Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
25. Satu Alasan


__ADS_3

Hari semakin siang, Naura seperti biasa mulai mengerjakan kegiatan di pondok pesantren. Langit siang telah berganti menjadi langit senja yang menandakan sore hari.


Di hari ini, Naura habiskan sepanjang harinya dengan pergi ke dapur dan majlis untuk mengaji. Mau tak mau, peraturan pondok harus ia patuhi. sore ini pun ia pergi ke dalam dapur kembali untuk kegiatan yang selalu dilakukan setiap wanita. Belajar memasak. Meski dirinya sudah lebih dari satu pekan, tetapi rasanya seperti baru satu hari tinggal di pondok. Masih merasa berat dengan kegoatan pondok.


"Huh, panas sekali di sini. Aku bisa mati" Naura berjalan keluar dari dapur karena dirasanya lelah dengan suasana yang cukup tertutup dan penuh dengan asap masakan yang membuatnya ingin meledak.


"kau akan pergi kemana, Naura?" tanya seseorang yang melihat Naura berlalu. Naura tak tahu siapa, karena sedari tadi, matanya sibuk mencari tempat untuk beristirahat dan sempat tak memedulikan orang itu, Naura tak menjawab.


Naura berhenti di depan ladang padi yang berada di sebelah pondok. Ia memandang keluasan langit yang bisa ia pandang sepuasnya. Angin nya begitu sejuk saat di senja hari ini.


"Mungkin ini adalah tempat yang tepat untukku bersandar sejenak." ucapnya pelan.


Naura duduk di atas kursi kayu yang cukup besar dan panjang di sebelahnya. Barulah ia bisa merasakan sedikit ketenangan dari penatnya hari yang begitu terasa panjang ini.


Pikirannya kembali melayang. Tiba-tiba bayangan keluarganya hadir dalam pikirannya. Rindu tak dapat dibohongi olehnya.


Naura masih terbilang belum terlalu mengenal pondok, maka Naura akan merasa masih sendiri walaupun banyak orang yang telah berteman dengannya.


Setitik air mata menetes dari sudut matanya. Beberapa pertanyaan pun mengiringi giliran air mata yang terjatuh itu. Pertanyaan yang mana akan selalu ia tanyakan dan tak ada yang bisa menjawabnya.


"Mengapa Ayah harus memasukkan aku ke tempat ini?"


"Untuk apa?"

__ADS_1


"Memangnya kebahagiaan apa yang akan aku dapatkan setelah dari sini?"


Pletak!


Naura melempar kaleng kosong dengan sembarang yang alhasil mengenai seseorang di belakangnya. Karena kesal, Naura akan menghantamkan ataupun melemparkan benda apa saja yang ada di sekitarnya tanpa memikirkan akan terbang kemana setelah dilemparkan.


Naura menoleh sesaat dan berkata, "Maaf."


"Ya. Baiklah, tak apa." balas Ramdan, orang yang terkena lemparan tadi.


Ramdan berjalan mendekati ke arah Naura, kemudian duduk di kursi yang kebetulan berukuran panjang, sehingga Ramdan bisa duduk dengan jarak antara dirinya dengan Naura.


Naura hanya melirik Ramdan yang duduk di sebelahnya walaupun sedikit berjarak. Pikiran Naura sedang tidak bisa berpikir jernih apalagi sekadar menyapa. Naura memilih untuk tetap memandang pemandangan senja di hadapannya.


"Ini sudah sangat sore. Apa Kau tidak akan membersihkan badanmu?" tanya Ramdan memulai pembicaraan.


"Lo kaget ya? Bahasa kasar adalah bahasa keseharian gue. Gue udah berusaha buat lupain hal itu, tapi sorry gue gak bisa."


"Ternyata, bukan bahasa dan perilaku gue aja yang gak bisa gue lupain, tetapi juga rasa sakit, kecewa, dan kenangan pahit dalam hidup gue. Jujur, gue gak bisa, Ram."


"Lo bisa bujuk Ayah buat jemput gue gak?"


Ramdan menggeleng, "Tidak. Kau sudah berada di jalan yang benar. Jangan pernah kembali ke jalan yang sesat, Naura." tegas Ramdan sembari menatap Naura.

__ADS_1


"Terus gue harus gimana? Beri gue satu alasan buat tetap tinggal di sini!"


Ramdan terdiam sesaat. "Aku." Ucapnya, membuat Naura sontak menoleh dan menatap mata Ramdan dengan raut wajah kebingungan.


"Apa?" tanya Naura meminta Ramdan mengulangi apa yang diucapkan, mungkin saja telinga Naura salah dengar.


Ramdan menelan salivanya perlahan kemudian berkata, "Aku ingin menikahimu." ujar Ramdan membuat Naura membulatkan kedua bola matanya sempurna. Napasnya seakan membeku sesaat, merasa terkejut dan tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


"Apa?" pertanyaan yang sebenarnya tak berniat untuk bertanya, tetapi sebagai kata yang seakan mengungkapkan rasa terkejut Naura.


Naura beranjak dari duduknya secara perlahan. Matanya masih menatap Ramdan. Mulut Ramdan sedikit terbuka ketika melihat Naura yang mulai beranjak. Naura melangkah mundur sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"A-aku butuh waktu." ujar Naura terbata-bata yang kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Ramdan. Naura berjalan dan berlalu dengan wajah yang menatap tanah yang ia pijak.


Ramdan hanya bisa menatap kepergian Naura dengan lesu. Matanya terpejam dan menghela napasnya dalam.


Sementara itu, Naura berhenti di bawah pohon mangga yang juga berada di tepi danau, tidak jauh dari tempat semula ia duduk. Naura memejamkan matanya saat helaan angin menerpa dirinya. Kemudian membuka matanya perlahan dan menatap air danau dengan tatapan kosong.


Apa yang dikatakan Ramdan tadi, membuat Naura merasa sangat bingung untuk mengartikannya. Mata yang masih terpejam sedikit mengerut, bibir bawahnya ia gigit saat Naura merasakan mual, pusing, dan sakit pada bagian perutnya. Semua rasa itu semakin menjadi. Hingga akhirnya Naura sudah tak mampu lagi menahan tubuhnya. Naura terjatuh.


Namun sepertinya, Naura tidak ditakdirkan untuk terjatuh. Tubuh Naura jatuh pada sanggahan tangan Ramdan. Tidak tahu sudah berapa lama, Ramdan ada di sana, tepat di belakangnya.


Naura memandang wajah Ramdan sebelum akhirnya mata Naura terpejam karena tak sadarkan diri. Ramdan menepuk-nepuk kecil pipi Naura, berharap Naura akan segera sadar. Namun ternyata tidak.

__ADS_1


"Naura. Sadarlah, tolong jangan membuat diriku khawatir. Sadarlah, Naura, sadarlah." ucap Ramdan dengan wajah yang tampak semakin khawatir karena Naura tak kunjung sadarkan diri.


Ramdan memilih untuk segera menggendong tubuh Naura dan berniat membawanya ke rumah sakit terdekat.


__ADS_2