
"Kenapa, Ma?" tanya Imran.
"Makan," ujar sang ibu yang bernama Arsy. Arsy menggenggam tangan putranya untuk mengajak anak semata wayangnya itu pergi menuju ruang makan. Imran tak dapat menolaknya karena Imran sangat menyayangi ibunya itu. Imran hanya tersenyum kecil dan mulai berjalan menuju ruang makan keluarga.
Setibanya mereka di ruang makan, Imran dan ibunya, Arsy langsung menduduki kursi di depan meja makan yang sudah dipenuhi oleh makanan kesukaan Imran. Imran menatap semua makanan itu kemudian menatap sang ibu. Kedua sudut bibirnya terangkat tinggi mengulas senyum lebar, merasa senang dengan raut wajah sang ibu yang juga tampak lebih senang dari sebelumnya, meski memang ibunya itu selalu menunjukkan senyum lebar tetapi dalam hatinya menangis. Bagi Imran, ibunya adalah wanita periang, tak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain di luar sana. Tidak, tidak hanya orang lain, tetapi juga ayahnya sendiri. Mengingat sang ayah, Imran tiba-tiba merasa sedikit kesal dan marah.
"Imran, pangeranku." panggil Arsy membuat Imran tersadarkan dari lamunannya. Arsy masih menunjukkan senyum lebar yang memperlihatkan giginya.
"Gimana menurut kamu makanannya?" tanya Arsy dengan semangat.
Imran mengangkat kedua sudut bibirnya, "sangat banyak, dan pasti enak banget." jawab Imran membuat Arsy tampak kegirangan.
"Ini semua Mama yang bikin?" tanya Imran yang langsung mendapat anggukan antusias dari sang ibu. Imran hanya membalasnya dengan senyum bahagia melihat sang ibu bisa bahagia.
Arsy mengambil beberapa buah lampu lilin berwarna merah kemudian memberi api pada ujung benang lilin itu. Sementara Imran memperhatikan sang ibu yang tampak sangat gembira.
"Buat apa semua ini Ma?" tanya Imran.
"Buat Papa." jawab Arsy antusias, justru membuat raut wajah Imran berubah dalam sekajap. Tampak tidak suka mendengar ayahnya disebut oleh sang ibu.
"Buat Papa? Ngapain Papa dapetin semua ini?" tanya Imran tak suka.
"Karena malam ini adalah malam yang bertepatan pada malam pernikahan kami yang ke tujuh belas tahun," jawab Arsy yang masih menunjukkan wajah berseri, bahkan tampak semakin berseri.
__ADS_1
Senyumnya sangat gembira seraya menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, lalu menari dengan arahan berputar. Tak tentu arah, dengan dipenuhi tawa manis sang ibu. Imran hanya bisa menatap ibunya dengan nanar mata prihatin.
Sejak dahulu, ibunya itu tidak pernah mendapat kebahagiaan dalam ikatan rumah tangga, namun dia selalu tersenyum gembira. Kini ibunya kembali berniat merayakan hari ulang tahun pernikahan setelah beberapa kali ibunya berniat merayakan hari itu di tahun-tahun sebelumnya, dan hasilnya sellau sangat menyakitkan.
"Ma, hentikan ini, Ma. Mama gak perlu lagi ngerayain ulang tahun pernikahan Mama di malam ini. Ayah itu gak sayang sama kita." lirih Imran, namun Arsy tak memedulikannya. Arsy tetap menari dan berputar dengan tawa riangnya.
"Nanti Mama mau ngajak Papa dansa. Papa megang tangan Mama, trus meluk Mama kayak gini," Arsy bermonolog sendiri seraya memperaktikan tari dansanya. Menari bersama sang suami, namun padahal hanya ia sendiri. Arsy tampak sangat bahagia.
Arsy berputar dan berputar. Menari ke sana dan ke sini. Dan pada akhirnya tariannya berhenti saat matanya melihat sosok lelaki paruh baya yang sudah beberapa menit berdiri di sana yang juga sedari tadi memperhatikan tingkah sang istri.
Menyadari sang ibu yang berhenti menari, Inran pun ikut menyadari kehadiran seorang lelaki yang tak lain adalah ayahnya. Arsy tampak senang melihat kehadiran sang suami yang bernama Tiro. Sementara Tiro membuang pandangannya seolah tak ingin melihat istrinya.
