Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
42. Perbedaan II


__ADS_3

Hari sudah semakin siang, dan bimbingan belajar alias bimbel pun juga telah berakhir. Kini Amira dan teman-temannya tengah rehat di sebuah kafe di dekat taman kota. Kafe itu bernama Blue Cafe, ialah kafe yang sering sekali dikunjungi mereka dan diminati oleh banyak orang. Karena kafe itu memiliki beragam desain bangunan yang unik dan menarik. Juga karena luas dengan tiga lantai, membuat para pengunjung tidak kesulitan mengantre ataupun bersedakkan seperti kafe lainnya. Pada intinya, kafe itu mewah, megah, dan harganya nyaman di kantong. Jadi wajar saja banyak orang yang meminati Blue Cafe.


"Oh, iya." ucap Amira yang terbesit sesuatu dalam ingatannya. Tangannya meraih ponsel dan menelpon seseorang.


"Kalo lagi makan tuh, jangan main ponsel." ujar Alex berusaha memberi tahu sekaligus memberi perhatian.


"Apaan sih," ketus Amira yang malas menanggapi.


Alex menghela napasnya dan berkata, "Emang lo mau nelpon siapa sih?" tanya Alex kemudian dengan ekspresi yang biasa-biasa saja. Ya, cuek adalah sifat dan kriteria dari seorang Alex.


"Imran." jawab Amira yang awalnya enggan menjawab karena sangat malas.


Mendengar itu, Alex tiba-tiba saja memunculkan ekspresi tak suka sembari menatap Amira dengan perasaan heran. "Mau ngapain?" tanya Alex cepat.


"Ya gue mau nanya, kenapa lo bisa ikut bimbel padahal sebelumnya Imran bilang lo gak bakal ikut. Kesel kan jadinya," jawab Amira yang masih nampak ketus.


"Ternyata lo ada hubungan ya sama Imran." tebak Alex sedikit murka.


"Mir, lo ada hubungan sama Imran?" tanya Hana yang merasa sedkit terkejut dengan ucapan Alex tadi.


"Lo percaya perkataan Si Curut ini?" AMira justru bertanya balik kepada Hana. Dan Hana hanya diam dan tidak menjawab. Karena pasalnya, Amira lebih bisa dipercaya dari pada Alex yang hanya sering menebak saja, apalagi saat ini Alex sedang dilanda cemburu.


"Han, kamu masih ada rasa sama Imran?" tanya Dylan.


"Bukan urusan lo." balas Hana sekenanya.


"Udah pasti jadi urusanku. Karena aku ini.."


"Apa?" potong Hana cepat.


"Kamu siapa, hah?" tanya Hana lagi.


Dylan tak bisa mebjawabnya, namun Dylan kemudian tersenyum dan berkata, "tapi aku bakal jadiin kamu pacar aku." ujar Dylan percaya diri.


Hana hanya bisa memutar bola matanya malas. "Coba aja kalo bisa." ucapnya menatap sekilas ke arah Dylan, kemudian pandangannya beralih pada meja sang kasir kafe.


Hana beranjak dan mendekat ke arah meja kasir tersebut. Sebaiknya ia membeli sesuatu untuk mengembalikan perasaan bagusnya kembali. Tanpa Hana sadari, Amira juga mengikutinya dari arah belakang. Kini Amira telah duduk sejajar di atas kursi kafe yang berada di depan meja kasir.


Keduanya hanya saling menyunggingkan senyum tipis dan mulai memesan.

__ADS_1


"Alex memang udah gila." ujar Amira tanpa menoleh ke arah Hana.


"Sama seperti Dylan." balas Hana yang membuat Amira sontak menoleh ke arahnya. Hana pun ikut menoleh.


"Mereka udah gila." ujar keduanya secara bersamaan.


...****************...


Siang ini Ramdan memasuki ruangan Naura dengan nampan di tangannya. Nampan yang di atasnya terdapat satu mangkuk dan dua gelas yang ialah cangkir dan gelas biasa. Ramdan membawakan Naura makanan karena sudah saatnya Naura makan siang.


"Assalamualaikum," ucap Ramdan.


"Waalaikumusaalam." balas Naura sembari tersenyum.


"Lihatlah, aku membawakanmu apa?" tanya Ramdan berusaha memberikan tebakan.


"Tentu saja kau membawakan makanan." jawab Naura tanpa berpikir, karena melihat apa yang dibawa oleh Ramdan.


"Huh, aku juga tahu. Tapi cobalah kau tebak apa makanan yang ku bawa?" tanya Ramdan seraya memposisikan tubuhnya duduk di atas kursi di dekan ranjang rawat Naura.


