
Beberapa menit kemudian, makanan yang dipesan Imran sudah tersaji di mejanya. Dua lembar sandwich berisikan sayuran dan daging, bersama segelas susu cokelat hangat, serta segelas air mineral sebagai minuman penutupnya.
Imran mulai menyantap sarapannya dengan lahap. Di tengah kegiatannya, dirinya harus diganggu oleh ponselnya yang berdering. Tertera nama di ponselnya, Amira. Imran meneguk air mineral sebelum mengangkat panggilan suara itu dengan sedikit kesal.
"Ada apa?" tanya Imran tanpa basa-basi.
"Dih, galak banget sih. Baek dikit kek ke gue." ujar Amira dari seberang telepon.
"Lo udah ganggu selera makan gue." balas Imran.
"Oh, jadi lo lagi makan. Ya udah, anggap aja itu karma buat lo karena lo!" balas Amira tak ingin kalah.
Imran menghela napasnya untuk tidak emosi. "To the point aja deh, lo mau ngomong apa?" tanya Imran tak sabaran.
"Gue dan temen-temen gue udah ada di taman kota. Lo dan pasukan lo di mana?" tanya Amira.
"Gue gak jadi bimbel. Nanti Dylan dan yang lain pasti bakal ke sana. Mereka udah bilang gitu." jawab Imran.
"Lho, kenapa? Lo gak jelas banget sih. Katanya lo yang ngajak, tapi lo juga yang gak ikut!" tukas Amira kesal.
"Gue lagi ada acara keluarga."
"Hah? Emang lo udah berkeluarga?" balas Amira.
"Terserah." ujar Imran ketus.
...----------------...
Di sisi lain, Maura dalam perjalanan menuju rumah sakit dengan menaiki mobil milik Bilal dan Marwah, mereka pergi bersama. Fatimah dan Baron ikut di dalamnya. Baron dan Fatimah tak henti-hentinya membuat kebisingan di dalam mobil meskipun tempat mereka berjauhan, Fatimah duduk bersama Maura di bagian kursi kedua, sedangkan Baron duduk di bagian kursi ketiga, tepat di belakang Fatimah.
"Itu adalah salahmu, apa kau masih belum paham juga?!" tukas Fatimah tanpa menoleh ke arah belakang.
__ADS_1
Baron mengernyitkan dahinya. "Mengapa hanya aku yang disalahkan? Bukankah kau juga salah? Seharusnya kau tahu sedang di mana kau berada, kau pikir rumah sakit adalah tempat yang hanya ada wanita saja?" balas Baron tak mau disalahkan.
"Hey, kau memang menyebalkan!" tukas Fatimah menoleh ke arah belakang dan menatap Baron dengan kesal.
"Seharusnya kau tahu batasanmu sebagai laki-laki!" ujar Fatimah.
"Dan kau juga seharusnya lebih dulu mengetahui batasanmu sebagai wanita! Lagi pula aku tidak melihatmu dengan nafsu." ujar Baron tenang.
Fatimah merasa anarahnya ingin sekali meledak, "Ah, Umi, Abi. Lihatlah muridmu ini, dia begitu menyebalkan! Mengapa Umi dan Abi begitu sangat menyayanginya selama ini? Aku kesal padanya," keluh Fatimah menghadapkan dirinya kembali ke depan, sembari melipat kedua lengannya di depan dada.
Marwah, Bilal, dan Maura hanya bisa terkekeh geli mendengarnya. Begitu pun dengan Baron yang tersenyum penuh angkuh.
"Baron itu adalah anak yang sangat baik bagi kami. Hanya saja nakal bagimu. Tenanglah, sudah biasa kalau jodoh itu diawali dengan pertengkaran." ujar Marwah membuat Fatimah membulatkan matanya penuh.
"Apa? Umi menganggap Aku dan Si Birun itu jodoh? Oh, Umi ku mohon jangan katakan itu," keluhnya lagi.
"Hey, namaku Baron Alvero. Bukan Birun." ujar Baron memberi tahu.
"Ehm, menurutku tidak. Kakakku itu sangat baik dan penyayang. Mungkin hanya Kak Fatim saja yang mengalaminya." jawab Maura dengan senyum simpulnya.
"Apa kau sudah mendengarnya?" tanya Baron kepada Fatimah.
