Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
7. Menatap


__ADS_3

"Lepaskan aku ba*ingan! Aku tidak ingin tanganku disentuh oleh siswa ba*ingan seperti kalian!" Maura berusaha menepis tangan mereka yang mencengkram di tangannya.


"Apa kau bilang? Ulangi sekali lagi!" Bentak salah satunya pada Maura.


"Ba*ingan! Aku bilang kalian adalah ba*ingan!" Tukas Maura memberanikan diri.


Tangan salah satu dari kedua siswa itu mengangkat tangannya yang ingin menampar pipi Maura. Maura memejamkan matanya saat tangan itu akan mendarat di pipinya.


Hap


Tangan itu ditahan oleh tangan seorang siswa tinggi, bernama Imran. Ia adalah ketua Osis di sekolahnya. Imran menatap dengan tajam kearah dua siswa yang tengah mengganggu Maura.


Kedua siswa ba*ingan itu membelalakkan matanya. Dan mereka seketika menepis tangan Maura.


"Pergi kalian! Atau aku akan--"


Imran belum selesai bicara, kedua siswa itu sudah berlari ketakutan.


Maura sempat memandang wajah manis Imran ketika Imran lengah. Namun ia sadar, bahwa Imran bukan muhrimnya. Dan ia langsung memalingkan wajahnya dengan menunduk.


"Apa kau terluka?" Tanyanya datar menatap Maura.


Ya, Imran memang sosok yang berwajah dingin. Ia juga sosok lelaki yang banyak disukai kaum hawa di sekolahnya. Namun begitu, ia tidak sedikit pun tertarik pada para siswi yang sering menggodanya.


"Tidak. Aku tidak terluka. Terima kasih atas bantuannya" Jawab Maura seraya menunduk.


Imran tahu bahwa tangan Maura memerah karena cengkraman tadi. Namun ia juga mengerti bahwa Maura adalah gadis baik-baik yang tidak sembarang orang bisa menyentuhnya. Dan akhirnya Imran mengangukannya.


"Syukurlah" Imran memalingkan pandangannya, karena ia pun tahu bahwa Maura merasa risih padanya.


"Terima kasih. Kau sekarang boleh pergi. Aku masih menunggu jemputan" Ujar Maura seraya terus menunduk. Dan menghadapkan tubuhnya pada jalan yang sepi.


"Tidak" Ujar Imran yang sudah berdiri tegap dengan sedikit jarak, disamping Maura.


Maura mengernyitkan dahi dan merasa sedikit waspada karena disana hanya ada mereka berdua.


"Kau tidak usah takut. Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang dilakukan dua anak tadi. Aku akan berdiri disini sampai mobil jemputanmu datang. Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja"


Maura tertegun dengan apa yang baru saja didengarnya. Namun Maura tidak berani memandang wajah sang ketua Osis.


"Apa kau tidak pulang?" Tanya Maura memberanikan diri.


"Sebagai ketua Osis, setiap hari aku mempunyai urusan setelah bel berbunyi. Dan aku akan pulang jam satu siang"


Mereka saling terdiam. Hingga suasana hening pun mengisi tempat itu.


Setelah beberapa menit menunggu, mobil akhirnya tiba di hadapan mereka.


"Non. Silakan masuk" Sapa sang sopir di jendela yang terbuka.


Maura segera melangkah menuju pintu mobil dan membukanya. Imran menatap punggung Mauradengan tatapan yang masih datar.

__ADS_1


"Sekali lagi, terima kasih" Ujar Maura menatap Imran. Dan hanya dibalas anggukan oleh Imran. Mereka berdua tidak memberi senyum satu sama lain.


Sejujurnya, Imran terpaku karena matanya berpapasan dengan mata Maura yang indah. Imran akhirnya tersadarkan ketika Maura memalingkannya kembali.


Kemudian Maura langsung duduk di kursi mobil. Dan ia sedikit menggebrak pintu mobil agar tertutup rapat.


Imran masih memandang Maura sampai pintu mobil ditutupnya. Dan mobil pun melaju sampai tak terlihat lagi.


Imran menyentuh dada. Ia tak tahu apa yang terjadi di dalam dadanya.


"Apa tadi dia menatapku? Yang ku dengar selama tiga tahun ini, seorang Maura tidak pernah menatap seorang laki-laki karena ia selalu menundukkan matanya. Apa mungkin aku hanya salah melihat?" Tanyanya bertubi-tubi pada dirinya sendiri.


"Ah, sudahlah"


Imran segera masuk kembali ke lingkungan sekolah untuk membereskan urusan tugasnya.


