
Sekian menit kemudian, mereka memasuki kamar mereka masing-masing karena malam sudah semakin larut. Baron terkesiap dengan kamar yang mengingatkannya kembali pada masa dahulu. Baron tersenyum lebar, kemudian membersihkan badannya dan bersiap untuk tidur.
Keesokan harinya, mentari sudah hampir menyinari sebagian bumi. Maura sudah siap dengan seragam sekolah putih biru nya dan kini tengah berada di ruang makan. Ia tengah membantu asisten menyiapkan sarapan.
Tak lama kemudian, Baron keluar dari kamarnya seraya sibuk mengacingkan kancing lengannya. Ia duduk di kursi meja makan dan memperhatikan adiknya yang tengah masak. Ia tersenyum senang melihat adiknya yang sekarang sudah mulai tumbuh menjadi remaja yang rajin dan snagat terampil.
"Shibahul khoir," sapa Maura dengan senyum senang melihat sang Kakak di depan meja makan.
"Shobahan nur," balas Baron dengan senyum yang senang pula.
"Bibi seneng liat Non Maura dan Den Baron bisa kayak dulu lagi,"
Maura dan Baron terkekeh pelan. "Aku tidak pernah menyangka akan berada di sini lagi, meski pun hanya dua hari," balas Baron. Namun justru asistennya itu tampak kebingungan melihat Baron.
"Kok Den Baron beda bahasanya?" tanya asisten itu yang kemudian membuat Maura dan Baron tertawa geli.
"Gak papa Bi, udah, ayo kita makan." ajak Maura seraya duduk di kursi.
"Eh, gak Non. Bibi masih ada kerjaan, Non dan Den duluan aja," ucap asisten kemudian berlalu.
Pagi ini, adik dan kakak itu berbincang banyak hal dan tertawa bahagia. Tak lama, di tengah mereka asik berbincang riang, ketukan pintu membuat mereka menoleh secara bersamaan. Disusul juga dengan bunyi bel rumah.
Tok!
Tok!
Tok!
Maura beranjak dan segera membuka pintu rumah. Terlihat seorang gadis dengan pakaian seragam yang sama seperti Maura, hanya saja tidak memakai hijab.
"Assalamualaikum," ucap Amira, gadis itu.
"Waalaikumussalam, ayo masuk Kak."
"Siapa Ra?" tanya Baron tanpa menoleh ke arah pintu. Ia masih sibuk dengan sarapannya.
"Kenalin, Kak. Ini Kak Amira, Kakak kelas aku." ujar Maura yang kemudian di susul dengan senyum manis dari Amira. Baron membalas senyuman itu dengan senyum kecil.
"Ooh,"
__ADS_1
Baron segera mengalihkan pandangannya kembali ke piring saat menyadari gadis kecil itu tak menggunakan penutup aurat.
"Kak udah makan?" tanya Maura sembari membereskan piringnya.
"Udah," jawab Amira.
"Ya udah, tunggu sebentar ya," ujar Maura berjalan untuk menyimpan piringnya ke atas washtafel air, dan berjalan menuju lantai dua untuk mengambil tas sekolahnya.
Sementara itu, Amira memilih duduk di atas sofa selagi dirinya menunggu Maura. Ia membuka ponsel dan matanya terbuka sedikit lebar kala mendapati sesuatu pesan. Di waktu yang bersamaan Maura turun dari anak tangga dan mendekati Amira.
"Kenapa Kak?" tanya Maura bingung saat melihat raut wajah Amira yang tampak kesal menatap layar ponselnya.
"Hah? Eh, kamu udah turun?" Amira tersadar.
"Iya, kakak kenapa?" tanya Maura.
"Sebaiknya kita keluar dulu aja deh ya. Yuk," ujar Amira kemudian mengajak Maura keluar rumah. Tentunya setelah bersalaman dengan Baron.
"Kak Baron, makannya jangan banyak-banyak. Udah gemuk, tambah gemuk lho," ujar Maura memberi tahu sembari tertawa geli. Baron hanya tersenyum lebar dengan mata yang menyipit, lalu kembali melanjutkan sarapan yang justru seperti bukan sarapan, tetapi makan siang, karena dilihat dari porsinya yang melewati porsi sarapan.
Setelah mereka di luar, mereka melihat seorang lelaki remaja yang berdiri di dekat pagar rumah. Memakai seragam yang sama dengan mereka, dan seperti tak asing lagi dilihat.
Namun tak ada jawaban dari Amira, hanya dengusan kasar saja yang terdengar. Sementara Alex yang sedari tadi berdiri dengan jedua tangannya yang dilipat di depan dada, menatap Maura dan Amira yang baru saja keluar melewati pintu. Lalu berjalan menghampiri mereka dengan langkah yang tampak tegap.
