
Setelah satu jam mereka menempuh perjalanan. Akhirnya gerbang pesantren pun sudah di depan mata. Gerbang itu sudah terbuka lebar, hingga mobilnya mudah untuk segera masuk ke halaman pesantren.
Terlihat beberapa santriawan dan santriawati yang berbaris seakan menyambut mobilnya. Dan kini mobilnya berhenti di sebuah parkiran.
"Kak? Ayo, turun! Dan lihatlah setiap sudut pesantren ini!" Wajah Maura terpancar gembira setelah turun dari mobil. Kemudian Maura menghampiri para santriawati disana.
Yuni dan Hilman pun ikut menuruni mobil dan menghampiri Pak Bilal untuk menyapa dan mengobrol. Sedang Naura masih tetap duduk di dalam mobil. Tak peduli apa yang ada diluar sana. Ia lebih memilih untuk melihat handphone nya dari pada melihat tempat yang akan membuatnya sedih.
"Maura. Lama sekali kita tidak berjumpa. Kami merindukanmu" Fatimah yang tengah bergurau di majlis bersama Maura dan yang lainnya.
"Aku juga sangat merindukan Kakak-Kakak yang cantik Ini"
"Ah, kamu bisa saja" Shela tersipu.
"Oh, iya. Omong-omong, Kakak mu di mana? Bukankah dia yang akan tinggal di pesantren?" Tanya Lela.
"Sepertinya, ada di mobil"
"Mengapa dia tidak turun? Kami sangat ingin berkenalan dengannya" Tanya Fatimah.
"Hm, entahlah, Kak. Kakak ku itu nampak terpaksa datang kemari. Jadi, jika Kakak ku membuat kesalahan, maka ajarilah. Aku sangat berharap Kak Naura dapat berteman baik dengan kalian"
"Insyaallah.. Pasti kami akan berteman baik. Kau tak usah khawatir" Ujar Shela."Ya 'kan?" Lanjutnya. Fatimah dan Lela hanya mengangguk seraya tersenyum pada Maura.
"Jadi, apakah Kakakmu bisa turun dan berkenalan dengan kami?"
"Tentu saja. Ayo!" Kemudian mereka bangkit dari duduknya dan mulai melangkah keluar majlis.
..
"Hey, Baron! Dari mana saja kau?" Tanya Yuda.
"Aku bertemu kedua orang tuaku. Memangnya ada apa?"
"Tidak. Oh, iya. Apa kau tidak bertemu dengan kedua Adikmu?"
"Oh, iya. Aku hampir saja lupa. Lalu, apa kau tahu, di mana kedua adikku?"
"Adikmu Maura, ada di sana bersama calon Kakak iparnya" Umar menunjuk Maura, Fatimah, dan yang lainnya yang tengah berjalan kearah mobil.
"Ah, kau bisa saja" Baron menepak pundak Umar karena menggodanya.
"Ah, sudahlah. Dan sepertinya Adikmu, Naura masih berada di dalam mobil"
"Baiklah. Aku akan menjemputnya" Baron menghapiri mobil.
"Umar! Yuda!, di mana Kak Baron?" Ramdan menghampiri.
"Tuh!" Umar dan Yuda menunjuk punggung Baron dengan serempak.
"Baiklah, terima kasih." Ramdan tergesa mengejar Baron. "Kak! Kak Baron!"
Baron tetap berjalan. Sepertinya, Baron tidak dapat mendengar beberapa kali namanya dipanggil. Karena jarak antara mereka cukup jauh, ditambah alunan sholawat yang menggema oleh speaker.
"Maura?" Panggil Baron saat berpapasan dengan mereka. Maura pun terlihat bahagia bertemu sang Kakak. Ia segera mengecup salam dan memeluknya.
"Assalamu 'alaikum, Kak. Apa kabar?"
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam. Alhamdulillah Kakak sehat. Kakak sangat merindukan Adik kesayangan Kakak ini" Baron mencubit kecil hidung Maura. Wajahnya pun terlihat sangat bahagia.
"Apa Kak Naura masih di mobil?"
"Iya, Kak. Maura sudah mengajaknya, namun Kak Naura masih tetap di dalam mobil"
Tiba-tiba Naura tak sengaja melihat mereka yang tengah berbincang cukup jauh dari mobilnya.
"Kak Baron?" Gumam Naura terkejut sekaligus bahagia melihat sang kakak. Ia langsung membuka pintu mobil dan berjalan menghampiri.
Namun sayangnya, ia terlalu bahagia hingga tak melihat kulit pisang di depannya. Kenudian ia menginjaknya. Ia terpaksa menutup matanya saat merasakan licin di bawah alas kakinya. Sehingga ia terpeleset dan...
bruukk..
Anita menggambar dan seseorang telah menangkapnya dari belakang. Naura yang merasa tak terjatuh, membuka matanya perlahan. Dan ia melihat pemandangan indah di depan mata.
