
Baron memasuki ruangan sang adik dan membuat Naura serta Ramdan terkejut dan menoleh. Baron tersenyum geli kala menyadari Ramdan yang tengah menyuapi sang adik, Naura.
"Bagaimana keadaan kalian?" goda Baron seraya berjalan mendekat. Sedangkan Naura dan Ramdan yang mendapat godaan tersebut, hanya dapat menunjukkan reaksi bingung. Bingung harus menjawab apa dan bingung apa yang sebenarnya dimaksud oleh Baron.
Saat Baron mendekat dengan senyumnya yang seakan menggelitik, matanya membulat kala menyadari Fatimah yang tengah berbaring di atas kursi sofa. Baron segera membalikkan tubuhnya membelakangi Fatimah dan menghadap Ramdandan Baron. Sementara Naura dan Ramdan justru tersenyum geli menyadari hal itu. Anggap saja sebagai balasan.
"Bagaimana keadaanmu saat ini, Kak?" tanya Ramdan berusaha menggoda balik.
Mendengar itu dan merasa bahwa Ramdan menggodanya, Baron menepuk pipi Ramdan dengan sedikit keras. Ya, mereka memang selalu begitu.
"Kak, jangan lakukan hal itu," ujar Naura tak tega saat melihat Ramdan di tepuk, meskipun Ramdan tak meringis atau pun merasakan sakit di bagian pipinya. Melihat hal itu, Baron hanya bisa menghela napasnya berat.
"Katakan padanya, dia sangat menyebalkan." ujar Baron kepada Naura, tetapi jari telunjuknya menunjuk pada wajah Ramdan.
Sementara Ramdan sedikit membulatkan matanya dan menarik mundur wajahnya saat jari telunjuk Baron seakan hendak menusuk bagian hidung dan matanya. Sedangkan Naura hanya terkekeh kecil melihat tingkah kedua laki-laki di dekatnya itu.
"Ada apa ini? Huah," Fatimah terbangun dan menguap. Mungkin karena suara yang cukup mengganggu telinganya sehingga terbangun dari tidurnya yang singkat. Namun Fatimah masih dalam posisi berbaring.
"Kak Fatim sudah bangkit dari tidur panjangnya, Kak. Dia akan segera menerkam tubuhmu." ucap Ramdan menakut-nakuti.
Baron kembali menepak pipi Ramdan dan kali ini Ramdan dibuat meringis. Namun, justru membuat Ramdan dan Naura tertawa kecil setelahnya.
Fatimah membuka matanya perlahan dan melihat sekelilingnya, melihat Naura di atas ranjang rumah sakit bersama Ramdan yang duduk di dekat ranjang serta seorang pria yang berdiri membelakanginya. Masih setengah kesadaran, Fatimah mencoba menebak pria yang berdiri membelakangninya.
__ADS_1
"Apakah itu Abi? Tapi mengapa Abi tinggi sekali?" pikir Fatimah.
Baron memberanikan diri untuk menoleh ke arah belakang, dan melihat Fatimah yang masih terbaring di atas kursi sofa dan tengah menatapnya penuh selidik. Baron dan Fatimah membelalakan matanya secara bersamaan. Baron yang merasa posisinya tidak akan aman karena Fatimah akan memakinya tanpa ampun, dalam hitungan detik setelahnya Baron kembali pada posisinya membelakangi gadis itu. Sedangkan Fatimah merasa terkejut karena tubuhnya masih terbaring dan dilihat oleh laon muhrimnya, Baron. Fatimah segera mengangkat tubuhnya dan berusaha merapikan jilbabnya serta rambutnya yang seringkali keluar hijab. Fatimah begitu tampak panik dibuatnya.
"Apa yang Kau lakukan di sini?" tanya Fatimah sedikit kesal.
"A-aku ingin melihat keadaan adikku. A-apa itu salah?" jawab Baron tergagap.
"Memang tidak salah, tetapi dengan Kau yang berdiam diri di sana, itu salah. Kau tahu Aku sedang tertidur tapi Kau masih tetap di sini. Dasar bodoh." ujar Fatimah tanpa ampun.
"Ma-maafkan Aku. Sudah kubilang kan, jangan marah Fatim, Kau selalu tampak merah dan merona." ucap Baron yang membuat Naura, Ramdan, terutama Fatimah terkejut. Fatimah langsung menangkup kedua pipinya dengan kedua tangannya.
"Kau sangat menyebalkan, Baron!" kesal Fatimah, dan dalam hitungan detik Baron berlari keluar ruangan itu dengan ketakutan.
"Baiklah. Aku memang menyebalkan. Maafkan aku." ujar Baron sebelum akhirnya menunggalkan ruangan lebih jauh lagi.
