Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
6. Benci


__ADS_3

Umar, dan Yuda segera beranjak dari duduknya. Sedangkan Ramdan terus menatap Al-kitab di tangannya.


"Ram! Mengapa kau masih duduk?" Tanya Yuda.


"Aku tidak akan ikut. Kalian saja" Jawabnya acuh tak acuh, seraya terus fokus membaca buku kitab di tangannya.


"Baiklah"


Mereka bertiga pun berjalan menuju meja pegawai. Setelah tiba disana, Baron langsung diberikan telpon oleh bu Mila.


"Halo? Assalamu'alaikum?" Sapa Baron setelah menempelkan telpon itu pada daun telinganya.


Waalaikumsalam, Baron. Ini Bunda, sayang. Gimana kabar kamu disana? Bunda kangen sekali sama kamu


"Alhamdulillah baik, Bunda. Baron juga kangen sama Bunda. Gimana kabar Bunda dan Ayah? Dan gimana kabar kedua adikku?"


Alhamdulillah sehat. Semuanya pada sehat


Hm, sebenarnya bunda mau bilang kalo Ayah akan memasukkan Naura ke pesantren


"Na-Naura akan masuk ke pesantren Bun? Waahh, Baron jadi seneng Bun. Jadi kapan Bunda dan Ayah akan mengantarnya?"


Secepatnya. Insyaallah Ayah akan Secepatnya mengantar Adikmu kesana


Kali ini, suara yang terdengar adalah suara Hilman.


"Bagus tuh, Yah. Lebih cepat lebih baik. Ya sudah Bun, Yah. Aku masih ada pengajian. Aku tutup dulu teleponnya ya. Maaf ya Bun"


Iya, sayang. Kamu jaga kesehatanmu baik-baik ya. Assalamu'alaikum


"Waalaikumsalam Bun"


-Tett-


"Ada apa Bar?" Tanya Umar.


"Akan ku beri tahu setelah kita tiba di kamar" Jawab Baron seraya berjalan pergi. Kemudian dibuntuti oleh Umar dan Yuda dari belakangnya.


...


"Nah, sekarang kita sudah tiba di kamar. Jadi kau boleh memberi tahu apa yang membuatmu gembira?"


Baron duduk di ranjang susunnya.


"Baiklah. Kalian tahu, Adikku akan masuk ke pesantren ini" Ujar Baron mengembangkan senyumnya, tanda bahagia.


"Adikmu? Siapa?" Tanya Umar seraya mengambil kitabnya di lantai.


"Namanya adalah Naura"


"Naura?" Kini yang bertanya adalah Ramdan. Tangannya yang tengah merapikan dan memindahkan tumpukan kitab diatas tikar kedalam lemari, tanpa sadar bibirnya justru mengucapkan nama yang baru saja di katakan oleh Baron. Ia pun sempat terkejut dan terdiam dengan apa yang telah terjadi padanya. Namun ia akhirnya tersadarkan saat mereka menanyakannya.


"Eh? Baru tau kalo seorang Ramdan Albakri menanyakan seorang akhwat" Yuda menggodanya.


"Tidak apa-apa, jika kau penasaran pada adikku, Naura. Aku akan membantumu menjadi adik ipar ku nanti. Tapi kau juga harus membantuku untuk mendapatkan hati kakakmu itu" Baron pun ikut menggoda. Namun ia memberi kesepakatan.


"Ada-ada saja kalian. Aku hanya menanyakan nama itu, dan kalian langsung menuduhku yang aneh-aneh. Dan untuk Kak Baron, jika kau ingin hati Kak Fatim, maka kau harus memintanya pada sang pemilik" Balas Ramdan seraya merapikan kitab.

__ADS_1


"Apa tidak ada saran lain?"


"Hm, ya hanya itulah jawabanku"


"Baiklah, lupakan saja. Ayo kita ke majlis" Ajak Baron. Kemudian berjalan dan diikuti oleh Yuda dan Umar.


"Kalian duluan saja. Aku masih merapikan semua kitab yang belum selesai ini" Ujar Ramdan seraya mengambil kitab di lantai dan menundanya di lemari.


"Kami menunggumu!" Ujar Umar.


*


"Apa Bunda senang?" Tanya Hilman setelah telpon dimatikan.


"Iya. Bunda senang, akhirnya Bunda bisa menanyakan kabar Baron setelah tiga bulan terakhir kita menghubunginya. Makasih Yah" Ujarnya pelan.


"Iya. Semoga aja, Naura akan betah setelah kita mengantarnya nanti"


"Iya. Ya sudah, Bunda mau menyiapkan keperluan Ayah untuk pergi ke kantor" Yuni beranjak dari duduknya.


Yuni kembali sibuk dengan pakaian di lemari. Sedangkan Hilman kembali menyentuh laptopnya.


Dret dret..


"Halo?" Sapa Hilman setelah mengangkat telepon.


