
"Gak mungkin! Walaupun gue bandel, tapi gue gak pernah lakuin hal yang paling menjijikan itu"
"Ah, kenapa pikiran gue kemana-mana sih?" Naura mengacak-acak rambutnya.
Tok tok tok
Non!
Non Naura udah bangun?
"Iya! Gue udah bangun!" Teriaknya menyahut.
Kalo begitu, silakan ke bawah! Non Naura lagi ditunggu sarapan sama Bapak dan Ibu!
Hoek
Tiba-tiba perutnya sedikit mual.
"Mbak! Bilangin aja, gue gak mau makan! Gak nafsu!"
Naura segera berlari menuju kamar mandi.
**
Seperti biasa, pagi ini, Ramdan menunaikan shalat dhuha sebelum mengikuti pengajian bersama sang ayah, Bilal di majlis.
"Assalamu'alaikum warohmatullah"
Mengucap salam dua kali, kepundak kanan dan pundak kiri, tanda mengakhiri. Setelah itu, membaca doa dhuha, dibacanya pelan namun khusyu. Tak lupa juga membaca beberapa doa lainnya yang menjadi pelengkap sujudnya.
Akhirnya ia selesai dan segera bangkit dari simpuhnya. Setelah ia mengambil Al-kitab, ia melihat Jadir yang tengah mengintip kamar sebelah. Melihat itu, Ramdan pun menghampirinya.
"Dir?" Panggilnya yang membuat Jadir tersentak dan kaget.
"Astaghfirullahal 'adzim. Kakak mengagetkanku saja" Jadir mengelus dadanya.
Jadir, salah satu ikhwan yang baru saja masuk pesantren beberapa hari yang lalu. Umurnya sekitar delapan tahun.
"Kau sedang apa?" Tanya Ramdan menelaah.
"Aku sedang melihat itu!" Jadir mengarahkan jari telunjuknya ke dalam kamar. Mata Ramdan mengikuti arahannya. Dan Ramdan terlihat mengernyitkan dahi.
"Kak Umar?" Jadir hanya menjawab dengan anggukan polosnya.
Ramdan berjongkok. Membuat Jadir tidak sulit melihatnya. Karena Jadir harus menengadahkan kepalanya saat memandang Ramdan yang tubuhnya lebih tinggi darinya.
"Tidak baik memperhatikan orang yang sedang shalat!" Ujarnya.
"Kenapa?"
"Karena kita bisa saja mengganggunya. Shalat yang awalnya khusyu, akhirnya menjadi tidak khusyu lagi. Karena kita membuatnya risih. Kau mengerti?"
Jadir hanya menggangguk paham.
"Maafkan aku Kak. Aku bukan hanya memperhatikan Kak Umar saja, tapi semua kamar ku intip. Termasuk kamar Kakak yang tadi ku lihat, Kakak sedang shalat" Sesalnya.
"Untuk apa?" Tanya Ramdan tak mengerti.
__ADS_1
"Aku baru pertama kali menuntut ilmu. Dan aku pun baru melihat orang-orang yang sedang shalat di jam segini. Aku hanya ingin memastikan apa yang sedang kalian lakukan?" Tuturnya polos.
Ramdan tersenyum. "Kami melakukan shalat pagi, yang bernama dhuha"
Jadir mengangguk paham.
"Apakah shalat dhuha berbeda-beda?"
Ramdan dibuat terkekeh geli.
"Tentu saja tidak. Memangnya kenapa?"
"Sejak tadi pagi, aku mengintip kamar demi kamar. Yang ku amati, shalat Kak Umar itu mengapa berbeda dengan yang lainnya?"
"Berbeda?" Ramdan tak mengerti.
"Yang ku lihat, dia shalat dua rakaat, namun dia memakai doa di rakaat terakhirnya. Namanya-- Hm--"
"Doa qunut?"
"Ah, iya. Aku lupa. Itulah namanya"
Ramdan terkejut dan sedikit membulatkan bola matanya. Kemudian ia berpikir.
"Jadi dia shalat apa Kak?"
"Eh, ada apa ini?" Umar terkejut dan nampak kikuk saat ia tahu, Ramdan dan Jadir berdiri tepat di depan pintu yang ia buka.
"Jika Kak Ramdan diam saja, tidak menjawab. Maka, aku sendiri yang akan menanyakan langsung padanya" Jadir melihat Ramdan, kemudian melihat Umar.
"Menanyakan apa?" Tanya Umar menegang.
Glek..
Umar menelan saliva nya perlahan. Lalu ia mengarahkan matanya pada Ramdan. Umar nampak gelagapan saat mata Ramdan menatapnya dengan tajam.
"Jadi, kau tidak berjamaah?"