"Mohon maaf, Mbak. Mohon untuk tidak membuat keributan di rumah sakit dan mengganggu pasien lain." ujar sang suster yang berada di sekitarannya.
Fatimah lupa bahwa dirinya berada di rumah sakit. Fatimah hanya tersenyum seramah mungkin pada suster itu agar suster itu tidak semakin memarahinya. Kini Fatimah seperti telah merasa tidak waras karena ulah Baron. Dirinya tak akan membiarkan Baron begitu saja, ia pasti akan membalasnya. Begitulah makna dari kekesalan Fatimah.
...****************...
Pagi telah tiba. Mentari semakin menyorot bumi dan segala yang berada di bumi. Lampu-lampu jalanan dan rumah-rumah telah dimatikan. Jalan raya mulai didapati kendaraan yang berlalu lalang dan orang-orang yang melakukan aktivitas seharian nya.
__ADS_1
Imran adalah salah satu dari puluhan orang yang berada di sana. Imran menaiki motor berwarna hitam legam dengan jaket tebal berwarna hitam, serta helm yang menutupi wajah dan kepalanya.
Imran memberhentikan motornya di sebuah parkiran, lalu menatap bangunan besar dan megah berwarna putih yang bertuliskan 'Famy Hospital'. Ya, kalian benar, Imran telah berada di Bogor. Untuk apa?
Ia menuruni motor dan berjalan untuk memasuki pintu rumah sakit. Setelah mendatangi seorang wanita dewasa sebagaj resepsionis dan menanyakan kamar rawat Naura, Kakak dari Maura. Jangan ditanya Imran nengetahui nama kakak dari Maura, karena ia memiliki beberapa orang suruhan yang ia gunakan untuk mencari informasi yang ingin diketahuinya.
"Baiklah. Terima kasih." ujar Imran kepada sang resepsionis setelah diberitahu nomor kamar ruangan rawat Naura.
Imran menutupi kepalanya dengan topi berwarna hitam dan matanya memakai kaca mata berwarna hitam juga. Kedua tangannya menelusup ke dalam kantung jaket. Kini dirinya telah tiba di tempat yang ia tuju. Matanya mengintip di balik sudut dinding rumah sakit.
Terlihat dua orang pria tinggi berpakaian sarung, dan seorang wanita berpakaian syari. Yang Imran ketahui dari ketiganya adalah orang tua Maura, tetapi Imran tak mengenali sosok pria yang sebenarnya adalah Ramdan. Kemudian orang tua Maura itu tampak memasuki ruangan rawat yang sepertinya tempat di mana kakak Maura dirawat. Sedangkan seorang pria yang adalah Ramdan justru berjalan dan menduduki kursi tunggu di dekatnya.
"Tidak ada Maura," gumam Imran dalam hati.
"Lalu di mana Maura?" lanjutnya.
Imran mengembuskan napasnya, dan menduduki kursi tunggu yang sedikit jauh dari kursi tunggu yang diduduki Ramdan. Matanya menatap sekeliling dan berharap dapat melihat Maura ada di sana.
Sudah sekian menit, yaitu hampir dua puluh lima menit Imran menunggu kedatangan sosok gadis bernama Maura, tetapi tak kunjung tiba. Sosok pria yang tak lain Ramdan itu pun sudah menghilang sejak tadi, entah akan ke mana, Imran tidak peduli.
Imran mengedarkan pandangannya sejenak, lalu memilih untuk beranjak dari kursi dan berjalan menuju kantin rumah sakit. Ya, perutnya sudah mulai merasa lapar karena belum diisi apapun sejak pagi. Imran menatap jam tangan yang mengikat di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul delapan pagi.
Ia akan mengisi perutnya selagi Maura belum datang ke rumah sakit.
__ADS_1
Imran tiba dan langsung menduduki kursi kosong yang berada di kantin tersebut. Mulai memesan makanan dan duduk dengan tenang. Tangannya melepas kaca mata yang menutupi manik mata yang menyorot tajam namun tampak indah, dan setelah itu membuka topi yang menutupi bagian kepalanya. Membuat rambut tebalnya terlihat. Merasa sedikit berantakan, Imran merapikan rambutnya dengan jari jemari tangannya.
Dari kejauhan, ternyata terdapat beberapa gadis yang tak dikenal, memandang Imran dengan raut wajah terpesona. Seperti wanita lainnya, mereka sedikit membuat kebisingan di sana seperti sorakan dan sebagainya, membuat Imran menoleh ke arah mereka yang berada di arah samping kirinya. Imran memandang mereka sekilas dan memutar bola matanya saat gadis-gadis itu tampak terkejut menyadari Imran yang menoleh ke arah mereka.