
Dua bulan setelahnya, Naura kembali berkunjung dengan Ayah dan Bundanya ke pondok pesantren. Ramdan yang memang sudah menunggu, segera menyambut kehadiran Naura dan keluarga. Ternyata Baron juga ikut, usianya baru tiga belas tahun. Serta adik Naura yang bernama Maura berusia dua tahun.
"Hai, Bima. Aku kembali untuk bermain bersamamu," ucap Naura dengan senyum tipisnya.
Ramdan membalas senyuman itu. "Aku sudah menunggumu. Ayo bermain, Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu." ujar Ramdan mengajak Naura berjalan.
Tawa mereka begitu terdengar riang dan manis. Kini mereka telah berada di halaman belakang.
"Tunggu di sini," Ramdan berjalan mendekati pohon mangga. Hendak mengambil sesuatu di bawah pohon mangga tersebut, tetapi mengurungkan niatnya kala mendengar kedatangan dua orang.
"Hey Bima. Kau sedang apa?"
"Hai, Naura. Apa yang sedang Kau lakukak di sini? Sejak tadi, Aku mencarimu,"
Mereka ialah Baron dan Fatimah. Kini Ramdan telah berada di dekat mereka semua setelah dirinya memilih untuk menghampiri. Setelah saling menyapa, Baron mengajak untuk bermain bersama.
__ADS_1
"Ayo kita bermain. Aku benar-benar tidak ingin melewatkan kebersamaan kita. Karena Ayah selalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga mungkin tak ada waktu lagi untuk kita bertemu. Tapi beruntungnya, kita masih bisa bertemu."
"Benar. Tapi di mana?"
"Di taman, sepertinya lebih menarik." ujar Fatimah. Kemudian semuanya mulai berjalan pergi.
Sementara Ramdan menoleh dan menatap sebuah kotak berwarna biru tua. Tatapan sesaat itu pun dialihkan pada kedua teman dan satu kakaknya yang berjalan semakin menjauh. Ramdan berlari untuk menyusul mereka. Meninggalkan kotak biru itu yang masih di bawah pohon mangga.
Hari semakin sore dan waktu bermain telah berakhir. Kini mereka saling melambaikan tangan, memberi ungkapan 'sampai jumpa'.
Dengan berat hati, Ramdan menatap kepergian mobil yang dikendarai oleh keluarga Naura. Ramdan berlari ke arah belakang, dan kini dirinya berada di halaman belakang. Tangannya digerakkan untuk mengambil kotak berwarna biru tua yang masih berada di bawah pohon mangga. Ramdan terdiam sembari menatap kotak tersebut.
Ramdan menghela napasnya kemudian memilih untuk meninggalkan halaman belakang.
Selang beberapa waktu, hari demi hari, satu bulan telah berlalu, dua bulan dan tiga bulan kini telah berlalu dalam waktu yang terasa singkat. Namun tak ada satu pun tanda kedatangan Naura dan yang lainnya.
__ADS_1
Satu tahun berlalu. Setelah sekian lama Ramdan menunggu, akhirnya sebuah mobil milik keluarga Naura kembali berkunjung ke pondok pesantren. Ramdan sangat bersemangat menyambut kedatangan keluarga Naura saat itu, terutama dirinya yang telah menunggu lama kedatangan Naura.
Namun anehnya, tak ada sosok Naura menuruni mobil. Hanya sanak keluarganya saja yang terlihat oleh pandangan mata Ramdan. Dengan sedikit keberanian, Ramdan memberanikan diri untuk mendekati Herman, Ayah dari Naura dan mulai menanyakan tentang Naura.
"Permisi, Paman. Di mana Naura? Mengapa Naura lama sekali turun dari mobil?" tanya Ramdan polos. Pasalnya, usianya memang masih dini.
Herman menoleh dan memandang anak yang berumuran dengan salah satu putrinya yaitu Naura. Herman tersenyum tipis dan berkata, "Naura tidak ikut berkunjung ke sini, Ram. Naura sepertinya sangat sibuk mengerjakan tugas sekolahnya. Mungkin lain kali kalian akan bertemu kembali, ya?" papar Herman dengan nada lembut.
Sementara Ramdan yang merasa sedikit kecewa dengan ketidakhadiran temannya, hanya tersenyum tipis dan mengangguk sebagai responsnya terhadap Herman.
"Lihatlah di sana. Ada Baron, Fatimah, Maura dan teman lainnya yang sedang bermain. Cepatlah Kau susul mereka dan bergabung jntuk bermain bersama. Pasti sangat seru," hibur Herman ketika menyadari Ramdan yang tampak merasa kecewa mendengar Naura tidak ikut bersama keluarganya.
Ramdan hanya mengangguk kecil dan Herman mulai mengkah menjauh menghampiri sang istri, Yuni.
Ramdan hanya diam dengan embusan angin yang menerpa tubuhnya. Kini dirinya berada di halaman belakang, sendiri dan tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
__ADS_1
"Kapan Kau akan kembali? Aku akan menunggumu." ucap Ramdan pada angin di udara.
.