Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
54. Diterima?


__ADS_3

Dan restu keempat dari Umi." Ujar Marwah kemudian. Membuat Fatimah kembali membungkam mulutnya karena terkejut sekaligus senang. Fatimah kemudian mengguncang kembali pundak dan tubuh adiknya. Ramdan hanya membalasnya dengan senyum tipis.


"Ayah hanya berpesan padamu, jagalah derajatmu sebagai seorang laki-laki. Jadilah imam yang baik. Dan jangan sampai kau kembali melanggar batasanmu. Abi bangga padamu karena kau telah berani mengambil keputusan ini." Ujar Bilal Membuat Ramdan tersenyum dan mengangguk.


Sementara Fatimah hanya bisa tersenyum lebar karena rencana sebelumnya yang telah ia rencanakan bersama sang adik, akhirnya ternyata juga. Ia tak dapat menduga, hari di mana adiknya mendapatkan restu ketiga dan keempat yaitu dari Abi dan Umi berhasil didapatkan.


Inilah rencana Sang Maha Penguasa Alam Semesta, tak dapat diduga bagai kado kejutan. Apa yang kita anggap berhasil ternyata tidak. Tetapi bukan berarti tidak berhasil, hanya saja dalam proses akan berhasil. Itulah prinsip orang-orang yang meyakini kekuasaan-Nya.


"Hari ini siapkan dirimu. Kita akan berkunjung ke rumah sakit dan bertemu dengan keluarga Vero." Ujar Bilal.


Flashback off.


Sesampainya di rumah sakit, mereka semua memasuki ruangan rawat Naura. Mereka berbincang tentang keadaan Naura, Bilal dan Hilman duduk di atas sofa di dalam ruangan itu, sementara yang lainnya berdiri dan mendengarkan. Setelah itu, Bilal membuat keluarga Vero kebingungan dengan apa yang sebenarnya akan mereka katakan selanjutnya.

__ADS_1


"Hilman, aku dan putraku serta keluargaku ke sini bukan hanya ingin menjenguk Naura. Tetapi juga ingin mengatakan sesuatu yang penting pada kalian." ujar Bilal.


"Apa yang akan Kau katakan? apa yang penting?" tanya Hilman bingung dan penasaran.


"Ramdan berniat baik untuk menikahi Naura," ujar Bilal membuat keluarga Vero tampak sedikit terkejut, terutama Naura yang seketika berusaha untuk bangkit dari posisi tidurnya ke posisi duduk di atas ranjang dibantu oleh Yuni yang berada di sebelahnya.


"Apa telinganya tidak salah dengar?" Begitulah yang Naura katakan dalam hatinya.


"Benarkah itu, Ram?" tanya Hilman memastikan.


Hilman menoleh ke arah putrinya dan juga istrinya. Begitu juga dengan Ramdan yang menoleh dan menatap Naura sembari tersenyum dengan setengah menunduk. Matanya melihat Naura yang masih tak percaya dengan apa yang telah didengarnya.


"Bagaimana denganmu, Naura?" tanya Hilman yang tak bisa membuat keputusan sendiri di kali ini.

__ADS_1


Naura terdiam dan kebingungan untuk menjawabnya. Dalam hatinya pun tak merasa pantas dinikahi oleh laki-laki yang shaleh. Sedangkan dirinya sendiri? masa lalunya begitu kacau.


"Tapi ... aku ini tidak seperti apa yang diinginkan Ramdan. Ramdan seharusnya memiliki pasangan yang sempurna, tidak sepertiku." ucap Naura pelan, membuat semuanya tertunduk diam.


"Tapi aku hanya ingin bersamamu. Aku akan berusaha memperbaiki masa depanmu. Kita akan memperbaiki masa depan kita. Aku berjanji akan selalu menjagamu. Bukankah cinta tidak memandang masa lalu, dan berlokasi pada masa depan?" ujar Ramdan kemudian.


Naura sudah tak bisa berkata-kata lagi. Tak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga menyimpan perasaan pada laki-laki itu.


"Jadi, apakah Kau bersedia menikah denganku?" tanya Ramdan. Walau awalnya Naura enggan memberi jawaban, tetapi akhirnya Naura menganggukinya. Dan hal itu membuat senyuman terukir di wajah Ramdan. Tak terkecuali dengan Fatimah dan yang lainnya yang juga ikut merasa senang. Yuni merasa senang dan lega karena ia yakin bahwa Ramdan mampu mengubah Naura secara drastis ke lebih baik lagi.


"Kalau begitu, kami menerima lamaranmu." ujar Hilman kemudian, membuat dua keluarga itu pun akhirnya sama-sama tersenyum bahagia.


Terutama Ramdan dan Naura. Kini pandangan keduanya saling bertemu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2