Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
21. Apa itu Cinta?


__ADS_3

Naura habiskan sepanjang hari-harinya dengan pergi ke dapur dan majlis untuk mengaji. Mau tak mau, peraturan pondok harus ia patuhi. sore ini pun ia pergi ke dalam dapur kembali untuk kegiatan yang selalu dilakukan setiap wanita. Belajar memasak.


"Huh, panas sekali di sini. Aku bisa mati" Naura berjalan keluar dari dapur karena dirasanya lelah dengan suasana yang cukup tertutup dan penuh dengan asap masakan yang membuatnya ingin meledak.


"kau akan pergi kemana, Naura?" tanya seseorang yang melihat Naura berlalu. Naura tak tahu siapa, karena sedari tadi, matanya sibuk mencari tempat untuk beristirahat dan sempat tak memedulikan orang itu, Naura tak menjawab.


Naura berhenti di depan ladang padi yang berada di sebelah pondok. Ia memandang keluasan langit yang bisa ia pandang sepuasnya. Angin nya begitu sejuk saat di senja hari ini.


"Mungkin ini adalah tempat yang tepat untukku bersandar sejenak."


Naura duduk di atas batu yang cukup besar dan bulat di sebelahnya. Barulah ia bisa merasakan sedikit ketenangan dari penatnya hari yang begitu terasa panjang ini.


Pikirannya kembali melayang. Tiba-tiba bayangan keluarganya hadir dalam pikirannya. rindu tak dapat dibohongi olehnya.


Naura masih terbilang belum mengenal pondok, maka Naura akan merasa masih sendiri walaupun banyak orang yang ingin berteman dengannya.


Setitik air mata menetes dari sudut matanya. Beberapa pertanyaan pun mengiringi giliran air mata yang terjatuh itu. Pertanyaan yang mana akan selalu ia tanyakan dan tak ada yang bisa menjawabnya.


"Mengapa Ayah harus memasukkan Aku ke tempat ini?"


"Untuk apa?"


"Apa aku tidak bisa hidup bersama kalian? bahagia bersama kalian? Aku akan berubah walau di rumah"


"Memangnya kebahagiaan apa yang akan aku dapatkan setelah dari sini?"


Pletak!


Naura melempar kaleng kosong dengan sembarang yang alhasil mengenai seseorang di belakangnya. Karena kesal, Naura akan menghantamkan ataupun melemparkan benda apa saja yang ada di sekitarnya tanpa memikirkan akan terbang kemana setelah dilemparkan.

__ADS_1


"Hey, wanita di sana! Apa kau tidak punya mata?"


Itu adalah Udin. Udin terlihat kesal dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Sedangkan Naura hanya menoleh sesaat.


"Ma-maafkan Aku, Aku tidak sengaja. Aku hanya ingin melempar batu saja, tapi--"


"Ah, sudah-sudah. Baiklah Aku maafkan. Beruntung kepalaku ini tidak seperti balon yang akan langsung pecah karena terkena lemparan batu darimu. Huh," ucap Udin pasrah dan berlalu.


**


Kini sudah hampir satu pekan Naura tinggal di tempat barunya, pesantren. Rasanya tidak begitu hampa karena dirinya merasa masih bersama keluarga, meskipun tak sebenarnya keluarga. Naura mulai merasa bersyukur masih dapat dipertemukan dengan orang-orang baik. Ia tidak menyangka bahwa dirinya sudah tidak lagi merasa asing pada tempat yang berbau pesantren.


"Naura, Kamu terlihat sudah mulai nyaman di sini. Kakak senang." ucap Fatimah pada Naura yang tengah membereskan mukenanya.


Naura tersenyum, "Ini semua berkat dirimu dan orang-orang baik di sini. Terima kasih."


"Naura. Sepertinya Kakak meninggalkan sesuatu di kamarmu. Kamu duluan saja. Kakak akan menyusul. Maafkan Kakak."


"Tak apa, Kak. Pergilah. Aku akan berjalan sendiri."


Fatimah hanya tersenyum tipis. Kemudian Fatimah berbalik arah dan berjalan dengan sedikit tergesa. Sedang Naura melanjutkan langkahnya menuju dapur.


Ramdan berjalan dari arah samping kanan dari jalan Naura. Hingga akhirnya mereka berpapasan dan bertemu. Keduanya berhenti melangkah dan terdiam, lalu bertingkah kikuk. Tak tahu harus memulai percakapan dari mana.


"Assalamualaikum," ucap Naura pada akhirnya.


"Waalaikumusalam. Ehm, mau ke mana?" balas Ramdan.


"Aku mau ke dapur. Kau sendiri?"

__ADS_1


"Oh, mari pergi bersama. Kebetulan Aku mau pulang." Ramdan mulai melangkah setelah Naura mengangguk dan berjalan lebih dulu.


Di perjalanan, keduanya sama-sama diam tanpa suara. Keadaan hening menjadikan keduanya merasa gugup.


"Sudah nyaman tinggal di pesantren?" tanya Ramdan mencairkan suasana.


"Ehm, sepertinya." Naura mengangguk.


Setelah itu, Ramdan hanya mengangguk paham. Dan keadaan kembali hening. Keduanya tidak tahu harus memulai percakapan apa dan seperti apa. Gugup.


"Ram. Apa Aku boleh menanyakan sesuatu?" ucap Naura memberanikan diri.


"Ya? Tentu."


"Apa itu cinta?"


Pertanyaan Naura berhasil membuat Ramdan menoleh ke arahnya tanpa menghentikan perjalanan mereka.


"Menurutku, cinta adalah sebuah rasa indah. Dan keindahan cinta didapatkan dari ketulusan dan perjuangan." Ramdan tersenyum tipis.


"Apa cinta itu abadi?"


"Ya. Cinta itu abadi. Dan jika cinta itu usai pada akhirnya, berarti keabadian cinta bukanlah milik kita."


Naura hanya terdiam memahami perkataan Ramdan.


"Apa Kau memiliki cinta untuk seseorang?" tanya Naura membuat Ramdan terdiam.


.

__ADS_1


__ADS_2