
Jarum jam yang paling berukuran pendek dari jarum jam lainnya, menunjuk pada angka setengah delapan malam. Bersamaan dengan Baron yang menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya, suara adzan berkumandang dan terdengar bersahutan dari beberapa masjid yang juga mengumandangkan adzan. Setelah mengucap syukur, Baron mengedarkan pandangannya ke arah keluarganya yang tengah duduk di sampingnya.
"Adzan telah berkumandang. Sebaiknya kita pergi bersama ke masjid untuk menunaikan shalat Isya." ujar Bilal.
"Mari," ucap Hilman yang menyetujui.
Hilman dan Bilal beranjak dengan diikuti sanak keluarga yang juga akan menunaikan shalat Isya.
"Fatim, Ayo ke masjid." ajak sang ibunda, Marwah kala melihat Fatimah yang hanya terduduk di kursinya tanpa berniat untuk beranjak dari kursi.
"Em, Aku sedang tidak ... Aku sedang libur, Umi." balas Fatimah dengan suara yang dikecilkan. Meski begitu, telinga Baron masih dapat mendengarnya.
Saat itu, Baron kebetulan hendak melewati Fatimah dan Umi Marwah, tetapi telinganya tidak sengaja mendengar pernyataan tersebut yang membuat Baron seketika menoleh ke arah Fatimah dan Umi Marwah. Baron tampaknya berusaha membungkam tawa yang seakan hampir pecah. Fatimah yang menyadari hal tersebut, merasa sangat malu dan segera mendelikkan bola matanya ke arah Baron. Baron menggeleng cepat dibuatnya, dan kini Baron telah berlalu secepat kilat meninggalkan Fatimah dan Umi Marwah. Marwah hanya terkikik melihat itu, sementara Fatimah mengatupkan bibirnya mengingat hal memalukan tersebut.
"Umi pergi dulu ya, Tante Yuni sepertinya sudah menunggu lama." ucap Marwah.
"Iya, Mi. Hati-hati," balas Fatimah dengan nada yang terdengar lemas, tetapi sudut bibirnya diangkat.
...****************...
Setelah mengucap salam untuk mengakhiri shalat, seperti biasa berdzikir dan berdoa. Mendoakan diri sendiri, orang tua, keluarga, dan saudara - saudara yang beriman. Teruma juga mereka berdoa untuk kesembuhan Naura yang masih tengah berbaring tak sadarkan diri.
"Ya Allah, Ya Tuhanku. Tuhan pemilik segala keselamatan. Berilah kesembuhan untuk Naura agar bisa bersama kami kembali. Maafkan Aku yang tak bisa menjaga adikku sendiri." ujar Baron dalam kidung doa.
"Ya Allah, Jikalau Kau memang merestuiku dengannya, maka dekatkanlah dia dan izinkan Aku bersatu dalam ikatan yang suci di mata-Mu. Jikalau memang dirinya yang terbaik untukku, maka lancarkanlah niat baikku untuknya. Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang pada setiap hamba." ucap Ramdan dalam hati di sudut kidung doanya. Tak terasa setetes air mata telah terjatuh, segera Ramdan menghapusnya.
Ketika Ramdan, Baron, Bilal, dan Hilman berjalan bersama untuk meninggalkan Masjid dan kembali ke rumah sakit, mereka berpapasan dengan Marwah, Yuni, dan Maura yang juga sama tengah berjalan untuk meninggalkan Masjid.
"Eh, kalian belum pergi? Kami kira kalian sudah lebih dahulu pergi." ujar Hilman.
"Tidak, Yah. Kami tadi berbincang sebentar. Kalian sendiri?" balas Yuni yang berbalik bertanya.
__ADS_1
"Ehm, tadi menunggu Ramdan menyelesaikan beberapa doanya yang cukup panjang," jawab Hilman yang ditanggapi dengan godaan dari beberapa di antara mereka.
"Oh, gitu.." balas Marwah yang langsung ditanggapi Ramdan dengan alis yang bertautan. Sedangkan yang lain justru tersenyum melihatnya.
"Kalian sudah mengaji kan?" tanya Marwah kemudian.
"Sudah, Istriku." jawab Bilal berusaha menggoda, yang langsung mendapat deheman dari orang-orang kemudian tertawa bersama. Akan tetapi, mereka semua menyadari bahwa tawa itu terasa begitu hambar. Mereka tertawa hanya untuk mencairkan suasana yang tengah buruk ini, tetapi hasilnya nihil. Mereka justru merasa tertekan sendiri akan senyuman yang dibuat-buat.
"Baiklah, sebaiknya kita pergi ke cafe di dekat sini untuk mengisi perut dahulu. Barulah kita kembali ke rumah sakit." ujar Marwah kemudian setelah beberapa detik suasana kembali terdiam.
"Apa sebaiknya kita makan di kantin rumah sakit saja, agar lebih mudah dan lebih dekat untuk kembali ke ruangan Naura?" tanya Yuni yang cenderung tidak menyetujui. Raut wajahnya kembali murung saat mengingat keadaan Naura sekarang.
Semua orang yang menyadari hal tersebut dari Yuni, seketika ikut teringat pada keadaan Naura sekarang.
"Benar juga. Baiklah, ayo kita pergi." ujar Marwah berusaha mencairkan suasana, dan langsung mendapat angggukan dari semua orang. Kini mereka berlalu meninggalkan Masjid menuju rumah sakit.
