
"Apa Naura gak mau mandiri, sayang?" Yuni mengelus lembut rambut Naura.
"Maksud Bunda? Jangan bilang kalo--" Naura berharap sang bunda tidak mengatakan apa yang tidak ingin didengarnya.
Berat untuk Yuni untuk mengatakannya. Karena ia pun tidak ingin berpisah dengan putri gadisnya itu. Namun ia akan mengatakannya. Karena keputusan sang suami, akan tetap terjadi.
"Iya, sayang. Kamu besok, harus bersiap untuk masuk pesantren" Ujar Yuni lembut.
Naura sangat terkejut. Ia pun sempat terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Yuni.
"A-apa? A-aku akan ma-masuk ke pesantren? Dan apa aku salah denger, a-aku harus bersiap be-besok?" Tanyanya bertubi-tubi tak percaya.
"Iya, Nak. Itu adalah keputusan ayahmu" Yuni mengelus tangan Naura. Berharap Naura akan menerimanya.
"Mengapa aku harus masuk pesantren? Dan mengapa mendadak sekali Bun?!" Bantah Naura.
"Apa Ayah dan Bunda gak sayang Naura lagi?" lanjutnya.
"Justru kami sangat menyayangimu, Naura!" Seru Hilman yang tiba-tiba sudah terlihat di pintu kamar dengan masih memakai jas kantor.
"Jikalau kau hidup disana, pasti kau akan mandiri. Ayah dan Bunda ingin putri gadisnya menjadi wanita yang shalihah. Itulah salah satu tanda kami menyayangimu" Jelasnya yang kini sudah berdiri di sisi ranjang.
"Apa dengan menjauhkan kalian denganku? Itu yang dinamakan sayang?" Naura menatap Hilman dengan tajam.
Hilman memiringkan sekilas senyumannya.
"Apa selama ini kau tidak sadar? Kita semua hidup satu rumah. Tapi kami tidak merasakan kehadiranmu. Karena apa? Karena kau Naura, selalu menjauh dari kami, keluargamu. Jadi tidak ada salahnya, jika Ayah memindahkanmu ke tempat yang jauh. Agar sekalian kita tidak merasakan kehadiranmu sama sekali" Tutur Hilman kesal.
"Ayah!" Panggil Yuni lembut seraya memegang tangan sang suami, agar tetap merasa tenang.
Mendengar semua itu, Naura menatap sayup, dan sedih.
"Bagaimana jika aku menolaknya?"
Hilman memalingkan tubuhnya, memunggungi Naura dan Yuni.
"Kau tidak bisa menolaknya. Ayah akan tetap mengantarmu esok sore. Dengarkan apa yang dikatakan Bundamu tadi. Kau harus bersiap untuk mandiri"
"Tapi mengapa harus pesantren? Apa tidak ada tempat lain selain itu?"
"Tempat apa yang kau inginkan? Apakah Club? Bar? Lounge? Diskotik? Tempat untuk meminum minuman beralkohol? Tempat untuk insan menjijikan? Apakah tempat itu yang kau inginkan?"
"Apa ayah melihatku sekeji itu?" lirih Naura tak menyangka dengan sindiran sang ayah.
"Di kamarmu ada banyak cermin. Cobalah kau bercermin. Kau amati baik-baik apa yang ada dicermin itu. Dari ujung kepalamu sampai ujung kakimu" Kemudian Hilman berlalu begitu saja.
"Bunda keluar dulu ya. Jangan lupa makan" Yuni pun bangkit dari duduknya dan berlalu membuntuti Hilman.
Kini Naura tak kuasa menahan tangisnya yang terus menetes membasahi pipi dan selimutnya. Ia beberapa kali menggebuk ranjang. Dan lagi-lagi ia mengambil botol alkohol yang tersimpan di dalam laci. Ia segera membuka tutup botol dan ingin segera meneguknya.
Tok tok tok
"Kak!" Seru Maura di pintu yang terbuka.
Ketika Naura akan meneguk minuman itu, Naura mengurungkan niatnya seketika. Ketika melihat sang adik berada di kamarnya. Dan ia langsung menghapus air mata di pipinya.
"Apa Maura boleh masuk?" Tanya Maura pelan.
__ADS_1
"Boleh dong, Dek. Sini duduk!" Naura menepuk kasur. Maura pun menurutinya.
"Maura mau ngapain kesini?" Tanya Naura setelah sang adik duduk di sebelahnya.
"Main" Maura tersenyum simpul.
Maura memperhatikan botol alkohol yang ada di tangan sang kakak.
"Hm, itu alkohol ya?" Maura menunjuk botol itu dengan sudut matanya. Dan Naura pun terlihat kebingungan untuk menjawabnya.
"Kak. Ayah selalu ngelarang kita untuk gak minum alkohol. Karena alkohol berbahaya. Tapi kenapa--"
Allahuakbar Allahuakbar
Adzan berkumandang, menandakan waktu dzuhur.
"Adzan udah manggil. Kakak gak shalat?" Tanya Maura memberanikan diri. Walaupun ia sebenarnya tahu betul, bahwa sang kakak sering meninggalkan shalatnya.