Alex sedijit menyunggingkan senyum kecil yang tampak menawan. Maura menunduk saat Alex mendekati mereka. Sedangkan Amira justru menatap tajam ke arah lelaki yang dianggapnya tak waras.
"Selamat pagi," ucap Alex.
"Ngapain lo di sini? Mau ngapain? Jangan bilang mau berangkat bareng sama gue. Udah deh, lo mending pergi aja, gak ada gunanya." bukannya membalas sapaan dari Alex, Amira justru menghujaninya dengan pertanyaan dan hujatan.
Alex memutar bola matanya, tak ingin mendengarkan ocehan dari gadis itu. "Kalo emang gue mau berangkat bareng sama lo, kenapa?" tanya Alex sembari menelusupkan tangannya ke dalam saku celana.
"Lo masih nanya kayak gitu ke gue?" Amira berbalik tanya.
"Udah, Kak. Udah. Mending kita buruan berangkat deh, bentar lagi kita terlambat." ujar Maura mengingatkan dan memberi saran.
Amira mendengus kesal sejenak ke arah Alex, kemudian mengajak Maura untuk melenggang pergi dari hadapan lelaki itu. Sementara Maura hanya bisa menuruti ajakan dari Amira. "Ayo, Ra." ucap Amira sebelum berjalan pergi.
"Mir," panggil Alex dari arah belakang. Ya, Alex mengikuti.
__ADS_1
Amira dan Maura hanya menoleh tanpa berniat untuk bertanya apapun.
"Kita harus bernagkat bareng," ujar Alex dengan raut wajah yang seperti biasanya, tampak biasa-biasa saja, sedijut cemderung datar.
Amira mengangkat sebelah alisnya, dan berusaha menahan emosi. "Kenapa gitu?" tanya Amira dingin.
"Karena gue gak bawa motor. Gue tadi ke sini pake ojol." jawab Alex.
Amira mengedarkan pandangannya ke arah sekitar, dan tidak menemukan motor Alex di parkiran rumah Maura. Sementara Maura hanya memperhatikan kedua kakak kelasnya dengan sedikit menundukkan wajahnya.
"Lo pasti sengaja kan buat bisa berangkat bareng sama gue?" tanya Amira dengan kesal.
Alex membalas dengan menyunggingkan senyum tipisnya sesaat, "Kalo iya, kenapa?" balas Alex.
KIni Amira merasa sudah tak bisa lagi menahan emosinya lebih lama lagi. Ia membalikkan badannya dengan kasar dan membelakangi Alex. Sedangkan Maura hanya mengangkat kedua alisnya pertanda terkejut dengan apa yang dilakukan Alex kepada Amira. Alex benar-benar sudah tak bisa diduga kelakuannya.
"Amira," panggil Alex pelan.
"Mana kuncinya?" tanya Alex.
Di tengah Amira sibuk mendengus kesal, Amira berbalik kembali dan pandangannya beralih menatap Maura di sampingnya. "Kamu gak papa, kalo Si Curut ikut bareng kita?" tanya Amira tak enak, karena tahu sosok Maura yang tidak nyaman bersama seorang laki-laki.
Sementara Alex melirik ke arah Maura dengan wajah yang datar.
"Eh? Oh, ya udah. Lagi pula kita bentar lagi akan terlambat." jawab Maura yang sebenarnya enggan untuk menyetujui.
Alex tersenyum simpul saat mendapat lemparan sebuah kunci dari Amira, dan untungnya Alex dapat menangkapnya. "Ayo, kita berangkat!" Alex berjalan melewati mereka dan masuk ke dalam mobil.
...
^^^Halo guys, aku mau kasih promosi novelku yang akan kurilis. Novel dengan judul The Weakness Of Love, jangan lupa mampir juga ke sana ya. Yuk simak sinopsisnya. Yakin pasti penasaran.. Oh, iya, jangan lupa untuk follow akunku! Thanks.^^^
^^^Sinopsis:^^^
^^^Darel Keano, membenci kelemahan meskipun kata itu lekat pada dirinya sendiri. Takdir yang menurutnya buruk, hanya bisa diratapi dengan lemah.^^^
^^^Rayne Alea, orang pertama yang menjadikan Darel sebagai temannya, juga membantunya bangkit dari kelemahan dan takdir buruk itu. Cerita ini bukan hanya tentang kebersamaan Darel dan Rayne, tetapi juga tentang cinta yang tumbuh di antara keduanya.^^^
^^^Namun, ternyata takdir buruk masih terus mengiringinya. Mereka berdua terpisahkan dengan dua dunia yang berbeda. Takdir menciptakan kemustahilan bagi keduanya untuk saling memiliki. Tetapi bukankah cinta itu abadi?^^^
__ADS_1