Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
40


__ADS_3

"Urusan apa?" tanya Baron sebagai sang Kakak yang berhak tahu urusan yang terkait masalah adik-adiknya.


"Hanya tugas sekolah. Karena kemarin, Maura lupa bertanya." jawab Maura.


Tidak berbohong, tetapi memang Maura akan menanyakan hal itu pada salah satu temannya. Namun sebelum itu, Maura ingin berjumpa dengan Kakak kelasnya yang berada di sini. Merasa kebetulan, Maura hanya ingin menyapanya saja. Juga memastikan apakah sosok yang dilihatnya itu benar Imran ataukah bukan.


"Baiklah. Cepat kembali. Kakak menunggumu." ucap Baron memberi izin.


"Kami duluan, ya," ujar Fatimah kemudian melangkah pergi bersama Baron, meskipun mereka berjalan sejajar dengan jarak dan tak akur satu sama lain.


Maura tersenyum menatap Kakaknya yang terlihat sangat senang berada di samping Fatimah, walaupun keduanya memang sering bertengkar. Sesaat kemudian Maura menolehkan kepalanya ke arah di mana Imran duduk.


Namun dirinya tak melihat siapa pun di kursi itu. Kursi itu telah ditinggalkan. Kakinya melangkah mendekati meja itu seraya mengedarkan pandangannya mencari sosok Imran yang mungkin saja berada tak jauh dari sana. Tetapi Maura tak mendapati keberadaan Imran.


_"Apa tadi itu benar Kak Imran? Sepertinya bukan. Tapi kenapa mirip sekali?"_ gumam Maura dalam hati.


Pandangan Maura justru teralihkan pada sebuah benda yang disebut dengan kunci. Maura meraih benda itu yang tergeletak di bawah meja kantin. Maura memeprhatikan kunci itu dan berpikir keras. Seperti kunci motor.


Maura enggan untuk membawa kunci itu karena itu bukanlah miliknya. Tapi kunci motor itu milik siapa? Apakah benar milik Imran? Tetapi di mana dia?


Sementara Imran tengah berdiri di balik sudut dinding rumah sakit. Ya, Imran bersembunyi dari Maura yang sudah diduga akan mencarinya. Imran menatap Maura yang mulai mendekati meja yang sebelumnya ia duduki. Namun kini bola matanya membulat kala melihat Maura yang meraih sesuatu dari bawah meja itu yang ternyata adalah kunci motornya. Imran masih mengingat dirinya yang berusaha untuk meninggalkan meja itu dan bersembunyi, dan mungkin saja kunci motornya sempat terjatuh dari dalam saku jaketnya.


Imran sudah kebingungan harus berbuat apa agar kunci motor miliknya kembali pada dirinya tanpa Maura mengetahuinya.


Maura menatap kunci itu sejenak dan menghela napasnya. Ia menaruh kunci itu di atas meja, bersamaan dengan itu, Maura menelpon salah satu temannya untuk menanyakan tugas sekolah.


"Assalamualaikum, Sis. Aku boleh minta tugas matematika kemarin gak?"


Maura berjalan pergi dan berlalu meninggalkan meja itu.


Imran tampak menghela napas lega melihat Maura mulai pergi meninggalkan kantin. Imran tersenyum kecil kala menyadari Maura yang tidak membawa kunci miliknya, yang juga berarti Maura memang gadis baik. Tidak salah kalau Imran jatuh hati pada Maura yang memiliki sifat baik alami dalam diri juga hatinya.


Imran mulai melangkahkan kakinya mendekati meja itu. Ia meraih kunci miliknya dan menatapnya dengan perasaan senang karena kunci itu sempat digenggam oleh tangan Maura. Imran tersenyum kecil.


"Kak Imran?"


Imran terkejut dengan suara yang ia kenali dan suara itu menyebut namanya. Sontak dirinya langsung membalikkan badan dan merasa sangat terkejut ketika apa yang diduganya benar adanya. Itu adalah Maura.


Maura berdiri dan menatap Imran dari jarak satu meter dari Imran. Imran hanya terdiam menatap Maura yang juga hanya diam dan tampak sedikit merasa kebingungan.


"Kak Imran?" ulang Maura.


Imran masih terdiam dan tidak menjawab.

__ADS_1


"Aku sengaja ninggalin kunci itu, karena aku mau tau siapa pemilik kunci itu." ujar Maura.


"Kakak ngapain di sini? Dan kenapa bersembunyi dari aku?" tanya Maura bingung, tampak sedikit mengintimidasi.


Imran masih terdiam dengan matanya yang tidak beralih dari Maura. Imran menelan salivanya perlahan dan merasa kebingungan harus menjawab apa pada pertanyaan Maura tersebut.


"Apa Kakak sedang menjenguk kerabat di rumah sakit ini?" tanya Maura berusaha membuang pikiran negatif terhadap Imran.


"Y-ya. Saudaraku tinggal di dekat daerah sinu, dan dia sedang sakit." jawab Imran berbohong.


"Dan masalah kunci ..., tadi aku tidak sengaja menjatuhkannya." lanjutnya.


Maura terbesit rasa bersalah karena sempat berpikir lain-lain terhadap Imran. Maura mengangguk kecil kepalanya dan berkata, "Maafkan Aku, Kak. Aku tidak tahu."