"Dan tadi, kau menunaikan shalat subuh yang tertinggal?" Umar hanya cengengesan menanggapi pertanyaan dari Ramdan.
"Hah?" Mulut Jadir terbuka besar. Kemudian ia tertawa terbahak-bahak. Sedang Ramdan hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Matahari telah berada sekitar 140° dari arah timur. Dan kini, Hilman, Yuni, dan Maura tengah bersiap untuk mengantar Naura ke pesantren. Sedang Naura, kini justru melamun di balkon kamarnya. Walaupun gamis dan hijabnya sudah ia kenakan rapi di tubuhnya.
Naura memandang setiap sudut kota. Ia mengenang setiap kebahagiaan di kota yang akan ditinggalnya.
Ia menggenggam kalung liontin merah di lehernya.
Lo jaga baik-baik ya. Mungkin hanya ini kenangan terakhir dari gue. Kalo lo kangen gue, anggep aja gue ada dalam liontin ini
Setelah ini, gue bakal kangen banget sama lo. Dan gue bakal nunggu waktu sampai waktu itu menentukan kita bertiga untuk bertemu kembali. Dan persahabatan kita utuh kembali
Dan ingat pesan dari gue. Jangan pernah lupain gue dan persahabatan.
Tiba-tiba, air mata lolos dari pelupuk matanya. Kemudian mengalir begitu saja membasahi pipi. Ia menangis dalam kesunyian.
__ADS_1
Sampai akhirnya, terdengar Maura memasuki kamarnya.
"Kak?" Panggil Maura pelan.
"Kita akan segera berangkat. Apa Kakak udah siap?"
"Hm. Kakak nanti menyusul" Jawabnya tanpa membalikkan tubuh.
Maura hanya mengangguk pelan. Ia segera berlalu keluar kamar. Tanpa melihat wajah sang kakak yang lembab karena air mata.
Naura menghapus air mata di pipinya. Dan berjalan mengambil Handphone genggamnya yang berada di atas laci. Ketika ia berjalan kearah pintu, tak sengaja ia melihat bayangannya di cermin besar. Ia menghentikan langkahnya dan mengarahkan tubuhnya di depan cermin itu.
Wajahnya terlihat sangat cantik dengan polesan make up tipis dan balutan hijab panjang berwarna mocca. Serta seluruh tubuhnya tertutup helaian gamis yang membuatnya terlihat anggun.
Namun hal itu tak membuatnya bangga. Di matanya, kecantikan hanya lukisan mata. Wanita cantik, sudah berpasar di setiap sudut dunia. Lalu siapa yang harus merasa paling cantik, sedangkan kecantikannya setara dengan wanita lainnya.
Naura menghela napas panjang. Seakan siap untuk apa yang akan terjadi. Kemudian berlalu dan menuruni anak tangga. Hingga kini ia tiba di depan pintu utama. Terlihat sang ayah, bunda dan adiknya yang tengah menunggunya di dalam mobil.
Sekali lagi, ia menarik napas panjang dan menghelanya. Dan setitik air matanya terjatuh. Namun segera ia hapus kemudian menekadkan kakinya untuk melangkah.
Jujur saja, kakinya seakan berat untuk melangkah. Ia tahu, mungkin ini yang terbaik. Namun belum tentu ia merasa baik. Jika bukan karena paksaan sang ayah, mungkin pesantren tidak akan pernah ia tempati.
Kini, mobil telah melaju. Untuk mengantarkan seorang gadis ke penjara suci. Dengan ribuan doa dan harapan yang terbaik untuk setelahnya. Sepanjang perjalanan yang cukup jauh, rasa ikhlas dan pasrah mengisi perjalanan panjang tersebut. Tak lupa juga air mata tanpa tangisan di setiap detiknya untuk melepaskan semuanya.
..'8'..
Tokoh mana yang bikin greget menurut kalian?
__
🐾Naura Verona, si bandel dan egois?
🐾Maura Veronia, si kalem dan tertutup?
🐾Baron Alvero, si nakal fi sabilillah?
(Nakal di jalan Allah>.<)
🐾Ramdan Albakri, si acuh dan penghafal yang rajin?
🐾Mirsha Mahesha, si paling peduli dan solid?
🐾Gehna Fyiaro, si bestie namun si ambisi?
🐾Hilman Daus Vero, si dingin dan pemarah?
🐾Yuni Ashita, si lembut dan penyayang?
🐾Fatimah Albakrina, si jutek dan pemalu?
🐾Ghoria Al Imran, si paling manis satu sekolah?
🐾Very Avberja, si play boy dan si bikes?
🐲Oke, itu hak kalian..
Kalo udah komen, jangan lupa kasih saran berarti ya..
__ADS_1
Moga aku akan balas secepatnya..