
Selepas shalat istikharah, Ramdan membaringkan tubuhnya di atas kasur ranjang. Membaca doa dan mulai memejamkan matanya. Selang beberapa detik, ia tertidur. Kini dirinya menyelami alam mimpi.
Di sebuah jalanan yang sangat sepi di malam hari. Hanya ada dirinya seorang di sana dengan payung yang berada di atasnya, menutupi semua bagian tubuhnya dari air hujan yang tengah turun dengan cukup deras. Ia membalikkan tubuhnya saat mendengar langkah seseorang di belakangnya.
Seorang gadis berparas anggun dengan pakaian muslimah. Gadis itu tampak basah kuyup oleh guyuran air hujan. Ramdan segera melangkah dan mendekati gadis itu. Memberi sedikit bagian payung di atas tubuh gadis itu. Kini air hujan tak lagi membasahi gadis itu. Keduanya tertutupi payung di satu payung yang sama.
"Naura, aku mencintaimu." ucap Ramdan pada gadis itu.
"Maka nikahilah aku," balas Naura, gadis bersama Ramdan.
...****************...
Selepas shalat, Maura terduduk di kursi sofa. Dirinya masih berada di ruangan kamar rawat sang kakak, Naura. Selagi dirinya menunggu Baron memanggilnya untuk pulang ke pondok, Maura menghidupkan layar ponselnya dan mendapati banyak notifikasi pesan masuk. Ia lupa mengecek ponsel sedari siang tadi. Baru beberapa jam saja, pesan baru sudah hampir memenuhi memori ponselnya.
Maura mendengus pelan kala menyadari pesan yang tak terkira jumlahnya, ialah dari grup teman sekolahnya yang memang sering ramai dengan obrolan di luar lingkup sekolah. Wajar saja, karena nama grupnya pun adalah Grup Nicknaw Paripurna, di mana semua pesertanya pun tak kalah paripurna dengan obrolan mereka masing-masing. Ditambah, semua peserta dalam grup itu pun hanya kaum perempuan, jadi lebih khusuk dibanding dengan obrolan kaum laki-laki.
Entah siapa yang memberi nama grup itu, tetapi seingat Maura mereka semua setuju dengan nama tersebut. Entah mengapa dirinya juga masuk ke dalam grup itu, padahal Maura sejujurnya merasa risih karena obrolan mereka yang sering menyangkut pautkan namanya dalam topik mereka. Kali ini ia kembali berharap seperti sebelumnya, berharap obrolan mereka termasuk obrolan yang sehat. Intinya tidak ada yang menimbulkan isue apalagi tentang namanya.
(Grup Nicknaw Paripurna)
Shiva : Selamat malam kakak-kakak semua.. Mau nanya, besok sekolah ya?
Siti : Iya dong Shiv. Besok kan hati senin.
Shiva : Oh, kirain hari jumat. Makasih kak.
Siti : Hah? Jauh banget kamu lupanya. Dari senin ke jumat. Laa ilaa ha ilallah,
Shiva : Aduh, kok muji si?
Mellisa : lo udah pantes ditahlil-in, Shiv.
Ana : Astaghfirullah, Mell. Astaghfirullah Shiv. Kalian gak boleh kayak gitu..
Shiva : Apa salahku??
Ana : Shiv, kita itu harus senantiasa menjalani kehidupan sekolah karena Allah telah memberi kita kenikmatan yang tiada tara..
Mellisa : Siap ustadzah! Si paling Ustadzah deh lo! Biasanya juga lo yang suka berdosa sama pacar simpanan lo itu,
Ana : Ngiri bae lo. Diem napa. Aku kan pengen tobat, kalo masalah maksiat, gak papa yang penting abis tuh tobat haha,
Sabrina : Astaghfirullah, Na. Kamu gak boleh kayak gitu.. Tobat itu harus ikhlas napa?
Ana : Hehe iya, Kak.
Amel : Hey, rame-reme gini aya naon?
Mellisa : aya itu artinya ada. Kalo naon itu artinya apa?
Amel : iya.
__ADS_1
Mellisa : Hah? Kok iya? Oh, naon itu artinya iya? Berarti ada iya? Kok gak nyambung?
Amel : Hah? Aku kira kamu bilang naon itu apa, dan aku jawab iya dong karena naon itu apa.
Mellisa : Hah?
Amel : Heh-hoh.
Ana : Hah-heh-hoh.
Mellisa : Apanya yang apa?
Amel : Naonnya yang apa.
Mellisa : Huh, to the point deh, naon itu apa?
Amel : Kamu nanya?
Mellisa : Kalo di aplikasi chat ini ada fitur cubit ginjal, pasti udah ku lakuin.
Ana : Setuju!
Mellisa : Apa sih lo? Nyambung bae kek kabel gak putus.
