Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
30. Cemas


__ADS_3

Di rumah Maura.


"Tidak Kak. Kakak sama sekali tidak bersalah dalam masalah ini, Kak Naura jatuh sakit karena penyakit yang mengidapnya, tidak ada sangkutpautnya dengan Kakak. In Sya Allah Kak Naura akan segera pulih kembali," ucap Maura membantah pernyataan Kakaknya yang merasa adalah dalang masalah.


"Iya, Kak. Maura akan berusaha menenangkan Bunda. Kakak tidak perlu khawatir," ujar Maura.


"Waalaikumussalam." panggilan suara itu pun berakhir.


Maura segera mengirim pesan pada Hilman—Ayahnya, tentang keadaan Naura dan Yuni saat ini. Setelah selesai mengirim pesan, Maura segera berjalan sedikit tergesa meninggalkan ruangan kamarnya. Tentu saja menuju ruangan kamar sang Bunda.


Setelah Maura tiba di depan pintu kamar orang tuanya, Maura segera membuka pintu tersebut dan mendapati keberadaan Yuni, sang Bunda dengan posisi duduk di lantai yang tengah rapuh dan terpukul. Maura berlari mendekati Yuni.


"Bun, jangan nangis," ucap Maura.

__ADS_1


"Maura, Sayang. Kakakmu ... " ucap Yuni yang tak mampu menyelesaikan ucapannya, justru tangisan semakin menjadi.


"Mana Ayah? Tolong antarkan Bunda ke rumah sakit. Bunda gak bisa hanya diam di sini. Naura membutuhkan kita." Yuni bangkit dari duduknya, kemudian melangkah menuju lemari. Memasukkan beberapa pakaian secara asal ke dalam sebuah koper kecil, sembari terus berusaha mengusap air mata di pipi dan wajah.


Sementara Maura hanya bisa terdiam dengan masih terduduk di lantai melihat sang Bunda yang begitu merasa khawatir. "Ayah sudah Maura kirimi pesan. Beberapa menit lagi Ayah akan segera pulang." ujar Maura.


"Bun, apa Maura boleh ikut ke sana?" tanya Maura dengan harapan akan diizinkan.


Setelah Yuni menutup resleting pada koper, dirinya menoleh ke arah belakang, menatap putri bungsunya yang masih terduduk di lantai kamar. Beberapa detik kemudian kakinya melangkah mendekati Maura. Yuni mengulurkan tangannya dengan ulasan senyum kecil, dan langsung disambut oleh Maura. Kini Maura bangkit dari duduknya.


...----------------...


Jelang puluhan menit, Maura sudah selesai menyiapkan kepergiannya bersama Ayah dan Bunda ke rumah sakit. Kini Maura tengah berjalan menuju kamar Hilman dan Yuni. Di waktu yang bersamaan, Yuni dan Hilman baru saja keluar dari kamar mereka dengan pakaian yang tampak rapi dengan jaket yang menutupi.

__ADS_1


"Maura, sudah siap? Ayo kita berangkat." ucap Hilman seraya berjalan mendekati putri bungsunya lalu mengusap kain hijab yang menutupi bagian kepala.


"Sudah, Yah. Ayo." balas Maura dengan senyuman.


Ketiganya berjalan menuruni anak tangga dengan langkah yang sedikit dicepatkan. Sedangkan di belakang mereka terlihat (bibi) yang tengah membantu membawakan koper milik Maura.


Di perjalanan.


"Ayah. Kapan kita akan segera tiba di rumah sakit?" tanya Yuni yang masih merasa cemas.


"Sabar, Bun. Jangan terlalu dipikirkan perjalanan ini, nanti Bunda malah gak bisa tidur. Lebih baik Bunda istirahat aja, Maura juga," ujar Hilman yang peduli terhadap kesehatan istri dan putrinya.


"Jangan sampai Bunda dan Maura jatuh sakit pada akhirnya, seperti Naura. Ayah gak mau liat ketiga wanita yang Ayah cinta jatuh sakit," lanjut Hilman.

__ADS_1


"Ta-tapi Naura ... Naura lebih parah sakitnya dari pada Bunda yang seandainya hanya sakit demam." penglihatan Yuni mulai memburam karena air mata yang mulai menggenang di depan bola matanya.


__ADS_2