Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
43. Perbincangan Dua Keluarga


__ADS_3

"Apa alasanmu?" tanya Ramdan lagi.


"Karena Beliau adalah sosok perempuan yang terjaga dan paham akan kata perempuan. Beliau selalu berusaha untuk menjaga kesucian dan kehormatan hati dan jiwanya. Dan banyak yang sudah menganggap bahwa Beliau adalah penuntun para perempuan Islam. Kami sebagai muslimah turut senang dan menyukainya." jawab Maura sembari tersenyum senang menceritakan tentang sosok perempuan terhormat itu.


"Siapa katamu? Siapa nama Ustadzah itu?" tanya Naura yang juga ternyata mendengarkan perbincangan Ramdan dan adiknya. Naura meminta Maura mengulangi nama perempuan yang disebut sebelumnya.


Dengan senang hati Maura menjawab, "Ustadzah Halimah Alaydrus." jawab Maura.


"Kakak kayak pernah denger nama itu. Tapi lupa dari siapa," ujar Naura mencoba mengingat. "Ya. Dari beberapa teman Kakak di kuliahan." lanjutnya setelah ingat.


"Nama itu memang sudah populer apalagi di kalangan kaum perempuan, Kak." balas Maura sembari tersenyum ke arah sang kakak.


"Oh, begitu. Seperti apa wajahnya?" tanya Naura penasaran.


"Beliau tidak menampakkan wajahnya, Kak." jawab Maura, membuat Naura tak mengerti.


"Seperti apa yang dikatakan Adikmu, Beliau itu perempuan terjaga. Beliau tidak berani menampakkan wajahnya dan segala auratnya pada publik. Hanya suaranya lah yang terkenal di saat berhijrah. Wajahnya ditutupi dengan kain suci yang bernama cadar atau niqab, sehingga hanya suami dan muhrimnya saja yang dapat melihatnya." sambung Ramdan memberi pengertian pada Naura.


Naura merasa paham akan penjelasan panjang itu. Tetapi kini justru dirinya tercengang karena yang menjelaskan itu adalah Ramdan. "Mengapa Kau bisa mengetahuinya?" tanya Naura heran.


"Aku sering mendengar kajiannya di berbagai sosial media. Ilmunya memang luas dan pembawaannya pun fasih." jawab Ramdan setelah terkekeh pelan menanggapi pertanyaan Naura.


Naura menganggukkan kepalanya paham. Ia mengembeskan napasnya sembari berpendapat bahwa dirinya memang begitu bodoh tidak mengenali tokoh-tokoh ahli ilmu di negaranya sendiri. Ia sadar, selama ini dirinya begitu jauh dari Agamanya sendiri. Ia merasa iri dengan adiknya yang menggemari segala hal yang berkaitan dengan Agama. Sedangkan dirinya? Sungguh, Naura kini merasa sangat bodoh.


...****************...


Di tengah Yuni dan Hilman sibuk kembali membicarakan kedekatan Naura dan Ramdan, tiba-tiba Bilal dan Marwah datang dan menghampiri mereka. Sontak Yuni dan Hilman mengakhiri pembicaraan dan Hilman langsung menyambut kedatangan sang sahabat, Bilal.


"Assalamualaikum," ucap Bilal dan Marwah.


"Waalaikumussalam, apa kabar?" balas Hilman diikuti Yuni dari arah belakang.


"Alhamdulillah, kami dalam keadaan sehat wal afiat. Kalian sendiri bagaimana?" balas Bilal.


"Alhamdulillah, Allah masih memberikan kami kesehatan, begitu juga dengan kita semua." ujar Hilman.


"Semoga Allah juga memberikan kesehatan pada Naura, agar tak lagi dirawat di tempat ini," sambung Yuni yang tiba-tiba tampak lesu dan matanya menatap pintu rawat Naura.

__ADS_1


Hilman yang menyadari hal itu, segera merangkul tubuh sang istri dengan sayang. Tersenyum ke arahnya untuk menghiburnya. Yuni membalas senyum itu dan membalas rangkulan, seakan tahu bahwa yang dilakukan Hilman padanya untuk menguatkannya. Maka dirinya harus kuat.


"Aamiin.. Semoga Naura bisa bersama kalian kembali. Semoga Allah mengabulkan doa-doa kita." balas Marwah sebagai bentuk empati.


"Terima kasih, kalian selalu bersedia mengukurkan tangan pada jeluarga kami," ujar Yuni berterima kasih.


"Kita ini sudah seperti satu keluarga, bukan? Lagipula kami sudah menganggap Naura sebagai putri kita sendiri." balas Marwah.


"Betul apa yang dikatakan istriku," sambung Bilal membenarkan perkataan dari snag istri. Membuat Marwah tersenyum dan tersipu, bukan karena Bilal mengatakan hal itu, tetapi karena Bilal mengedipkan sebelah mata ke arahnya setelah mengatakan hal itu.


