
"Kau hanya memiliki dua pilihan saja. Beri tahu Abi apabila Kau sudah memilih salah satu pilihan itu." ujar Bilal lagi sebelum akhirnya meninggalkan ruang tamu dan menunju ruang kamar.
Ramdan menoleh dan menatap ibu dan kakaknya.
"Jujur saja, Umi merasa sedikit kecewa padamu, Ram. Begitu juga dengan Umi Fatwah di sana. Jangan sampai Kau membuat Umi Fatwah di sana merasa kembali kecewa dengan pilihan yang akan Kau ambil." ujar Marwah tanpa menatap sang anak tiri, Ramdan. Kemudian ia beranjak dari sofa dan berjalan pergi memasuki ruang kamar.
Kini hanya tinggal Ramdan dan Fatimah. Ramdan tak mampu menatap manik sang kakak yang juga akan merasa kecewa sama seperti kedua orang tua mereka. Namun, ternyata Fatimah justru berpindah duduk ke samping Ramdan. Ia tersenyum kecil menatap sang adik.
"Ram, lihat Kakak." titah Fatimah yang sedari tadi melihat Ramdan hanya menunduk, meskipun dirinya telah berada di sampingnya.
"Aku telah berbuat hal yang mengecewakan kalian. Aku telah berbuat salah yang seakan Abi lah yang bersalah. Aku lah yang salah, bukan kalian. Aku mengingkari ilmu yang Abi berikan. Seharusnya Aku menjaga diriku dari segala rayuan syaitan, Aku hampir melampaui batasanku sebagai lain mahram." sesal Ramdan panjang lebar.
__ADS_1
"Jadikan itu pelajaran. Ingatlah, Abi dan Umi sangat menyayangi kita. Mereka hanya berharap yang terbaik untuk masa depan kita. Seperti yang baru saja dikatakan Umi tadi, jika sekarang Kau membuat mereka kecewa, jangan sampai kau membuat mereka kecewa untuk ke dua kalinya dengan mengambil pilihanmu." ucap Fatimah bernasihat dengan nada lembut.
"Sebelumnya, kita berencana akan mengatakan perasaanmu pada Umi dan Abi. Tetapi ternyata Allah merencanakan hal lain. Kita tahu, tak semua rencana manusia itu berhasil, tetapi rencana yang Allah berikan adalah sesuatu yang baik." lanjut Fatimah.
Ramdan mengangguk-anggukan kepalanya paham. Mencoba tersenyum dan menerima kenyataan. "Lalu Aku harus memilih yang mana dari kedua pilihan yang Abi berikan?" tanya Ramdan dengan lirih.
"Kakak tidak bisa menjawabnya. Sebaiknya kau tanyakanlah pada hati kecilmu, dan tanyakan pada Sang Pencipta karena Dialah Maha Pemilik segala jawaban." balas Fatimah memberi saran.
...----------------...
Sore telah berganti malam. Begitu pun dengan warna langit yang tampak gelap, namun masih tampak terang karena sinar dan cahaya bulan serta bintang. Membuat langit di malam ini begitu indah dan penuh hiasan.
__ADS_1
Namun, bukan hal itu yang membuat senyuman Imran saat ini tengah mengembang. Senyumannya itu disebabkan karena matanya terfokus pada selembar foto yang dipegangnya. Tak hanya mata, tetapi pikirannya pun juga ikut mengundang memori sebelumnya. Hati nya kembali merasakan suasana memori yang terlintas itu.
Selembar foto berukuran tidak terlalu besar, sekitar ukuran sepuluh senti persegi. Ya, tampak seperti foto polaroid dengan latar berwarna putih. Dalam foto tersebut terdapat sosok lelaki yang tak lain dirinya sendiri bersama seorang gadis berhijab syari yang tak lain juga ialah gadis yang ia sukai, Maura. Foto itu diambil oleh teman Imran yang sengaja menjadi seorang paparazi suruhan. Imran mencuci atau mengubah foto digital itu menjadi foto polaroid yang bertujuan untuk dapat menyimpannya dalam kotak.
Setelah berlarut lama menatap dan mengingat memori itu melalui sebuah foto, Imran mengambil sebuah kotak berukuran tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Kotak itu berukuran sekitar tiga puluh senti persegi panjang. Terbuat dari kayu jati, berwarna cokelat pekat, memberikan kesan pada kotak tersebut tampak sederhana namun elegan.
Imran membuka tutup kotak itu yang memperlihatkan beberapa benda lain yang suatu saat nanti akan ia tunjukkan pada gadis yang menjadi tokoh utama dalam memori kotak cokelat itu. Entah kapan.
Tak lama setelah Imran menutup kotak itu dan menaruhnya di dalam lemari, lalu menguncinya. Tentu saja karena dirinya tak mau ada yang tahu isi dalam kotak itu selain dirinya. Seseorang memanggil namanya dari balik pintu kamar, membuat Imran segera mendekat dan membuka pintu kamar.
"Kenapa, Ma?" tanya Imran.
__ADS_1
"Makan," ujar sang ibu yang bernama Arshy. Arshy menggenggam tangan putranya untuk mengajak anak semata wayangnya itu pergi menuju ruang makan. Imran tak dapat menolaknya karena Imran sangat menyayangi ibunya itu. Imran hanya tersenyum kecil dan mulai berjalan menuju ruang makan keluarga.