Halo Pak, selamat pagi. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa meeting hari ini, jam sepuluh Pak


"Bukannya siang?"


Iya, Pak. Sebelumnya begitu. Tapi klien kita meminta dipercepat Pak


"Bun, Ayah berangkat ya" Ujar Hilman seraya memasukkan laptopnya ke dalam tas.


"Tapi sekarang masih jam setengah sepuluh. Ayah bilang, nanti siang"


"Klien minta dipercepat waktu" Hilman memakai jas yang diberikan Yuni.


"Oh, ya udah. Hati-hati"


*


"Gue mau tanya sama lo Mir. Kapan Gehna akan pergi ke Belanda?" Tanya Naura gugup.


"Gue juga gak tau. Tapi gue berharap, sahabat kita baik-baik aja disana"


"Lo masih berharap?" Naura sedikit serius.


"Seperti yang gue bilang kemaren kalo--"


"Iya, gue tau. Gue juga mencoba untuk ngikutin kata-kata lo. Tapi gue gak bisa bohong, gue masih mencintai Very. Gue masih cinta, dan gue benci Gehna" Potong nya dengan penekanan di kalimat terakhirnya.


"Lo masih cinta? Apa lo gak sadar, kalo cowok yang lo cinta itu adalah cowok playboy? Dan kebencian lo itu gak bisa merubah apapun Ra!" Tukas Mirsha.


"Bisa. Kita bisa merubah semuanya. Lo mau sahabat kita balik lagi 'kan?"


"Maksud lo?" Tanya Mirsha tak mengerti.

__ADS_1


"Gimana kalo kita bikin rencana buat misahin mereka berdua? Dengan begitu, lo dapet Mirsha dan gue dapet Very"


"Gila lo. Lo kenapa sih? Jadi gila gini"


"Lo masih tanya gue kenapa?"


"Ya, gue tau. Ra, lo boleh kecewa tapi benci, apalagi lo buat rencana kayak gitu gue rasa itu--"


"Salah? Apa lebih salah dari apa yang Gehna perbuat?" Potong Naura.


"Tapi dia itu sahabat kita. Sahabat dari kecil" Bantah Mirsha.


"Itu dulu. Sekarang dia bukan lagi sahabat kita. Bahkan dia juga yang memutuskannya"


"Oke. Kalo lo mau buat rencana, buat sendiri. Gue pergi" Mirsha bangkit dari duduknya dan mulai melangkahkan kakinya.


"Mir!" Panggil Naura seraya bangkit dari duduknya. "Aw.. Shht. Aww.. " Lirihnya sakit seraya memegang perutnya.


Mirsha menengok dan melihat Naura yang tengah menahan sakit di perutnya.


"Ra, lo kenapa?" Mirsha menghampiri Naura.


"Gak tau. Tiba-tiba perit gue terasa sakit"


"Kita ke rumah sakit ya"


"Gak perlu. Gue cuma butuh istirahat"


"Klo gitu, gue anter lo sampe rumah"


*


Bel berbunyi nyaring, menandakan waktu belajar sudah selesai.


Maura yang duduk di kursi sekolah menengah pertama kelas tiga. Ia segera membereskan buku dan semua peralatan belajarnya ke dalam ransel. Satu persatu semua temannya keluar kelas untuk pulang.


Kini, Maura tengah berdiri, menunggu jemputan pak sopir di depan gerbang sekolah. Karena hari ini pulang lebih cepat dari hari-hari biasanya. Maka Laura harus menunggu beberapa menit sampai mobil jemputannya tiba.


"Wah, lihat tuh, ada Maura disana"


"Kita godain yuk. Kan lumayan"


Dua siswa menghampiri Maura.


"Maura, cantik. Kamu ngapain disini? Nungguin jemputan ya? Mau dianterin gak sama kita? Janji deh, kita anterin sampe rumah" Goda salah satu dari mereka.


Maura sedikit takut, namun Maura mencoba tak menghiraukannya.


"Kalo Maura gak jawab, berarti iya dong. Ya udah ayo pulang yuk" Salah satunya memegang tangan Maura. Namun sontak seketika Maura menepisnya.


"Maaf, saya ada jemputan. Jadi kalian gak usah repot-repot" Maura menghindar karena merasa takut.


"Kami gak kerepotan kok. Justru kami dengan senang hati" Keduanya kini memegang tangan Maura. Dan menariknya.


"Apa-apaan kalian? Lepaskan tanganku! Jangan berani menyentuh tanganku!" Maura memberontak, namun tenaganya tidak mampu membandingkan dengan tenaga kedua siswa itu. Mereka terus membujuk dan menarik Maura hingga Maura akhirnya ketakutan dan meringis.


"Ayolah Maura, apa kamu tidak merasa gerah dengan hijab tebalmu itu?"

__ADS_1


"Tolong! Tolong! Lepaskan aku bajingan!" Teriaknya meminta tolong pada siapapun yang mendengarnya.


__ADS_2