Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
39


__ADS_3

"Sudah, Mir. Aku ada urusan." ujar Imran kepada Amira di seberang telepon. Tanpa menunggu jawaban dari Amira, panggilan suara itu sudah diakhiri.


Imran menatap Maura yang mulai berjalan dan duduk di kursi kantin bersama Baron dan Fatimah. Mata Maura dan Imran bertemu dan saling memandang dari jarak yang cukup jauh.


"Maura. Kau ingin apa?" tanya Baron hendak memesan.


"Apa saja, Kak. Asalkan jangan yang pedas." jawab Maura.


"Baiklah." balas Baron.


Imran menundukkan wajahnya dan menelan salivanya perlahan. Selain gugup, Imran juga bertanya-tanya dalam hatinya. Apa benar itu Maura? Apakah Maura tahu kedatangannya ke Bogor untuk melihatnya? Bagaimana jika Maura menanyakan hal itu, dirinya harus menjawab apa?


...----------------...


"Hey, itu mereka!" ucap Dylan menunjuk ke arah sekumpulan gadis remaja yang ia kenali.


"Ya udah ayo. Keburu siang nih," ujar Arul berjalan mendahului teman-temannya yang lain.


"Hai, selamat pagi" ujar Alex sengaja ke arah semua gadis yang tak lain adalah teman mereka, tetapi pada dasarnya sapaan itu ditujukan pada Amira.


Amira yang tengah meminum es sembari memainkan ponselnya, terlonjak kaget mendengar suara yang sudah ia duga siapakah sosok itu. Ya, laki-laki yang memiliki sifat yang bisa dibilang obsesi pada Amira.


"Kok Lo ada di sini?" tanya Amira terkejut.


"Ya inikan taman kota, tempat umum kan? Lagipula aku pengen bisa deket sama pujaan hati," jawab Alex dengan senyum tipisnya.


"Bosen gue dengernya. Kalo lo ke sini bukan buat belajar, mending lo pergi aja deh, gak guna tau gak sih" ujar Amira kesal dan membuang muka.


Alex tampak menghela napasnya, "Iya. Aku niat belajar. Makasih ya udah ngingetin," balas Alex dengan santainya dan langsung mendapat gelak tawa dari teman-temannya.


"Ciee Amira perhatian ya,"


"Jiaak, Amira kesel deh tuh ke Alex"

__ADS_1


"Udah lah Mir, lo gak usah ngelak kalo lo juga emang naksir sama si Alex, kan?"


Begitulah ramainya godaan dari teman-temannya. Amira dibuat semakin kesal dan muak. Dirinya segera beranjak dari kursi yang sebelumnya ia duduki, kemudian berjalan menghampiri penjual es serut yang tidak begitu jauh dari mereka. Berharap hawa panas dalam hatinya ikut teredam oleh dinginnya es serut.


"Masih pagi jangan makan es, tadi juga udah makan, nanti lo sakit perut." ucap Alex yang entah sudah sejak kapan berdiri di samping Amira.


Amira hanya memutar bola matanya malas dan tidak membalas ucapan Alex. Amira justru dengan sengaja membantah secara tidak langsung.


"Bang, kasih esnya yang banyak, ya." pinta Amira pada sang penjual es serut di depannya. Penjual itu pun hanya mengagguk saja menuruti apa yang dipinta sang pembeli.


"Lo kalo dibilangin, nurut dikit kek. Kalo nanti perut lo sakit gimana? Lagian gue tau lo belum makan." ujar Alex membuat Amira menoleh.


"Urusannya sama lo apaan?" tanya Amira sembari menatap sekilas Alex yang lebih tinggi dibanding dirinya.


"Gue suka sama lo. Gue sayang dan gue khawatir sama lo. Kenapa lo gak paham sih?" jawab Alex masih dengan emosi yang santai.


"Udah berapa kali sih gue nyuruh lo buat jauhin gue? Kurang penolakan apa lagi?" balas Amira yang mulai terpancing emosi.


Alex yang mendengar itu, seperti biasa memutar bola matanya dan berkata, "Gue gak peduli." ujar Alex.