Arsy mendekati Tiro dengan lari kecilnya, seraya berkata, "selamat ulang tahun pernikahan, Rajaku. Ratumu ini udah nyiapin pesta kita. Ayo kita dansa," Arsy menggenggam kedua tangan Tiro dan menariknya perlahan untuk berdansa bersamanya.
Namun Tiro menolaknya dengan melepaskan genggaman itu. "Aku gak mau dansa. Aku juga gak mau ngerayain ulang tahun pernikahan kita." ujar Tiro menatap tak suka ke arah Arsy.
"Ayo, Raja. Kita menari," ajak Arsy yang masih tampak senang dan berseri.
Plak!
Imran yang melihat ibunya ditampar keras oleh ayahnya, Imran langsung beranjak dari kursi dan berlari menghampiri sang ibu. Arsy merintih dan menangis pelan dengan telapak tangannya yang memegangi wajah yang baru saja mendapat tamparan.
Imran segera memeluk erat tubuh sang ibu yang kini menunduk ketakutan. Mata Imran menatap sang ayah dengan kemarahan.
__ADS_1
"Udah kubilang aku gak mau dansa dan gak mau ngerayain pesta yang kamu buat. Aku gak sudi ngerayain ulang tahun pernikahan kita!" ucap Tiro dengan marah.
Imran menyunggingkan senyum miringnya. "Seharusnya aku cegah Mama buat bikin pesta ini. Pesta yang dibuat dengan penuh cinta dan berharap akan ada kebahagiaan dalam pernikahannya. Tapi nyatanya, suaminya sendiri gak pernah memperlakukan istrinya dengan baik, apalagi membalas cinta dari istrinya."
"Seharusnya, Mama gak perlu repot-repot kayak gini bikin pesta buat seorang lelaki yang gak tau diri!"
"Lelaki kayak Papa gak pantes buat dapetin ini semua dari Mama!" tutur Imran menatap tajam ayahnya dengan kebencian yang terpendam.
Perkataan Imran berhasil membuat Tiro tak bisa menahan amarahnya lebih lama lagi. Tiro hampir saja menampar wajah Imran kalau dirinya tidak ingat sesuatu hal. Tiro menarik kembalitangannya dengan kasar. Mencoba menetralkan emosinya agar tidak bertindak kasar pada putranya itu.
Imran tertawa ringan kala menyadari sang ayah yang tak menyelesaikan layangan tangannya untuk menampar wajahnya. Sedangkan Tiro sengaja menghadapkan pandangannya ke arah lain, karena dirinya takut tersulut emosi jika masih melihat Imran yang akan terus membalas perkataannya.
"Pa? Kenapa gak ditampar? Lanjutin dong." ucap Imran.
"Takut aku kenapa-napa, terus Papa gak punya penerus perusahaan?" tanya Imran.
"Jangan harap aku bakal mau jadi penerus Papa." ujarnya.
Sontak Tiro menoleh. "Oh, ya? Gimana kalo Papa berenti biayain sekolah kamu, dan Mama idiot kamu itu bakal Papa masukin ke rumah sakit jiwa?" tanya Tiro
"Jangan pernah sebut Mama idiot! Mama gak perlu dibawa ke rumah sakit!" bantah Imran, namun justru Tiro melenggang pergi.
Imran mendengus kesal melihat sang ayah yang menurutnya sudah sangat kerlaluan. "Papa jahat! Aku gak akan pernah nganggep Papa jadi Papaku!" ujar Imran marah menatap kepergian Tiro yang tak merespon perkataannya.
__ADS_1
"Pangeranku, jangan berkata kayak gitu. Rajaku adalah Papamu," ucap Arsy seraya berusaha menghibur putranya dengan senyuman, meski Imran melihat wajah Arsy sudah dibasahi air mata.
"Ma, kalo lagi nangis jangan senyum. Aku tau Mama nangis, jangan coba buat ntembunyiin itu dari aku," balas Imran yang kemudian memeluk erat tubuh ibunya. Kemudian secara perlahan, tangis Arsy tak dapat dibendung. Tangisan itu pun semakin menjadi dan terdengar tak karuan.