Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
19. Tersenyum


__ADS_3

Naura tersenyum simpul seraya menganggukkan kepalanya. Kemudian Fatimah dan yang lainnya berjalan pergi.


...


"Ram! Ramdan!" panggil Naura ragu dari kejauhan.


Ramdan menoleh dan jantungnya kembali berdetak lebih kencang ketika melihat Naura hendak menghampirinya.


"Ada apa?"


Naura sempat diam sejenak, memikirkan kata apa yang akan keluar terlebih dahulu.


"Aku ingin meminta maaf. Aku sadar, aku terlalu berprasangka buruk padamu. Dan terima kasih atas benda pemberianmu," ucap Naura dengan ragu.


Ramdan menganggukkan kepalanya seraya tersenyum simpul. "Aku tidak menganggapmu salah. Manusia tidak akan pernah luput dari yang namanya salah dan lupa. Maka dari itu, kita dianjurkan untuk saling memaafkan."


Naura hanya terdiam, mencerna ucapan Ramdan. Ia teringat sesuatu, "Bagaimana jika suatu kesalahan fatal? Apakah masih pantas untuk dimaafkan?"


Ramdan menghela napasnya dan tersenyum sekilas,"Selain harus berlapang dada, terdapat juga kata ikhlas yang menyempurnakan kata maaf yang sesungguhnya. Maka dari itu, tidak sedikit orang yang mampu memaknai kata maaf, karena memang begitu sulit melaksanakannya. Dan maka dari itu juga, Allah memberi kemuliaan pada orang-orang yang memaafkan." jelas Ramdan memberi tahu.


Naura masih terdiam, memahami penjelasan yang diberikan Ramdan. Jujur, hatinya tersentuh. Naura menghela napasnya berat.


"Terima kasih."


"Baiklah. Aku pergi dulu. Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam."


...----------------...


Adzan shubuh berkumandang dengan merdu. Membangunkan setiap manusia untuk beribadah.

__ADS_1


"Naura, mari bangun," ucap Shela.


Naura yang membuka matanya perlahan, berusaha bangkit. Namun kepalanya terasa sangat berat, membuatnya meringis pelan. Perutnya pun juga terasa sakit. Naura kembali merasa mual, tetapi tidak merasa akan memuntahkannya.


"Ada apa? Apa Kau sakit?" tanya Shela sedikit cemas.


"Sepertinya. Apa Aku boleh beristirahat sebentar?"


"Baiklah, tidurlah. Semoga lekas membaik." Shela berusaha membantu Naura untuk kembali berbaring.


"Terima kasih, Shel." ucap Naura sebelum akhirnya menutup matanya dengan lemah.


...


Naura beranjak dari ranjang kecilnya kala menyadari waktu yang semakin siang. Dirinya sudah mulai membaik. Namun masih enggan untuk berjalan. Ia terduduk di tepi ranjang seraya meminum air mineral yang ada di atas meja, di dekatnya.


"Assalamualaikum?"


"Waalaikumussalam." jawab Naura pelan.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Fatimah seraya duduk di tepi ranjang bersama Naura.


"Membaik. Aku hanya sakit kepala ringan saja. Dan maagku kambuh." balas Naura dan tersenyum.


"Baiklah. Kakak akan mengambil sarapan untukmu. Tunggu di sini."


"Ta-tapi, Kak. Aku masih bisa sendiri,"


"Tak apa." Fatimah tersenyum dan berlalu.


Naura terdiam beberapa saat. Dirinya merasa sangat diperhatikan. Tidak jauh berbeda dengan perhatian bundanya kala di rumah. Ia merindukan bunda.

__ADS_1


Selang beberapa saat, pintu kamarnya diketuk dan terdengar seseorang mengucapkan salam.


"Assalamualaikum,"


"Waalaikumussalam." Naura membuka pintu setelah merapikan jilbabnya.


Naura mengernyitkan dahinya kala melihat Ramdan yang berdiri di depan pintu.


"Maafkan Aku sudah mengganggu waktumu. Aku kemari hanya ingin mengantarkan amanat dari Kak Fatim. Dia menitipkan sarapan dan beberapa obat untukmu," ucap Ramdan menyodorkan sepiring sarapan serta pelastik kecil berisi obat.


Naura menerimanya dengan ragu. Setelah selesai menaruhnya di atas meja kamar, ia kembali menghampiri Ramdan. "Terima kasih. Aku merasa tidak enak merepotkan kalian, maafkan Aku."


"Tidak masalah. Ngomong-ngomong, semoga lekas sembuh. Dan jangan lupa untuk beristirahat. Aku pamit," Ramdan tersenyum hangat dan berbalik arah.


Baru beberapa langkah, Naura menghentikan langkah Ramdan.


"Ram," panggil Naura membuat Ramdan sontak menoleh.


"Salam." ucap Naura pelan.


Ramdan hampir saja lupa mengucapkan salam sebelum pergi. Mereka berdua kemudian tertawa kecil.


Ramdan menghadap Naura dan memandangnya, "Assalamualaikum." ucap Ramdan kemudian tersenyum.


"Waalaikumussalam." tanpa Naura sadari, bibirnya mengulas senyum, membalas senyuman dari Ramdan.


Indah.


Ramdan kemudian berlalu.


...----------------...

__ADS_1


Jam pulang telah tiba. Bal berbunyi dengan begitu nyaring. Seluruh siswa dan siswi berhamburan keluar kelas untuk segera meninggalkan sekolah. Naura merapikan semua peralatan belajarnya. Ia merasa enggan untuk keluar kelas, atau lebih tepatnya ke kelas 12.


Namun begitu, Maura tetap bangkit dari duduknya dan berjalan keluar setelah dirinya mengambil sebuah buku yang bertuliskan Ilmu Pengetahuan Alam dan menggendong tasnya.


__ADS_2