"Hm, Kakak.. Lagi menstruasi" Naura berbohong.
"Aku juga Kak.. Lagi mens. Hehe"
"Oh iya Kak. Tadi Maura denger semuanya tentang keributan yang terjadi disini" Naura dibuat tertegun.
"Dan Maura pengen tau, kenapa Kakak gak mau masuk pesantren?"
Naura dibuat bingung kembali dengan pertanyaan adiknya.
"Padahal, Maura tuh pengen banget masuk pesantren itu. Tapi Ayah bilang, selesaikan dulu sekolahnya. Baru Maura boleh pergi kesana" Lanjutnya.
"Karena di pesantren itu akan ada banyak temen. Kita bisa belajar agama bareng-bareng disana. Dan Maura pengen dapet jodoh yang berjiwa pesantren.. Ya walaupun jodoh masih jauh, aamiin aja.. Hehe" Ujar Maura cengengesan.
"Hish, kamu tuh ya" Naura mencubit hidung kecil sang adik.
**
Setelah selesai shalat dzuhur, para santriawan membaca kitab suci Al-Quran.
"Shodakallahul'adzim"
Setelah melafadzkan bacaan tersebut, semua santriawan menutup kitab suci Al-Quran. Kemudian segera berbaris untuk bersalaman pada Yudi, Umar, Baron dan Ramdan yang telah mengajar. Dan langsung keluar majlis untuk melanjutkan aktivitas masing-masing di lingkungan pesantren.
"Ram! Kau akan kemana?" Tanya Baron heran. Ketika melihat Ramdan berjalan kearah yang berbeda.
"Ke dapur. Aku akan membersihkan selokan"
"Ke dapur? Aku ikut!" Ujar Baron antusias.
"Jika saja tidak ada Fatimah di dapur, pasti kau tidak akan ikut. Apalagi untuk membersihkan selokan" Ketus Umar.
"Sudahlah kalian pergi sana. Tidur yang nyenyak. Hilangkan sifat iri kalian. Hush!"
"Kau juga harus semangat untuk membersihkan selokan. Ingat! Harus sampai bersih!" Balas Yuda. Kemudian berlalu begitu saja bersama Umar.
...
"Assalamu'alaikum" Ramdan dan Baron mengucap salam setelah mereka tiba di dapur.
__ADS_1
Terlihat ada beberapa santriawati yang tengah memasak di dapur. Salah satunya adalah Fatimah, putri sulung dari pemimpin pesantren, pak kiyai Bilal.
"Waalaikumsalam" Jawab lembut para santriawati disana.
"Ram? Mau ngapain?" Tanya Fatimah memandang sekilas pada mereka. Karena ia tengah sibuk mengiris beberapa jenis bumbu.
"Aku mau bersihin selokan di belakang kamar mandi"
"Aku juga" Ujar Baron cepat. Seraya tersenyum untuk Fatimah.
"Antusias banget kalo ada Kak Fatim" Goda Shela yang tengah mencuci sayuran di Wash Tafle.
"Hish, apaan sih shel" Fatimah menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Yaudah ayo Kak" Seru Ramdan.
"Kemana?" Tanya Baron karena terlalu fokus memandang punggung Fatimah.
"Bersihin selokan Kak!"
"Oh iya" Sadar Baron.
**
"Dek, sana makan dulu. Ini udah masuk jam makan" Titah Naura lembut.
"Kakak gak ikut makan?"
"Kakak makan disini aja. Tadi Bunda sempat bawain makanan"
"Ya udah, Maura keluar ya Kak"
...
"Ayah, Maura boleh ikut Kak Naura ke pesantren gak?" Tanya Maura memberanikan diri seraya menundukkan kepalanya, menatap sepiring nasi diatas meja.
Hilman menghentikan kunyahan makanan di dalam mulutnya. Kemudian meminum air putih.
"Belum saatnya" Jawab Hilman singkat.
"Tapi Maura pengen belajar agama lebih dekat disana" Bantah Maura pelan yang masih menunduk.
"Kalo Ayah bilang, belum. Ya, belum!"
"Ta-tapi--"
"Kau jangan membantah orang tua! Jangan mengikuti kebiasaan Kakakmu itu!" Potong Hilman menatap Maura dengan kesal dan marah. Maura yang dimarahi, hanya bisa menundukkan kepalanya karena takut pada kemarahan sang ayah.
"Tsutt.. Udah Yah. Jangan marah. Maura cuma nanya, kenapa sensitif banget?" Yuni menenangkan seraya mengelus lembut pundak sang suami.
"Istighfar Yah. Istighfar" Titah Yuni lembut.
Perlahan Hilman menarik nafas dan menghelanya. Ia menuruti perkataan sang istri tercinta.
"Astaghfirullahal'adzim" Hilman membacanya beberapa kali sampai akhirnya kemarahan itu kian mereda.
Yuni memang sosok istri yang sempurna di mata Hilman. Ia mampu menenangkan hati dan jiwanya. Dan Yuni pun sosok istri dan ibu yang penyayang bagi keluarganya.
__ADS_1