Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
27. Fifteen Years Ago


__ADS_3

Semuanya merasa semakin khawatir dan bersedih, terutama Baron yang mendengar kabar adiknya yang harus dioperasi. Semuanya kembali memilih duduk di kursi ruang tunggu, sementara Ramdan justru berjalan ke arah lorong rumah sakit dengan perasaan yang tampak sangat kacau.


Fatimah yang menyadari gerak-gerik adiknya, merasa khawatir dan memilih untuk menghampiri Ramdan yang kini terlihat murung di atas kursi tunggu yang tampak sepi. Ramdan seketika beranjak dan menghantamkan kepalan tangannya pada dinding rumah sakit, menciptakan suara yang cukup keras terdengar.


Fatimah berlari kecil untuk segera menghampiri sang adik.


"Ramdan! Ada apa denganmu?" kini Ramdan telah ada dalam pelukan Fatimah. Tangis Ramdan pecah hanya dalam hitungan detik.


Fatimah terdiam sesaat. "Kau menangis?" tanya Fatimah, tetapi Ramdan masih tetap menangis tersedu.


Fatimah mengelus punggung adiknya yang tampak merasa rapuh. Fatimah membiarkan adiknya membasahi kain hijabnya dengan air mata yang mengalir dari pelupuk mata.


"Istighfar, Ram. Coba ceritakan keadaanmu saat ini pada Kakak." ucap Fatimah yang masih terus berusaha menenangkan hati Ramdan yang juga tampak kacau.


Tangis Ramdan perlahan reda. Menarik kembali tubuhnya yang memeluk tubuh sang kakak. Kemudian mereka berdua duduk di atas kursi tunggu. Ramdan mulai menceritakan semuanya pada Fatimah, yang selalu setia menjadi tempat bercerita sedari mereka masih kecil.


"Maafkan Aku, Kak. Aku tidak tahu betul mengapa Aku menjadi selemah dan sekacau ini."

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Aku hanya tahu bahwa Aku telah menyukai Naura sejak kami masih sangat dini. Apa Kakak masih mengingat masa lalu saat itu? Saat Aku pertama kali mengenal Naura dan kita berempat bermain bersama?"


"Berempat?" bukannya menjawab pertanyaan dari Ramdan, Fatimah justru bertanya balik dengan mengulang salah satu kata yang Ramdan ucapkan.


(Lima belas tahun yang lalu)


Anak perempuan berumuran delapan tahun tiba-tiba terjatuh saat lekas berlari. Lututnya terbentur menimbulkan lecet dan terasa perih serta mengeluarkan darah. Anak perempuan itu menangis.


"Naura, ada apa denganmu? Mari kubantu obati," ujar anak laki-laki yang berlari mendekati Naura—anak perempuan yang terjatuh. Usia keduanya memang begitu dekat.


"Tunggu Aku, dan tetaplah di sini." titah Ramdan sebelum akhirnya berbalik badan dan berlari menjauh. Sementara Naura hanya mengangguk dan mulai meringis karena luka di lutut.


Beberapa menit kemudian, Ramdan kembali dengan membawa kotak berwarna putih yang tidak diketahui namanya oleh Naura.


"Kamu bawa kotak apa, Bim?" tanya Naura.

__ADS_1


"Aku kurang tahu. Tapi Umi selalu menggunakan isi dalam kotak ini saat Aku dan Kak Fatim terluka. Maka Aku membawa kotak ini untuk menyembuhkan lukamu." papar Ramdan setelah duduk dan mulai membuka kotak putih itu. Tidak ada yang tahu nama kotak itu, karena mereka masih sangat polos.


Setelah memberi tetesan obat merah pada kapas, Ramdan segera menempelkannya pada lutut Naura. Naura meringis dan menangis katena perih yang melanda lututnya.


"Jangan menangis, Naura. Aku akan segera mengobati lukamu. Dengan begitu, lukamu akan sembuh dengan cepat." ucap Ramdan menatap Naura dengan miris, seakan merasakan rasa perihnya.


Kini lutut Naura telah selesai diobati. Ramdan merasa lega akan hal itu. Tampaknya Naura sangat senang karena luka yang berada di lututnya tidak lagi terasa perih.


"Makasih, Bim."


"Terima kasih kembali." Ramdan membalas senyum manis itu.


Terdengar suara mobil yang dinyalakan, mereka langsung mengalihkan perhatian mereka pada asal suara itu. Raut wajah mereka seketika berubah.


"Sepertinya Ayah udah siap pulang. Aku pamit pulang," ucap Naura.


"Aku akan menunggumu untuk kembali bermain bersamaku, Naura." ujar Ramdan.

__ADS_1


"Aku juga."


__ADS_2