Pria tinggi berkulit putih. Berpeci hitam, dan berbaju koko berwarna mocca. Ya, itu adalah Ramdan.
Naura mengamati wajah Ramdan. Menatap Ramdan dengan sendu. Matanya yang bersinar seakan membuat hatinya tenang.
Naura tersadarkan kembali setelah Ramdan melepas dekapannya dan melangkah mundur untuk memberi jarak antara mereka.
"Astaghfirullahal 'adzim" Ramdan memegang dadanya yang seakan sesak.
"Maaf, Mbak. Saya sudah lancang" Ujarnya menundukan wajahnya.
"Sa-saya juga minta maaf" Naura pun salah tingkah.
"Dan--" Hendak melanjutkan, Baron justru memanggilnya.
"Naura!" Panggil Baron membuat Naura dan Ramdan menoleh.
Tanpa berpikir panjang, Naura segera menghampiri sang Kakak. Dan memeluknya.
"Naura? Kakak?" Gumam Ramdan. Kemudian, ia mengerti apa yang terjadi.
"Bagaimana kabarmu?"
"Sehat. Aku sangat merindukanmu, Kak. Mengapa kau lama sekali tidak pulang?"
"Maafkan Kakak. Kakak pun sangat merindukan kedua Adik kesayangan Kakak"
Naura melihat beberapa wanita berhijab yang juga menghampirinya.
"Hai. Kau pasti Naura?. Perkenalkan, namaku Fatimah. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Fatim. Aku putri pengurus pesantren ini" Sapa Fatimah mencoba akrab.
"Selain itu, Kak Fatim juga adalah calon Kakak iparmu" Goda Shela. Membuat Fatimah memelototinya.
"Calon? Apa Kakak akan menikah?"
"Hah? Hm, tidak" Baron menelan ludahnya kasar. Takut akan kekesalan Fatimah.
"Baiklah. Perkenalkan, namaku Shela. Dan ini Adikku. Lela"
"Nah,, dan yang ini namanya Ramdan" Baron menunjuk Ramdan yang baru saja tiba menghampiri mereka. Naura menoleh kearah Ramdan. Baron mempunyai niat terselubung untuk mendekatkan Ramdan dan Adiknya, Naura. Dan berharap mereka akan saling jatuh hati.
"Cie.. Bajunya couple-an.. Padahal 'kan, baru saja bertemu."
__ADS_1
"Namanya juga jodoh.. hihi"
Ramdan sempat mengernyitkan dahi, mendapat godaan. Ia kembali memandang seorang gadis bernama Naura.
Kini mata mereka bertemu. Mereka teringat dengan kejadian tadi. Dan kini, mereka nampak kikuk dan tak berani memandang satu sama lain.
"Hm, kalian kenapa?" Tanya Fatimah yang heran dengan tingkah aneh mereka.
"Tidak. Oh, iya. Kak Baron, kau ditunggu orang tuamu!" Ramdan mengalihkan pembicaraan. Pembicaraan yang ingin ia sampaikan sejak tadi.
"Ditunggu?"
"Ya. Sepertinya orang tuamu akan pamit"
"Maura. Apakah kau juga akan ikut pulang?" Lela nampak sedih.
"Iya. Aku akan pulang. Tapi, aku janji akan kembali lagi untuk bertemu dengan kalian"
"Baiklah. Ayo, kita kesana" Baron berlalu dan diikuti Maura, Fatimah, Shela dan Lela.
Sedangkan Naura menunggu Kakak dan lainnya pergi duluan. Sepertinya, ia ingin mengatakan sesuatu pada pria bernama Ramdan.
Ramdan mulai melangkah. Namun segera dihentikan oleh Naura.
"Kau!" Panggilnya ragu.
"Siapa?" Tanya Ramdan memastikan tanpa menoleh.
"K-kau!" Panggilnya sekali lagi dan Ramdan menoleh.
"A-aku?"
"I-iya. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu"
Ramdan kembali menundukan wajahnya.
"Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku tidak hati-hati dalam berjalan. Dan aku ingin mengucapkan terima kasih. Karena kau telah menyelamatkanku"
"Tidak apa. Maaf jika aku sedikit lancang padamu"
"Sekarang kau harus menemui orang tuamu untuk berpamitan. Dan semoga kau betah disini" lanjutnya.
"Apa kau sudah tahu? Bagaimana kau tahu aku akan tinggal disini?" Naura nampak heran.
"Aku permisi. Ada urusan yang harus ku selesaikan" Ramdan segera berlalu tanpa menjawab pertanyaan Naura.
...
"Apa Ayah dan Bunda tidak disini dulu untuk sebentar lagi?"
"Tidak, Nak. Kami sudah cukup lama disini. Oh, iya. Dimana Naura?"
"Aku disini, Bun" Sahut Naura dari belakang dan langsung memeluk tubuh Yuni. Tak terasa pipinya sudah di banjiri air mata.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa like, komen and vote ya!..
__ADS_1
Share juga boleh..😊😋