
Yuni dan Hilman, serta Maura sedang membaca salah satu surat Al-Quran bersama-sama setelah menyelesaikan shalat maghrib berjamaah. Mengharap ridho dan merayu sang Pencipta untuk selalu menjaga keluarga mereka dan berharap selalu dipermudah dalam segala kebaikan.
Mereka mengakhirinya dengan membaca beberapa dzikiran yang selalu dibaca setiap malam. Dan.sebagai penutup ibadah mengaji mereka.
Maura mencium telapak tangan kedua orang tuanya setelah menyelasaikan dzikir mereka. Disusul Yuni yang mencium telapak tangan suaminya, dan Hilman mengecup keningnya.
Maura tersenyum menyaksikan kedua orang tuanya yang terlihat begitu bahagia dan harmonis dalam sebuah keluarga. Karena sangat jarang, Maura menyaksikan kedua orang tuanya bertengkar. Maura merasa sangat bersyukur.
"Ih, apaan sih." ucap Yuni seraya tersenyum malu ketika Hilman mencubit pipinya di hadapan anak bungsunya, Maura.
Herman terkekeh, "Kenapa? Kamu malu ada Maura di sini? Dia malah seneng lho," ucap Hilman disambut anggukan oleh Maura dengan senyum lebarnya.
"Kita ambil pelajarannya aja. Maura, perlu kamu tau, Ayah dan Bunda dulu gak pernah pacaran di masa muda, sampai akhirnya kami memilih pacaran halal. Dan perlu kamu tau juga, pacaran setelah menikah jauh lebih indah dibandingkan sebelum menikah. Selain kita menghindari dosa pacaran sebelum menikah, kita juga dapat pahala saat pacaran setelah menikah. Bukankah begitu, Bun?" ucap Hilman panjang lebar.
"Betul sekali, Maura. Dan selalu ingatlah, kelak pilih lelaki sejati yang rela meninggalkan dosa dan maksiat demi menggapai pahala bersamamu." sambung Yuni dengan senyum manisnya.
"Ma sya Allah, indah sekali senyuman yang Kauciptakan ini ya Allah," goda Hilman menatap istrinya dengan takjub.
__ADS_1
Yuni sontak mencubit pinggang Hilman hingga membuatnya meringis pelan. Keluarga itu tertawa lepas.
...****************...
Imran, Dylan, dan Arul menunggu sebuah botol sirup yang berputar untuk berhenti dan menentukan giliran pemain. Barangsiapa yang menjadi giliran, akan mendapat tantangan sebagai pemain. Mereka masih berharap-harap cemas. Sorot mata ketiganya tak lepas menatap botol yang masih berputar semakin lambat. Hingga akhirnya botol itu berhenti.
Brakk!
Dylan menggebrak meja kecil di hadapan ketiganya, sebagai rasa syukur karena bukan dirinyalah yang menjadi giliran. Juga sebagai tanda gembira karena yang menjadi giliran adalah orang yang ia tunggu sejak awal permainan. Akhirnya tuhan mengabulkan.
"Oke, jadi kita berdua kasih tantangan apa?" tanya Arul antusias pada Dylan. Sedang Imran hanya mengangkat sebelah alisnya melihat kedua sahabatnya yang begitu antusias saat tiba gilirannya.
Dylan tersenyum, "Gue udah tau. Akhir-akhir ini, Imran suka aneh kalo lagi deket sama gadis yang namanya Maura. Gimana kalo sekarang juga, Lo, Imran telepon Maura!"
Imran terkejut dengan apa yang Dylan katakan. Spontan, Imran menepuk pundak Dylan dengan kesal. "Oh, ternyata Lo udah nyiapin tantangannya. Kepikiran juga ya!"
Dylan meringis pelan. Sedang Arul mengambil ponsel milik Imran yang tergeletak di atas nakas kamar. Segera membuka halaman kontak dengan cepat di sana.
__ADS_1
"Eh, Lan! Imran nyimpen kontak Maura!" seru Arul dengan suara yang cukup keras.
Imran yang menyadari hal itu, panik dan segera beranjak untuk merebut ponselnya dari tangan Arul.
"Wah! Curiga gak tuh?" sahut Dylan.
"Berisik!" ketus Imran membuat kedua sahabatnya tertawa pecah.
...****************...
Dret!
Dret!
Maura mengambil ponselnya dan melihat nama yang tertera di sana. Kak Amira, kakak kelasnya yang dikenal sebagai wakil ketua Osis di sekolahnya.
"Halo? Assalamualaikum, Kak?"
__ADS_1