Sama seperti Maura, Imran merasa berdosa telah membohongi gadis itu. Imran hanya membalasnya dengan anggukan kecil dan senyum yang kecil pula.


"Oh, iya. Kakakmu sakit apa?" tanya Imran. Lalu Imran menyadari reaksi Maura yang kembali heran padanya, Imran segera mengatakan sesuatu. "Semalam Amira memberi tahuku tentangmu yang katanya gak akan ikut bimbel." ujar Imran berhasil meenghilangkan rasa heran pada Maura.


"Kakakku terkena penyakit Hepatitis Alkoholik. Gak cukup parah, tapi butuh perawatan. Makanya Aku gak bisa ikut bimbel karena aku masih di sini." jawab Maura sedikit menundukkan wajahnya.


Imran kembali mengangguk, "kapan kamu pulang? Maksudku, kamu harus sekolah kan?" tanya Imran.


"Mungkin besok siang," jawab Maura."Ehm, Kak. Aku pergi dulu ya. Aku pasti udah ditungguin," ujar Maura hendak pamit.


"Iya, Kak. Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam."


Imran menatap kepergian Maura yang semakin mengecil dalam pandangannya. Kemudian menghilang. Imran tersenyum kecil dan merasa senang karenanya.


Tangannya merogoh ke dalam saku celana dan mengambil ponsel miliknya. Ia menelpon seseorang.


"Halo?"


"Apa kerjaan lo udah lo penuhi?" tanya Imran pada seseorang di seberang telepon.


"Udah, Bro. Sekarang harus apa?" balas seseorang dari seberang telepon.


"Sekarang lo temui gue di luar. Gue ke sana." ujar Imran yang kemudian mengakhiri panggilan suara itu.


Kakinya berjalan menuju luar. Setelah menunggu beberapa detik, seorang laki-laki sebayanya menghampiri Imran dengan senyum hangatnya. Laki-laki remaja itu memberikan kamera berwarna hitam kepada Imran. Imran menerimanya dan melihat isi dalam kamera tersebut. Bibirnya terangkat.


"Gimana?" tanya seorang laki-laki remaja itu.

__ADS_1


"Good job, thanks." ujar Imran seraya mengalungkan tali kamera itu ke leher kepalanya.


"You are welcome. No problem. Gue seneng bantu lo." balas lelaki itu.


"Gue udah kirim duit ke rekening lo. Gue cabut dulu ya, masih ada urusan." ujar Imran pamit dan mendapat anggukan dari temannya itu.


Imran menaiki motornya. "Hati-hati, kawan!" ujar lelaki itu pada Imran sebelum akhirnya motor milik Imran melaju dengan cukup cepat di jalanan.


...----------------...


"Apa aku harus terus memakan bubur? Apa tidak ada makanan lain?" tanya Naura menolak suapan yang hendak masuk kedalam mulutnya, tetapi dicegah dengan tangannya.


"Kau itu susah sekali untuk makan. Memangnya Kau menginginkan apa?" balas Ramdan.


"Nak, biarkan Bunda saja yang mengurus Naura. Kau pasti letih karenanya," ujar Yuni kasihan melihat Ramdan yang seakan menjadi susternya Naura, apalagi Naura yang sulit untuk diatur.


"Tidak masalah, Bun. Aku tahu Bunda juga lelah karena semalaman tertidur di sini demi Naura." balas Ramdan.


"Bunda juga tahu, Kamu masih di sini dan terjaga semalaman. Lihatlah wajahmu, terlihat lesu. Sebaiknya kau istirahat saja," balas Yuni.


"Ku mohon izinkan aku sekali lagi saja untuk merawat Naura." pinta Ramdan pada Yuni.


Sejujurnya Yuni merasa tak enak hati, tetapi tidak bisa menolah permintaan Ramdan yang memang tampak tulus untuk bisa merawat Naura. Akhirnya Yuni mengangguk dan tersenyum, membuat Ramdan ikut tersenyum ke arahnya.


"Maafkan Aku," ujar Naura membuat Ramdan menoleh ke arahnya.


"Maafkan Aku sudah merepotkanmu. Aku sudah merepotkan semua orang. Jika saja Aku bisa melawan egoku dan berhenti memimun minuman keras, mungkin kalian tidak akan serepot ini." sesal Naura.


"Tidak perlu terlalu menyesalinya. Jadikan hal itu pelajaran untukmu. Aku yakin, setelah ini Kau bisa melawan egomu sendiri." balas Ramdan sembari tersenyum simpul.


Naura tertegun sejenak, "Bagaimana jika aku tidak bisa?" tanya Naura kemudian.


"Aku akan menuntunmu." ujar Ramdan membuat Naura dan Yuni menatap ke arahnya.


"Oh, iya. Kau tadi menginginkan apa? Makanan apa yang Kau sukai?" tanya Ramdan mengalihkan pembicaraan.


"Aku ingin cokelat." jawab Naura.


"Boleh, tapi setelah kau mengisi perutmu dengan makanan."


Ramdan meraih ponselnya yang tergelrtak di atas meja. Kemudian membuka laya ponsel itu. "Begini saja, mari pesan makananmu." ujar Ramdan sedikit mendekatkan dirinya pada Naura dan memperlihatkan banyaknya menu makanan yang tertera di layar ponselnya.


Yuni menatap keduanya dengan sudut bibir yang sedikit diangkat.

__ADS_1


__ADS_2