Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
11. Hamil?


__ADS_3

Tok tok tok


-Brugh-


"Ramdan!"


"Ada apa lagi Kak?" Ramdan mendesah.


"Kau tahu? Karena kau, aku jadi menanggung malu di depan banyak orang!" Baron menghampiri Ramdan yang tengah duduk di ranjang susun.


"Mengapa menyalahkan aku? Dan memangnya kau malu kenapa?"


"A-ku tadi mirip--"


"Ah, lupakan saja! Aku tak ingin mengungkitnya"


"Baiklah" Ramdan membaringkan tubuhnya dan menarik selimutnya.


"Kau menyebalkan! Aku akan pastikan, kau akan sopan padaku setelah aku menjadi Kakak iparmu" Umpat Baron seraya menatap Ramdan yang sudah memejamkan matanya.


"Kakak iparku? Oh, baiklah. Semoga Allah mengabulkan mimpimu" Ujarnya tanpa membuka mata.


Baron mendengus kesal. Kemudian Ia mengambil bajunya di lemari, untuk mengganti pakaiannya di kamar mandi.


**


Berdiri di balkon, memandang langit malam yang penuh bintang. Dan menikmati helaan angin dingin di malam hari. Itulah yang sering di lakukan Naura untuk meredakan kesedihannya, selain meminum alkohol.


Bintang.. Jadikan persahabatan kami menjadi sepertimu.. Indah, terang dan abadi..


Dan seperti bulan purnama. Keterangan yang sempurna..


Kenangan selalu melayang di matanya. Seandainya saja takdir tak memilih kejadian itu, mungkin persahabatan tak akan putus.


Brugh


Mendengar ada yang terjatuh, ia menengok dan membalikkan tubuhnya.


"Mbak Susi?"


"Iya, Non. Mbak bawa pakaian yang akan Non bawa ke pesantren" Susi mendesah lelah.


"Pakaian? Maksudnya, gamis dan hijab?"


"Iya, Non. Bapak dan Ibu yang membelinya"


"Sebanyak ini?" Tanya Naura memastikan, saat ia melihat tas yang berisi pakaian, cukup besar. Dan hanya dibalas anggukan oleh Susi.


"Ya, sudah, Non. Mbak keluar dulu ya"


"Hm" Jawab Naura dengan deheman.


Kemudian Susi berlalu.


Naura menarik nafas panjang dan menghelanya.


Kemudian ia berjalan menuju tempat tidur. Melewati tas besar itu, tanpa meliriknya. Ia tak peduli seperti apa pakaiannya yang akan ia pakai saat di pesantren nanti.


Naura menghempaskan tubuhnya hingga terlentang diatas kasur yang empuk dan besar. Ia menatap kosong langit-langit kamar.


Melihat sekelilingnya, setiap sudut kamarnya. Dan terakhir melihat dan menatap dua bingkai foto yang besar di dinding kamar. Kedua foto itu menggambarkan seluruh anggota keluarganya dan para sahabanya saat hari ulang tahunnya kemarin.

__ADS_1


Naura tiba-tiba ingat sesuatu. Beberapa bulan lagi, adalah hari ulang tahunnya. Mungkin ia tak bisa merayakannya bersama orang-orang yang selalu dekat dengannya.


Ia pun membayangkan akan seperti apa ia nanti setelah ia mulai hidup di pesantren. Apa ia akan menderita dan tersiksa? Entahlah, rasanya ia tak ingin menyanggupinya.


Dan ia mungkin akan merindukan orang tuanya, adik kesayangannya, sahabatnya, kesehariannya, dan kebiasaannya.


Kini ia masih tengah membayangkan semuanya. Namun tiba-tiba, rasa sakit di perutnya mulai kambuh. Ia memegang perutnya yang sakit. Rasanya seperti melilit, dan nyeri. Ia juga merasakan mual, dan ingin muntah. Ia segera beranjak dari tidurnya untuk menghampiri kamar mandi.


Hoek


Uhuk uhuk..


Hoek


Kini wash tafle nya di penuhi cairan yang keluar dari mulutnya.


Akhirnya nyeri dan mual yang ia rasa, kian mereda.


"Apa yang terjadi padaku?" Gumamnya.


Ia berjalan keluar kamar mandi untuk kembali ke tempat tidur. Ia mulai membaringkan tubuhnya dan menarik selimut hingga menutupi sebagian tubuhnya. Rasa kantuk sudah ia rasakan, dan matanya terpejam begitu saja.


Pagi akhirnya tiba. Matahari sudah mulai menyinari bumi. Ruangannya sudah terpapar keterangan. Ia membuka matanya perlahan. Berusaha mengumpulkan kesadaran dengan menggeliatkan tubuhnya.


Ia melirik kearah jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul tujuh pagi.


Dret dret..


Handphone nya berdering diatas laci. Ia segera meraihnya. Wajahnya terlihat kebingungan ketika ia melihat nama kliennya di handphone.


"Halo?" Sapa nya ke ujung telephone.


"Pagi. Ada apa ya?"