"Diam Kau! Apa benar Kau hanya menjengkelkan di depanku saja?" balas Fatimah menoleh sekilas ke arah belakang dengan kesal.
Baron tersenyum dan sedikit memanjukan kepalanya. "Itu adalah sikap istimewaku padamu untuk membuatmu luluh." bisik Baron di telinga Fatimah, namun suaranya masih bisa terdengar jelas oleh Maura, tetapi tidak dengan Bilal dan Marwah.
Fatimah kembali membulatkan bola matanya sempurna setelah mendengar ucapan Baron di telingannya, sementara Maura yang juga mendengar itu ikut terkejut dan menutup mulutnya sendiri dengan telapak tangannya. Sedangkan Baron tersenyum lebar dan menarik kembali tubuh dan kepalanya ke belakang.
"Abi! Lihatlah dia begitu menyebalkan!" ujar Fatimah membuat seisi mobil menutup telinganya karena suara Fatimah begitu nyaring, bahkan membuat pengendara lain menoleh ke arah mobil dan merasa sumber suara yang berasal dari dalam mobil itu. Ah, sangat memalukan.
"Sudah, sudah." ucap Bilal yang hampir saja terlepas dari setirnya karena sempat terlonjak oleh suara putrinya itu.
__ADS_1
"Lihatlah, ini salahmu." ucap Baron pelan seraya menepuk kecil pundak Fatimah.
"Diamlah!" tukas Fatimah dengan nada yang juga pelan dengan kedua tangannya yang membungkam mulutnya sendiri.
Baron terkekeh geli melihatnya.
Akhirnya mobil itu pun tiba dan langsung diparkirkan di halaman parkir rumah sakit. Mereka mulai menuruni mobil dan memasuki bangunan itu. Maura memandang sekilas sebuah motor berwarna hita yang juga terparkir di sana. Seperti pernah melihatnya, namun sayangnya ingatan Maura tidak sampai. Maura memilih untuk segera melangkah masuk dan meninggalkan halaman parkir.
"Apa kalian sudah makan?" tanya Bilal kepada Fatimah, Baron dan Maura. Mereka bertiga menggelengkan kepala.
"Sebenarnya Aku sudah sempat makan, tetapi hanya sedikit. Apa kami boleh ke kantin dahulu?" ujar Baron memegangi perutnya sendiri.
"Kak, bukankah Kakak makan satu piring? Mengapa berkata sedikit?" tanya Maura dengan raut wajah polos.
Sedetik kemudian Fatimah membungkam tawanya yang seakan pecah, rasanya ia ingin sekali menertawakan Baron. "Pantas saja badanmu gemuk." ucapnya meledek.
"Kau terlihat lebih cantik jika kau tertawa dan meledekku." ujar Baron membuat Fatimah seketika menghentikan tawanya dan memutar bola mata malas.
Sementara Bilal, Marwah dan Maura menggelengkan kepalanya pelan dan terkekeh melihat tingkah mereka.
"Ya sudah, pergilah ke kantin dan cepatlah menuju atas." titah Bilal yang langsung ditanggapi anggukkan dari Baron, Fatimah, dan Maura. Kemudian Bilal dan Marwah melenggang pergi.
Sementara ketiganya mulai berjalan menuju kantin. Dan setibanya di kantin, mereka melihat-lihat kursi yang kosong, sedangkan pandangan Maura justru terpaku pada seorang laki-laki yang ia kenal. Ya, Imran.
Sedikit terkejut mendapati kakak kelasnya yang juga berada di rumah sakit yang sama. Pikiran Maura bertanya-tanya. Mengapa Imran ada di sini? Apa ada keluarganya atau saudaranya yang dirawat di sini? Tapi mengapa dia sendirian, di mana keluarganya atau temannya? Tidak mungkin dirinya kemari dari Jakarta ke Bogor sendirian?
"Maura, ayo!" ajak Fatimah yang menyadari Maura yang tengah melamun.
Suara Fatimah ternyata berhasil membuat Imran menoleh, apalagi saat mendengar nama gadis yang disebutkan. Imran terkejut dan mematung saat menyadari keberadaan Maura yang juga berada di kantin tersebut.
"Sudah, Mir. Aku ada urusan." gumam Imran kepada Amira di seberang telepon. Tanpa menunggu jawaban dari Amira, panggilan suara itu sudah diakhiri.
__ADS_1