Sementara Fatimah yang masih setia terduduk di kursi tunggu, memilih untuk memainkan ponselnya selagi dirinya menunggu kehadiran dua keluarga itu yang masih belum kunjung datang. Saat jemarinya tengah sibuk menggeser layar ponselnya, seseorang tiba-tiba saja duduk di samping Fatimah meskipun dengan sedikit jarak, tetapi tetap membuat Fatimah terlonjak kaget seraya menoleh ke arah seseorang tersebut.
"Astaghfirullah, Kau?" ucap Fatimah.
"Ada apa? Apa Aku tidak boleh duduk di sini?" Baron berbalik tanya.
"Bukan begitu, maksudku. Mengapa Kau membuatku terkejut? Jantungku hampir saja lepas dari tempat asalnya." ucap Fatimah.
Namun justru Baron terkekeh mendengarnya. "Sepertinya membuatmu terkejut adalah hobiku." balas Baron. Sementara Fatimah mendelik ke arahnya.
"Eh, tidak. Maksudku Aku tidak bermaksud mengagetkanmu, Aku hanya ingin duduk saja. Mungkin jantungmu itu yang sedikit bermasalah sehingga mudah kaget." ujar Baron kemudian.
Melihat Fatimah yang semakin membulatkan emosinya, saat ini Baron ingin sekali menampar mulutnya sendiri. Kini Baron hanya bisa meringis pelan dibuatnya.
"Ngomong-ngomong di mana yang lainnya?" tanya Fatimah setelah emosinya sudah sedikit reda.
__ADS_1
"Mereka sedang berada di kantin rumah sakit. Dan adikmu itu sedang berada di dekat sini. Tuh!" jawab Baron sembari menunjuk sosok Ramdan dengan ujung ekor matanya.
Terlihat Ramdan yang tengah duduk menyandar di kursi tunggu yang sedikit jauh dari mereka sembari meminum air mineral dalam botol. Bisa ditebak, mengapa Ramdan menduduki kursi yang berada jauh dari Baron dan Fatimah, karena tentu saja dirinya tidak ingin seakan menjadi nyamuk. Sementara Fatimah menatap sosok sang adik yang masih rela menunggu Naura dari pemeriksaan, meskipun saat ini Ramdan belum memakan apa pun. Dan sepertinya hanya Fatimah yang tahu itu.
"Oh." balas Fatimah yang dibuat singkat dan sengaja dengan sedikit nada penekanan. Berusaha memberi kesan ketus. Pandangannya dialihkan pada layar ponsel.
"Sepertinya mereka juga sedang membicarakan hubungan kita," ucap Baron dengan pandangan yang beredar ke atas.
"Apa maksudmu, hah!?" tanya Fatimah pelan dengan mata yang ditajamkan.
Baron segera tergagap dibuatnya. "Eh, Kau selalu tampak lebih cantik kalau Kau sedang marah, Fatim." ujar Baron terbata-bata. Kini wajah Fatimah mulai memerah dan merona karenanya. Baron kembali tersenyum.
"Selagi masih di rumah sakit, cepat obati wajahmu yang akhir-akhir ini sering memerah tiba-tiba." ucap Baron membuat Fatimah membeku seketika dan wajahnya merah merona dan malu. Fatimah memilih untuk segera beranjak dan berjalan pergi meninggalkan Baron yang mulai terkikik geli melihat tingkahnya.
Langkah Fatimah terhenti kala melihat pintu ruangan rawat Naura dibuka. Baron yang juga sama menyadarinya, segera beranjak dan mendekati. Seorang dokter wanita yang sebelumnya pernah ditemui Baron, dokter itu yang merawat Naura. Dengan perasaan tertegun, Baron dan Fatimah segera lebih mendekat kepada dokter wanita itu.
"Dok, bagaimana keadaan Naura? Apa pemeriksaannya sudah selesai? Apakah adikku baik-baik saja?" tanya Baron bertubi-tubi. Bersamaan dengan itu, Ramdan menghampiri mereka.
"Ya. Pemeriksaan kepada pasien Naura telah selesai. Dan Saya meminta pihak keluarganya untuk berbicara perihal itu." ujar dokter itu.
Sejenak, Baron, Ramdan dan Fatimah terdiam karena menyadari bahwa orang tuanya, Hilman dan Yuni mungkin masih berada di kantin.
"Mengapa tidak langsung saja membicarakannya di sini, Dok?" tanya Ramdan tak sabaran.
Dokter itu tampak menghela napasnya pelan. "Karena penyakit Naura bisa dibilang serius. Saya sebagai Dokter di rumah sakit ini adalah penanggung jawab setiap pasien, dan penyakit yang dialami setiap pasien harus bersifat privat. Itu sudah menjadi kewajiban Saya." ujar dikter itu.
"Serius?" ulang Ramdan.
"Maaf, Saya tidak bisa menjelaskannya lebih lanjut. Saya hanya perlu berbicara dengan sanak keluarganya saja." balas dokter itu.
"Bukankah tadi Anda yang mengaku sebagai Kakak dari Naura?" tanya dokter itu kala menyadari dan mengingat pertemuannya dengan Baron beberapa saat lalu.
__ADS_1
Baron memandang Fatimah dan Ramdan secara bergantian, kemudian mengangguk kepada dokter itu. "Iya, Dok. Saya Kakak dari adik saya, Naura." jawab Baron.
"Baiklah, mari ikut Saya."