Ana : iya, karena kalo kabelnya putus berarti gak nyambung.
Mellisa : Naon itu apa?
Mellisa : Gue serius Lonceng Pesek!
Amel : Ya gue juga serius kali, Koran Lecek!
Amel : Oke, naon itu artinya apa, Mell. Naon sama dengan apa dalam bahasa Indonesia. Udah paham?
Mellisa : Ooooh, bilang kek dari tadi napa? Susah banget ngongngnya.
Amel : Kalo di aplikasi chat ini ada fitur cubit ginjal, pasti udah ku lakuin.
Mellisa : Dih, nyalin!
Maura : Assalamualaikum, semua. Gimana tadi bimbingan belajarnya? Lancar?
Amira : Alhamdulillah lancar. Kamu udah pulang?
Sinta : Lancar Ra. Hamdalah.
Maura : Alhamdulillah, aku belum pulang Kak. Kayaknya malam ini.
Amira : Oke, hati-hati di jalan, ya. Besok aku ke rumah kamu, kita jalan bareng.
Maura : Oke kak. Aku tunggu ya,
__ADS_1
...----------------...
Maura menghela napas lega karena sedari tadi ia membaca pesan dalam grup, tidak ada namanya. Bersamaan dengan Maura yang memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang miliknya, Kakaknya, Baron tiba dan menghampirinya.
"Assalamualaikum," ucap Baron memasuki ruangan rawat Naura.
"Waalaikumussalam." balas Maura disusul oleh balasan salam dari kedua orang tuanya yang masih di dalam sana.
"Maura, ayo pulang." ajak Baron lembut.
Maura enggan membalasnya, ia justru menoleh dan menatap kedua orang tuanya.
"Pulang lah sayang, kamu kan sekolah. Gak baik kalo kamu gak sekolah karena masih di sini. Di sini ada Ayah sama Bunda. Kamu gak papa kan dua hari ini ditinggal di rumah?" ujar Yuni mendekati Maura dan mengelus puncak kepalanya.
Maura tersenyum pada akhirnya dan mengangguk. "Gak papa, Bun. DI rumah juga Maura gak sendiri,"
Yuni dan Hilman tersenyum, "Ya udah, hati-hati di jalan. Jaga kesehatan kamu," ujar Hilman. Dan Maura hanya mengangguk.
"Hati-hati di jalan adik kesayangan Kakak," ujar Naura tiba-tiba membuat semuanya menoleh, karena sebelumnya ia tertidur.
"Kakak udah bangun?" Maura mendekat.
"Kakak semoga lekas membaik," Maura mengecup salam dengan senyumnya.
"Jangan khawatirin Kakak, kakak udah sembuh kok. Cuma tinggal dirawat aja dua hari lagi, setelah itu Kakak bisa pulang. Ya kan Bun?" ujar Naura. Dan Yuni hanya tersenyum dan mengangguk.
Kemudian Maura mengecup salam kepada kedua orang tuanya. Disusul juga oleh Baron yang mengecup salam.
Maura tersenyum ke arah mereka dan melambaikan tangannya kemudian berjalan keluar bersama Kakak laki-lakinya, Baron.
"Assalamualikum,"
"Baron, jaga adikmu baik-baik. Jangan terlalu mengebut di jalan," seru Yuni sebelum akhirnya mereka keluar.
"Iya, Bun."
......................
Perjalanan pulang itu pun menghabiskan waktu dua jam. Kini mereka tiba dan Baron langsung memarkirkan mobil yang menjadi alat transfortasi mereka. Keduanya menuruni mobil.
Baron menatap ruamh besar itu dengan tatapan tak menduga bahwa dirinya akan kembali lagi ke rumah ini setelah sekian waktu dirinya tidak pulang.
"Alhamdulillah, kita telah tiba."
Maura justru terkekeh kecil. "Kak, aku heran deh, kenapa bahasa di sana pakai bahasa baku?" tanya Maura membuat Baron berpikir sejenak.
"Entah," balas Baron saat tak menemukan jawaban dalam pikirannya.
Kedua kakak dan adik itu pun masuk ke dalam rumah. Disambut oleh asisten rumah tangga yang menghampiri mereka. Asisten itu menyiapkan minuman di atas meja. Setelah duduk dan berbincang sedikit sembari meminum minuman mereka, sebagai pelepas lelah sekaligus pelepas rindu dan mengulang masa dahulu mereka di rumah, sebelum Baron memberangkatkan diri ke pondok pesantren.
Sekian menit kemudian, mereka memasuki kamar mereka masing-masing karena malam sudah semakin larut. Baron terkesiap dengan kamar yang mengingatkannya kembali pada masa dahulu. Baron tersenyum lebar, kemudian membersihkan badannya dan bersiap untuk tidur.
__ADS_1