"Baunya seperti ..." gumam Naura berusaha merasakan bau makanan yang masuk ke dalam alat pernapasannya.


"Ya. Kau benar." jawab Ramdan membuat Naura menampakkan wajah senangnya.


"Buka lah mulutmu." titah Ramdan hendak melayangkan satu suapan ke dalam mulut Naura.


Naura membuka mulutnya dan mengunyah makanan setelah suapan itu sampai ke mulutnya.


"Dari mana kau mendapatkan rendang?" tanya Naura di selaan kegiatan mengunyahnya.


"Aku memesannya di toko online. Sudah, apabila sedang makan, tidak usah berbicara." ujar Ramdan. Sementara Naura hanya mengangguk dan menerima suapan kedua ke dalam mulutnya.


"Assalamualaikum,"


Tiba-tiba terdengar seseorang yang mengucap salam dan memasuki ruangan. Itu adalah Hilman dan Yuni, beserta Maura.


"Waalaikumussalam."


Hilman dan Yuni saling bertemu pandang sekilas, melihat kedekatan Ramdan dan Naura. Ternyata apa yang dikatakan sang istri memanglah benar adanya, Ramdan dan Naura memang begitu dekat, sampai lupa yang namanya jarak antar lain mahram.

__ADS_1


Hilman mengangkat kedua sudut bibirnya ke arah sang putri seraya berjalan mendekat. Hilman mengusap kepala sang putri yang tertutupi dengan balutan hijab.


"Gimana kabarmu, Sayang?" tanya Himan pada Naura.


Naura menyambut senyuman sanga ayah dengan senyumnya yang mengembang. "Aku udah baikan, Yah. Ayah gimana kabarnya hari ini?" ujar Naura kemudian.


"Alhamdulillah sehat. Kamu juga harus sehat kayak Ayah, Bunda, Maura juga, dan ..." Hilman tak melanjutkan ucapannya saat memandang ke arah Ramdan.


"Bagaimana kabarmu, Ram?" tanya Hilman.


"Alhamdulillah sehat," jawab Ramdan dengan senyum tipis.


"Gak, Yah. Ramdan bohong. Dia lagi gak enak badan, sering pusing, dan kurang tidur." ujar Naura memberi tahu.


"Tidak, seudahlah, Aku sudah baik-baik saja." balas Ramdan.


"Bagaimana Naura bisa tahu?" tanya Hilman memandang Naura dan Ramdan secara bergantian.


"Kami sering berbagi cerita, Yah." jawab Naura. Kemudian Hilman hanya mengangguk dan tersenyum kecil.


"Ya udah. Ayah mau ke toilet dulu ya, Sayang." ujar Hilman dan hanya mendapat anggukan dari Naura. Lalu Hilman berjalan keluar ruangan bersama Yuni. Sedangkan Maura memilih untuk tetap di dalam ruangan bersama sang kakak.


"Kak, gimana hari Kakak?" tanya Maura dengan senyuman.


"Sangat menyenangkan." jawab Naura sembari menoleh ke arah Ramdan. Ramdan yang mengerti itu, hanya tersenyum kecil.


"Alhamdulillah." balas Maura. Maura duduk di kursi sofa yang berada di dalam ruangan itu. Ia memutar audio ceramahan yang ada dalam ponselnya. Volume yang diterapkan di ponsel tidaklah keras, tetapi masih terdengar jelas di telinga Ramdan. Maura tampak sangat senang mendegarkannya.


Ramdan dibuat tercengang melihat hal itu, memunculkan sebuah pikiran yang terbesit di benaknya.


"Maura terlihat gemar mendengarkan kajian ceramah? Sedangkan Naura gemar dengan hal-hal yang berkaitan dengan duniawi, walau materi sekalipun. Ehm, Kakak dan Adik itu memiliki kepribadian yang berbeda." pikirnya dalam hati.


"Maura, siapa ahli ilmu yang kau sukai?" tanya Ramdan sedikit penasaran.


"Ustadzah Halimah Alydrus." jawab Maura sedikit menganggukkan kepalanya dan tersenyum simpul. Sopan.


"Apa alasanmu?" tanya Ramdan lagi.


"Karena Beliau adalah sosok perempuan yang terjaga dan paham akan kata perempuan. Beliau selalu berusaha untuk menjaga kesucian dan kehormatan hati dan jiwanya. Dan banyak yang sudah menganggap bahwa Beliau adalah penuntun para perempuan Islam. Kami sebagai muslimah turut senang dan menyukainya." jawab Maura sembari tersenyum senang menceritakan tentang sosok perempuan terhormat itu.

__ADS_1


__ADS_2