
Sementara Naura yang keadaannya masih lemah, hanya memandang Ramdan dengan sedikit senyuman.
Kini Ramdan telah berdiri di dekat ranjang Naura. Mulut Ramdan terbuka hendak mengatakan sesuatu. Matanya masih tetap menatap Naura yang masih terbaring.
"Bagaimana keadaan mu saat ini?" tanya Ramdan dengan suara serak dan pelan.
Naura tak mampu berkata sesuatu karena masih sangat lemah. Naura hanya menanggapinya dengan anggukan kecil saja. Meski begitu, berhasil membuat Ramdan tersenyum lebar dan merasa lega. Setidaknya pikiran negatifnya telah hilang membayanginya.
Ramdan meraih tangan Naura seraya tubuhnya berjongkok. Kini posisinya sedikit berdiri dengan lutut kaki yang menginjak lantai. Tak terlalu memedulikan kain sarungnya yang mungkin akan kotor karenanya. Juga tak terlalu memedulikan sekitarnya yang terdapat keluarganya dan keluarga Naura yang juga ingin melihat keadaan Naura.
Sementara itu, Naura merasa kebingungan dengan sikap Ramdan saat ini. Pandangannya memandang dua keluarga sekilas, lalu beralih kembali pada Ramdan.
"Kau harus sembuh." ucap Ramdan.
"Aku tidak kuat lagi melihatmu dalam kondisi berbaring di rumah sakit. Kumohon padamu, Naura." lanjutnya dengan wajah yang ditundukkan. Sedangkan tangannya masih menggengam erat tangan Naura.
"Benar, Naura. Bunda juga sangat sedih melihatmu harus berbaring di tempat ini. Cepatlah sembuh, Sayang." Yuni yang berada di samping ranjang Naura, mengelus pelan rambut kepala yang tertutupi hijab.
__ADS_1
"Maafkan Ayah, Nak." ujar Hilman yang ikut mengeluarkan air mata. Naura langsung menanggapinya dengan menggeleng pelan, seolah mengatakan bahwa Ayahnya tidak bersalah dalam hal ini.
"Kak, cepatlah pulih dan kita akan bermain air bersama. Aku merindukanmu," ujar Maura memeluk tubuh sang kakak. Naura tersenyum menanggapi.
"Kami semua mengharapkanmu kembali baik-baik saja, Naura." ujar Abi Bilal.
"Kami juga berharap Kau bisa kembali ke pesantren. Anak-anak pasti merindukanmu." sambung Fatimah.
"Kakak menyayangimu," ujar Baron.
"Aku menyayangimu." bisik Ramdan yang tak terdengar oleh siapapun tapi terdengar jelas di telinga Naura.
Naura terbesit ingatan saat Ramdan mengatakan bahwa dirinya ingin menikahi Naura. Naura tampak salah tingkah, meskipun hanya ditunjukkan oleh matanya saja. Ramdan menyimpulkan sesuatu, Naura tersipu. Ramdan tersenyum geli menyadari hal itu.
...****************...
Amira yang tengah asik membaca buku sembari memakan camilan, harus terganggu oleh suara nyaring yang berasal dari ponselnya. Dengan satu embusan napas kesal, Amira mengakhiri kegiatan membacanya, tapi tidak dengan memakan camilan. Amira meraih ponsel yang tergeletak di atas meja di depannya, kemudian menganggkat panggilan suara itu.
__ADS_1
"Halo?"
"Ya." balas seseorang di seberang telepon.
"Ada apa menelpon, Ran? Ganggu orang aja deh," balas Amira sedikit kesal. Sedangkan tangannya memasukkan camilan ke dalam mulutnya.
"Iya, sorry. Gue cuma mau bilang, besok lo jadi bimbel gak? Soalnya gue juga mau bimbel sama temen-temen." ujar Imran dari seberang telepon.
"Eh, lo ngajak si Curut gak? Kalo dia ikut, ya gue ogah." ujar Amira.
"Si Alex maksudnya? Katanya sih gak ikut. Lagian lo kepedean banget deh jadi cewek."
"Gue sentil ginjal lo baru tau rasa! Emang kenyataannya dia itu nyebelin. Lo tau sendiri, kan," ujar Amira semakin kesal.
"Okelah. Tapi lo juga ngajak rekan-rekan lo kan?" tanya Imran.
"Iya. Orangnya yang udah biasa ikut sih. Gue, Hana, Siska, Sabrina, Ana." jawab Amira sembari memasukkan beberapa camilan ke dalam mulutnya.
__ADS_1