
Yuni menatap keduanya dengan sudut bibir yang sedikit diangkat. Kemudian berjalan keluar dari ruangan rawat Naura.
"Ram, Aku menginginkan makanan itu. Nampaknya begitu lezat."
"Tapi itu tidak cocok untuk kesehatanmu. Sebaiknya pesan makanan hijau saja."
"Kau ini sangat menyebalkan,"
"Sama seperti Kakakmu kepada Kakakku."
"Ya."
......................
Yuni menutup pintu dan berbalik, mendapati Hilman yang tengah duduk di kursi tunggu bersama Baron, Fatimah dan Maura di sana. Yuni mendekat.
"Bagaimana keadaan Naura? Apa dia sudah makan?" tanya Hilman.
"Naura sedang memesan makanannya. Ayah tak usah khawatir." jawab Yuni.
"Bunda ingin mengatakan sesuatu hal penting bersama Ayah." ujar Yuni kemudian.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Hilman bingung.
Yuni hanya diam dan tak bisa menjawabnya. Tak butuh waktu lama untuk memahaminya, Hilman beranjak dari kursi dan berjalan pergi bersama Yuni. Sementara Fatimah yang tidak sengaja mendengar dan menyadari hal itu, menatap pintu ruangan Naura.
Fatimah memilih untuk beranjak dan berjalan mendekati pintu tanpa berniat masuk. Matanya melihat kedekatan Ramdan dan Naura saat ini dari balik kaca pintu berukuran kecil dan sedikit panjang.
Fatimah menghela napasnya perlahan dan kemudian membalikkan tubuhnya hendak kembali. Namun naasnya, dirinya terkejut melihat Baron yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya, entah sejak kapan Baron telah berdiri di belakangnya. Fatimah membungkam mulutnya sendiri yang sempat berteriak terkejut.
"Bisa tidak, Kau sekali saja tidak mengejutkanku?" bisik Fatimah seraya melihat sekeliling, ia merasa takut ada yang terganggu oleh suara terkejutnya. Seperti kesalahan sebelumnya.
"Bisa tidak, Kau jangan berteriak sekencang itu? Telingaku hampir saja rusak karenamu." balas Baron tak mau kalah.
"Dan Kau hampir merusak jantung dan organ lain dalam tubuhku!" tukas Fatimah kemudian berlalu meninggalkan Baron dengan rasa kesalnya.
"Apa yang mau Bunda bicarakan?" tanya Hilman menatap sang istri.
"Naura." jawab Yuni membuat Hilman tampak kebingungan.
"Memangnya apa yang terjadi pada putri kita? Apa penyakitnya--" ucapan Hilman terpotong oleh Yuni.
"Tsutt.. Bukan itu. Naura udah baikan. Penyakitnya itu ringan, semuanya insya Allah akan dimudahkan." ujar Yuni berusaha menghilangkan kepanikan sang suami.
__ADS_1
"Lalu apa yang mau Bunda bicarakan tentang Naura?" tanya Hilman lagi.
"Apa Ayah menyadari kedekatan Naura dan Ramdan?" tanya Yuni setelah terdiam beberapa detik.
Hilman tampak mencerna apa yang dikatakan sang istri, dan mengingat beberapa saat yang lalu.
"Ya. Mereka memang terlihat dekat."
"Bahkan sangat dekat." sambung Yuni.
"Apa maksud Bunda?" tanya Hilman tak mengerti.
"Mereka sangat dekat, seperti menyimpan suatu perasaan yang tersembunyi. Tidak hanya hati, tetapi juga sikap. Ramdan menunjukkan perasaannya lewat sikap yang ia tunjukkan. Perhatian, kekhawatiran, dan menurut Bunda itu sangat berlebihan."
"Tidak seharusnya kita membiarkan putri kita berdekatan dengan selain mahramnya." lanjut Yuni.
"Apa maksud Bunda adalah ..."
"Menjadikan Ramdan mahramnya. Itulah yang sebaiknya terjadi kalau memang mereka saling mencintai." ujar Yuni membuat Hilman tertegun dan berpikir akan hal tersebut.
"Agar terjauh dari fitnah dan kesalahfahaman kita semua. Ayah harus memikirkannya, dan mengambil sebuah keputusan terbaik." ujar Yuni kemudian.
__ADS_1
Hilman masih terdiam dan berpikir atas apa yang telah dikatakan Yuni mungkin memanglah benar. Lebih baik dekat dengan ikatan, daripada dekat tanpa sebuah ikatan yang akhirnya akan menjatuhkan satu sama lain.