Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
44. Kesal


__ADS_3

Sementara di di sebuah mall, Dylan tengah berjalan bersama Hana. Hana berusaha untuk mendahului langkah lelaki itu agar dirinya bisa meninggalkan dan tidak lagi bersama dengan Dylan. Tetapi karena Dylan memang seorang laki-laki yang mampu menyusul langkah Hana dengan kaki jantannya, membuat Hana menyerah dan membiarkan Dylan berjalan di samping kanannya.


"Kamu mau ke mana?" tanya Dylan saat melihat Hana berbelok ke arah kiri. Tepat ke arah sebuah toko yang berada di dalam mall tersebut. Melihat toko, barulah Dylan mengerti.


Sementara Hana hanya melirik sekilas ke arah Dylan, dan tidak menjawab. Hana masih menggerakkan kakinya untuk melangkah ke dalam toko, dan berharap lelaki itu berhenti untuk mengikutinya. Tetapi dugaannya salah. Dylan tetap memilih untuk menyusul dan mengikuti langkah Hana hingga mereka berdua memasuki toko.


Dylan merasa sedikit tercengang saat toko yang dimasukinya bersama Hana adalah toko aksesoris wanita yang tak semuanya dimengerti oleh Dylan.


"Kamu mau beli apa?" tanya Dylan.


"Bisa gak sih lo gak usah banyak tanya? Ya udah pasti gue mau beli aksesoris. Ya kali gue mau beli kue di toko kayak gini?!" balas Hana kesal yang sudah tak tertahankan.

__ADS_1


Dylan menarik wajahnya sedikit ke arah belakang. "Benar juga," ujar Dylan membuat Hana tampak semakin kesal karenanya.


"Hish!" Hana kemudian berjalan pergi mendekati beberapa rak di toko itu. Ia akan memilih apa saja yang akan dibeli.


Di tengah Hana sibuk melihat-lihat produk aksesoris yang tak lain ialah make up atau pengrias wajah. Tiba-tiba suara Dylan mengagetkan Hana dengan sebuah pertanyaan yang masih membuat Hana merasa kesal. Entah sudah sejak kapan Dylan telah berdiri di belakangnya.


"Benda apa itu, Han? Aku lupa namanya."


"Permisi, Mbak. Mohon untuk tidak membuat keributan di toko ya. Karena bisa membuat lengunjung lain tidak nyaman." ujar seorang wanita yang adalah pegawai toko, membuat Hana sontak menoleh dan membungkam mulutnya sendiri. Hana kemudian mengangguk sopan.


"Ya udah, selamat berbelanja, Mbak, Mas." ujar sang pegawai itu kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


Hana membuka bungkaman tangannya dan bernapas lega. Sedangkan Dylan? Tentu saja tertawa pelan, menertawakn Hana yang hampir saja membuat masalah di toko itu. Sontak Hana memukul lengan Dylan dengan cukup keras, berhasil menghentikan tawa itu dan diganti dengan Dylan yang meringis pelan.


"Kenapa lo ketawa, hah?!" tukas Hana dengan nada suara yang dikecilkan, terdengar seperti berbisik.


"Gak apa-apa." jawab Dylan di sela ringisannya.


"Sakit ya? Rasain!" ucap Hana penuh penekanan dan menyunggingkan senyum miringnya, kemudian kembali melihat rak di depannya.


Dylan justru tersenyum dan ikut melihat barang yang serupa dengan barang yang dipegang oleh Hana. Barang itu sebuah lipstik.


"Han, warna yang ini keliatan sangat indah. Kamu beli aja yang ini," ucap Dylan menunjukkan lipstik yang ia ambil dari rak.

__ADS_1


"Lan, lo tau apa sih tentang make up? Liat dong, itu warnanya merah cerah dan sangat cerah. Kalo gue pake itu, gue bakal keliatan menor!" balas Hana tampak sedikit kesal. Sama seperti Amira yang selalu merasa kesal jika sudah bersama dengan Alex, hal itu juga dialami oleh Hana yang selalu merasa kesal saat bersama Dylan. Dan seperti apa yang sempat dikatakan Amira dan Hana, 'mereka udah gila'.


__ADS_2