...


Di tengahnya mobil melaju, Maura terdiam di kursi mengingat apa yang terjadi.


"Apa yang baru saja terjadi?" Gumamnya.


"Sudah berapa menit aku berdiri bersamanya? Dan apakah tadi aku menatapnya?"


"Benarkah aku menatapnya? Mengapa bisa?"


"Astaghfirullahal'adzim" Maura menyandarkan kepalanya.


"Kenapa Non? Lagi jatuh cinta ya?"


"Ih, enggak kok" Jawab Maura ketus.


"Tadi tuh Maura di ganggu sama dua siswa. Bahkan mereka sampe mau nampar pipi Maura, Pak"


"Hah? Trus, Non Maura gak kenapa-napa 'kan?"


"Enggak. Karena langsung dicegah sama yang tadi. Trus dua anak tadi, lari deh"


"Itu namanya, pahlawan Non Maura tau"


"Ngaco" Ketus Maura kesal.


"Yang tadi itu namanya siapa Non?"


"Nggak tau" Ketus Maura berbohong.


*


"Mir, bawa gue ke kamar aja. Shht.. " Naura kini tengah di rangkul Mirsha untuk berjalan menuju anak tangga.


"Beneran lo gak mau ke rumah sakit? Gue takut lo kenapa-napa" Cemas Mirsha.

__ADS_1


"Enggak Mir. Ini cuma maag. Paling juga besok sembuh lagi"


Mereka menaiki anak tangga satu persatu. Dan akhirnya tiba di depan pintu kamar Naura.


"Naura? Kamu kenapa Nak?" Yuni yang baru saja keluar kamar, melihat Naura yang tengah dirangkul Mirsha. Kemudian menghampiri sang anak.


"Enggak Bun. Ini cuma maag"


"Kemudian Yuni dan Mirsha membantu Naura untuk masuk kamar dan berbaring diatas ranjang.


"Bunda ambilkan makanan dulu ya buat kamu"


"Hm, tante. Mirsha mau langsung pamit aja ya. Soalnya masih ada urusan" Ujar Mirsha pada Yuni.


"Kok pulang? Tante mau bikin minum dulu"


"Gak usah Tante. Makasih"


"Ra, gue pulang dulu. Lekas sembuh ya" Kemudian Mirsha langsung berlalu begitu saja tanpa basa-basi.


"Mir!" Naura berusaha memanggil, namun Mirsha sudah melewati pintu.


Naura merasa bersalah karena tadi sempat ribut dengan Mirsha.


Apa mungkin kejadian tadi yang membuat Mirsha kayak gini?. Batinnya.


Yuni yang sedari tadi hanya terdiam memperhatikan Naura dan Mirsha yang sedikit berbeda. Yuni akhirnya memilih untuk ke dapur untuk membawa makanan untuk sang anak.


...


Setelah menuruni anak tangga. Akhirnya Yuni tiba di dapur. Ia segera mengambil piring putih besar. Dan menyiuk nasi di dalam rice cooker. Serta lauk pauknya. Setelah semuanya siap diatas piring. Ia langsung berjalan menuju kamar Naura kembali.


"Assalamu'alaikum" Maura mengucap salam setelah tiba di rumahnya.


"Waalaikumussalam"


"Bunda mau makan siang? Ini 'kan masih jam sebelas" Tanya Maura seraya menghampiri sang bunda.


"Ini buat kakakmu. Dia sakit maag"


"Kok bisa? Bukannya tadi pagi sarapan ya?" Kemudian Maura mengecup punggung tangan Yuni.


Yuni menggeleng.


"Mungkin aja, kemaren telat makan. Ya udah kamu langsung ganti baju ya" Yuni hanya dibalas anggukan oleh Maura. Kemudian Yuni segera menaiki anak tangga hingga ia tiba di depan pintu Naura. Ia langsung masuk dan menaruh makanan tadi diatas meja Naura. Kemudian ia duduk di sisi ranjang.


"Kamu jaga kesehatan. Kalo nanti kamu jauh dari bunda, ayah, adikmu, dan sahabat, kamu harus bisa jaga diri kamu sendiri" Ujar Yuni lembut.


"Maksud Bunda?" Tanya Naura tak mengerti.


Yuni kebingungan harus menjawab apa. Jika ia memberi tahu keputusan sang suami, ia takut Naura akan menolaknya. Tapi jika tak memberi tahu, pasti Naura akan sangat terkejut dan bersedih.

__ADS_1


__ADS_2