Hilman dan Yuni saling bertukar pandang, kemudian tertawa kecil menyaksikan kenakalan Bilal kepada Marwah. Sementara Bilal pun juga ikut terkekeh melihat reaksi sang istri.


"Sudahlah, mari kita duduk." ajak Bilal kemudian.


Hilman dan Yuni kembali bertukar pandang yang memiliki isyarat tertentu, entah apa yang tengah mereka pikirkan.


"Bagaimana kalau kita duduk di kantin rumah sakit saja? Ada yang ingin kami bicarakan," ujar Hilman.


Bilal dan Marwah sempat merasa bingung, tetapi tetap menyetujui permintaan itu. Bilal mengangguk bersama Marwah yang juga menganggukinya. Apa yang akan dibicarakan?


Setelah tiba dan mengambil posisi duduk di satu meja kantin, dan memesan. Mereka kembali membuka perbincangan.


"Oh, iya. Kalian ingin mengatakan apa?" tanya Bilal.


Hilman sedikit menghirup udara dan mengembuskannya secar perlahan. "Em, kami ingin membicarakan tentang putri kami dan putra kalian." jawab Hilman kemudian.


"Maksudmu, Naura dan Ramdan?" tanya Bilal memastikan. Hilman hanya mengaggukinya.


"Ada apa dengan mereka?" tanya Marwah tak memahami.


Setelah itu, pesanan mereka tiba, berhasil mengganggu perbincangan yang mulai serius. Agh, mengganggu! Demikianlah gerutuan dari sang Author.


Sang pelayang sudah pergi, suasana kembali pada suasana sebelumnya. "Ada apa?" tanya Marwah sedikit tak sabaran, sekaligus penasaran.


"Kami ..." ucap Yuni tampak ragu mengatakannya.


"Akhir-akhir ini, Kami sering melihat kedekatan Naura dan Ramdan. Mereka begitu dekat dan terlihat saling memiliki perasaan lebih dari sekadar teman," ujar Hilman.

__ADS_1


"Apakah benar begitu? Mereka begitu dekat?" tanya Marwah memastikan.


Hilman tampak ragu menjawab pertanyaan itu, namun ia harus mengatakan yang sebenarnya. "Ya. Bahkan mereka hingga lupa dengan jarak, meskipun tak melampaui batas. Menurut kami itu sudah berlebihan." jawab Hilman kemudian.


Bilal dan Marwah saling berpikir dan bertukar pandang, pasalnya mereka belum melihat kedekatan Ramdan dan Naura. Tetapi apa yang dikatakan Hilman dan Yuni tak bisa mereka pungkiri, tidak mungkin mereka berbohong.


...----------------...


Di persimpangan jalan.


"Diem lo Curut!" tukas Amira.


"Udah berapa kali gue harus ngomong ini sama lo, gue bukan Curut." balas Alex sedikit kesal.


"Kenapa? Gak suka?" tanya Amira seakan menantang.


"Ya pasti lah. Nama gue bukan Curut, tapi Alex Mahendra. Cowok paling dibanggakan di satu sekolah kita." ujar Alex tak mau kalah.


"Terus kalo lo cowok kebanggaan sekolah, emang kenapa?" balas Amira setelah memutar bola matanya malas.


"Ya seharusnya lo terima gue jadi pacar lo. Banyak cewek yang suka sama gue, tapi gue tolak karena gue sukanya sama lo. Kurang apa lagi coba di gue?" ujar Alex.


"Kurang waras!" jawab Amira kemudian melenggang pergi begitu saja. Tentu saja Alex segera menyusulnya.


"Lo mau ngapain?!" tukas Amira melihat Alex yang sudah berdiri di hadapannya. Menghalangi jalan Amira.


"Gue anter lo pulang." ujar Alex dengan wajah yang sama seperti biasanya, tampak biasa-biasa saja.


Amira mengangkat sebelah alisnya sebagai tanda tak mengerti. Tatapannya kemudian menatap tajam ke arah Alex, namun tak membuat Alex bereaksi apapun.


"Tuh, kan. Lo emang aneh dan gak waras!" ucap Amira yang kemudian melenggang pergi meninggalkan Alex yang masih terdiam di tempat.


Alex menautkan kedua alisnya hingga terlihat menyatu. Kemudian tubuhnya berbalik dan menatap Amira yang pergi meninggalkannya tanpa berniat untuk menoleh ke arahnya.


"Lo memang keras kepala." gumam Alex.


Entahlah, Alex menganggap setiap penolakan yang diberikan Amira adalah sifat keras kepala dari Amira. Tetapi mungkin yang sebenarnya keras kepala adalah Alex sendiri yang terlalu mengklaim sosok Amira sebagai miliknya, meskipun dirinya telah ditolak beberapa kali oleh Amira. Atau mungkin juga keduanya lah yang sebenarnya keras kepala.

__ADS_1


__ADS_2