Ibu lupa? Kita 'kan ada pertemuan tentang proyek hari ini


"Hmm, Pak! Saya mohon maaf sebesar-besarnya pada Bapak. Sepertinya, saya harus membatalkan kerja sama kita"


Mengapa begitu Bu? Kita 'kan sudah saling memantapkan untuk bekerja sama. Jika kerja sama kita di batalkan, saya akan rugi, Bu!


"Iya, Pak. Maaf ya. Saya akan membalikkan uang yang sudah Bapak transfer. Dan masalah kerugian Bapak yang sudah mempersiapkan separuhnya, saya minta maaf"


Gimana sih Bu? Jika tidak ingin bekerja sama, seharusnya Ibu bilang dari awal. Saya jadi menyesal telah menerima kesepakatan yang Ibu berikan!


Tutt


Seorang kliennya di seberang telephone terdengar sangat kesal. Kata-katanya pun membuat Naura tersinggung. Bahkan klien itu mengakhiri panggilan telephonenya terlebih dahulu.


Naura juga tentu merasa kesal setelah semua yang terjadi. Ia melempar handphone nya keatas kasur. Mengusap wajahnya dengan kasar. Ia menghapus air mata yang sempat menitik. Kemudian bergegas masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Karena kemarin, ia lupa untuk


membersihkan tubuh. Hingga bau badan pun tercium olehnya.


**


"Shodakallahul 'adzim"


"Alhamdulillah, pengajian kita sudah selesai. Setelah ini, kalian langsung membersihkan diri dan juga membersihkan kamar dan lingkungan pesantren ya!" Titah Baron lembut pada para junior ikhwan yang telah diajarnya.


"Siap?"


"Siap!" Jawab semuanya pada Baron.

__ADS_1


Semuanya bergegas berbaris untuk bersalaman dengan Baron yang kemudian berlalu ke kamar masing-masing. Melanjutkan aktivitas yang telah ditugaskan.


...


Di lain majlis. Para santriawati atau pun para akhwat, juga tengah bersalaman pada Fatimah dan Shela. Setelah semuanya keluar majlis, Fatimah dan Shela pun ikut keluar.


"Kak, aku boleh pinjam buku Tafsir gak? Karena aku ingin mempelajarinya lebih baik lagi" Seru Shela.


"Tafsir?. Nanti Kakak cari dulu ya di lemari"


"Makasih Kak" Senyum Shela bahagia.


Di tengah perjalanan menuju kamar, Fatimah dan Shela berpapasan dengan Baron yang juga tengah berjalan menuju kamar.


"Eh? Kak Baron? Habis mengajar ya?" Tanya Shela.


"Iya. Hm, kalian mau kemana?" Jawab baron yang kemudian bertanya balik.


"Kamar" Jawab Fatimah singkat dengan sedikit senyum yang dipaksakan.


"Ih, Kak Fatim gitu banget sama Kak Baron" Umpat Shela.


"Jangan berkepanjangan kalo ngobrol sama lain muhrim! Harus singkat! Biar gak menebar pesona!"


"Iya, Fat. Maaf ya. Saya memang bukan muhrim"


"Nah, maka dari itu, Kak Baron harus segera menghalalkan!" Ujar Shela.


"Insyaallah" Jawab Baron seraya tersenyum.


"Apa?!" Tanya Fatimah yang terkejut dengan jawaban Baron. Dan Baron dibuat gelagapan. Baron menggeleng cepat.


Fatimah menghela nafas.


"Ayo, Shel! Kita terlambat! Kami pergi duluan ya!" Ujarnya seraya menarik tangan Shela dan berlalu meninggalkan Baron.


"Apa aku harus--" Pikir Baron seraya tersenyum sendiri.


"Ah, aku belum siap untuk itu. Bagaimana jika aku tidak berhasil menjadi imam yang baik? Ah, lupakan saja. Biar Allah yang merencanakan semua itu" Kemudian ia berlalu menuju kamar.


Di tengah perjalanan..


"Mengapa kau mengatakan itu padanya?" Kesal Fatimah.


"Memangnya kenapa? Apa Kakak malu?" Goda Shela.


"Tentu saja aku malu. Kau ini bagaimana?" Wajah Fatimah masih terlihat kesal.


"Baiklah. Maafkan aku" Sesal Shela seraya menjewer kedua telinganya sendiri di hadapan Fatimah.


**


Pagi ini, Naura menghabiskan hampir satu jam di kamar mandi. Karena selain mandi, ia juga sibuk membersihkan mulut dan Wash Tafle yang terus saja ia kotori dengan cairan dan lainnya yang dimuntahkan olehnya.


Akhirnya Naura keluar dari kamar mandi setelah ia merasa mendingan. Ia berjalan sedikit sempoyongan seraya memegang perutnya. Perlahan ia duduk di tepi ranjang.


"Gue sering mual dan sering muntah" Gumam Naura berpikir.


"Apa gue--"


"Hamil?" Naura terkejut sendiri.

__ADS_1


__ADS_2