkan kebenarannya.
"Semoga Kau baik-baik saja, Ram." ucap Fatimah dalam hati sembari menatap punggung sang adik yang telah membalikkan tubuhnya dan pergi, kemudian menghilang.
Di tempat lain, di bagian rumah sakit yang tidak cukup ramai akan orang-orang. Ramdan ingin sekali mengungkapkan kesedihannya, namun dirinya tampak berada di tempat yang tidak tepat.
__ADS_1