Amira duduk di atas tikar bersama teman-temannya yang lain, sementara Alex ikut duduk di atas tikar yang sama namun sedikit jauh dengan Amira karena telah terisi penuh oleh teman-temannya yang lain.


"Eh, ada yang tau Imran di mana?" tanya Jonny kepada teman-temannya.


Amira hendak mengangkat suara dan menjawab pertanyaan Jonny, namun Arul telah mendahuluinya bicara.


"Katanya sih lagi ada rapat sama guru-guru."


"Eh? Rapat? Bukannya Imran itu ada urusan keluarga?" balas Amira heran dengan mulutnya yang masih memakan es serut manisnya.


"Acara keluarga? Gak ada. Dia bilangnya rapat. Dan kenapa lo gak ikut rapat?" balas Arul.


"Ya maka dari itu gue heran. Kalo ada rapat udah pasti gue diajak. Tapi kali ini gak. Dia tadi bilang ke gue ada acara keluarga." ujar Amira.

__ADS_1


"Kamu lagi deket ya, sama Imran." ucap Alex tiba-tiba menatap Amira dengan tatapan yang tampak biasa-biasa saja, tetapi menyimpan sedikit sesak di dada.


"Gue gak lagi deket sama Imran. Oh, ralat, gue gak lagi deket sama siapa pun." balas Amira memandang Alex dengan pandangan tak suka.


"Cie ada yang cemburu." ucap Dylan seraya menyenggol lengan Alex. Alex hanya menanggapinya dengan senyum masam yang disunggingkan. Tak lama setelah itu, seorang guru wanita datang menghampiri mereka dan langsung mendapat sambutan hangat dari semuanya. Dialah guru bimbel bernama April.


"Halo selamat pagi semua," sapa April dengan ramah.


"Udah siang juga, Kak." ketus Dylan tanpa sadar, dan langsung mendapat pukulan sedikit keras di bagian pahanya, tentu saja dari Arul. Pukulan itu berhasil membuat Dylan membungkam mulutnya semdiri seakan menarik perkataannya, meskipun saat ini Dylan tengah meringis pelan dibuatnya. Dylan juga melihat semua teman-temannya yang memolotinya seolah akan menerkam.


"Kagak sopan!" bisik Arul. Sedangkan April hanya tersenyum tipis mendengar itu, dia tahu dirinya salah.


"Maafkan Kakak ya, tadi kejebak macet." ujar April yang mendapat anggukan dari semuanya, mereka memakluminya.


Setelah April menyapa dan basa-basi sejenak, ia mulai membuka pelajaran dan menjelaskannya secara terperinci. Semua yang ada di sana berusaha mendengarkan dengan baik. Memahami apa yang disampaikan oleh sang guru.


"Oh.. Gitu.. Kalo ikan bernapas dengan insang untuk bertahan hidup, maka gue juga akan membayangi Hana untuk bertahan hidup juga." ujar Dylan di tengah kegiatan belajar mereka.


"Idih, lo masih punya organ lain buat hidup!" balas Arul yang menganggap Dylan sudah tidak waras.


"Lebay deh, Lan." ujar Jonny yang duduk di sebelah Dylan.


"Berhenti buat nyebut nama gue! Sejak kapan coba lo bertingkah kayak gini ke gue?" hardik Hana.


"Sejak aku mulai suka sama kamu, Han." balas Dylan dengan senyumnya. Sementara Hana membuang muka dan memlih untuk menatap buku pelajarannya.


"Udah-udah. Yuk kita belajar lagi." ucap guru wanita yang mengajar mereka. Guru itu bernama April. Kini mereka telah kembali memfokuskan pikiran dan menatap buku materi masing-masing.


April, sang guru hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan ketika melihat Dylan serta Alex tengah mencuri pandang ke arah gadis mereka yang disukai.


...****************...


Fatimah dan Baron beranjak dari kursi kantin, hendak berjalan menuju lantai dua, tepatnya menuju ruangan rawat Naura.

__ADS_1


"Kalian duluan saja. Maura ada urusan sebentar," ujar Maura setelah ikut beranjak dari kursinya.


"Urusan apa?" tanya Baron sebagai sang Kakak yang berhak tahu urusan yang terkait masalah adik-adiknya.


__ADS_2