
"Maaf, Yah. Maura gak akan ngebantah Ayah lagi" Sesal Maura yang takut.
"Udah, gak papa. Kita lanjutin makan aja yuk" Ujar Yuni.
"Maura, maafin Ayah. Gak seharusnya Ayah marah kayak gini" Sesal Hilman.
"Ayah hanya ingin kamu disini. Selesaikan sekolahmu. Ayah dan Bunda masih ingin menghabiskan waktu untuk putri Ayah yang satu ini. Maura masih mau temenin Ayah Bunda di rumah 'kan?" Bujuk Hilman lembut.
Maura mengerti apa yang dirasakan oleh sang Ayah. Maura mengukir senyuman manis di bibir ranumnya. Dan ia menganggukkan kepalanya. Hilman dan Yuni dibuat tersenyum lega.
"Maura tadi bilang, pengen belajar agama lebih banyak lagi 'kan? Insyaallah ayah akan luangin waktu buat ngajarin Maura sedikitnya ilmu agama"
"Makasih Yah"
**
"Kak Fatim! Aku ke dapur sebelah ya. Mau masak opor ayam" Seru Desi yang Kemudian berlalu. Dan hanya dibalas anggukan oleh Fatimah.
"Opornya buat ikhwan atau akhwat Kak?" Tanya Lala yang tengah mengelap meja.
"Ikhwan La" Jawab Fatimah lembut seraya mengambil sapu.
Baron dan Ramdan tengah berjongkok membersihkan selokan dengan cangkul kecil.
"Eh, matanya belokin Kak! Istighfar Kak" Gurau Lala, ketika memergoki Baron yang tengah mencuri pandang kearah Fatimah.
"Hish.! Ganggu aja" Kesal Baron.
Mendengar Shela mengatakan itu, Fatimah mengentikan tangannya yang tengah mengayunkan sapu. Fatimah yang sedari tadi membelakangi mereka, Kemudian membalikkan badannya.
"Kak Baron liatin saya?" Tanya Fatimah dengan tatapan tajam.
Glek..
Dengan cepat, Baron menggelengkan kepalanya karena takut dengan tatapan Fatimah padanya.
"Awas aja kalo liatin saya!"
"Ka-kamu juga liatin saya" Ujar Baron terbata-bata.
"Kapan?!"
"I-ini. Se-sekarang ini"
Fatimah akhirnya sadar, bahwa ia juga tengah menatap Baron. Ia langsung membalikkan tubuhnya. Pipinya memerah dan merona, karena malu. Dan itu membuat Ramdan dan Lala tertawa geli. Sedang Baron, justru ingin terus menggodanya.
"Kak? Kak Fatim?" Tanya Shela menahan gelak tawa melihat pipi Fatimah yang merona.
Fatimah terlihat kesal dan salah tingkah.
"Kak Fatim?! Opornya gimana nih?! Garemnya dua sendok atau tiga sendok?" Teriak Desi dari dapur sebelah.
__ADS_1
"Satu wadah juga gak papa!" Teriak Fatimah menyahut.
"Hah? Sa-satu wadah?" Baron membelalakkan bola matanya. Karena tadi sempat mendengar, bahwa opor itu untuk para ikhwan.
"Iya! Kenapa?! Gak suka? Kalo gak suka, ya jangan makan!"
"Kak! Yang bener aja.. Masa satu wadah? Mau ngeracunin semua ikhwan pesantren?" Ramdan pun ikut terkejut.
"Iya! Kamu gak mau makan juga? Ya udah, terserah" Setelah itu, Fatimah berlalu begitu saja meninggalkan mereka.
"Ck. Mati satu, mati seribu" Ketus Shela yang kemudian berlalu. Dan diikuti oleh Lala dari belakang. Sampai akhirnya hanya ada Baron dan Ramdan saja yang ada di dapur.
"Makanya, Kak. Lain kali harus jaga pandangan! Kakak ku itu bagai Cinderella bergigi Vampir"
"Iya, maaf" Sesal Baron.
"Trus, bagaimana dengan nasib perut kita nanti?" Lanjutnya.
"Sepertinya, ini bukanlah sebuah nasib. Melainkan sebuah takdir" Pasrah Ramdan.
"Kamu itu, terlalu tawakal.!"
"Memangnya Kau akan berbuat apa?"
"Tidak juga" Baron menggeleng polos.
**
"Harusnya gue yang minta maaf. Gak seharusnya gue maksa lo kayak tadi pagi. Gue minta maaf"
"Gue kesini bukan buat ngomong maaf. Tapi gue kesini buat ngasih ini" Mirsha menyodorkan selembar surat yang dilipat.
"Kertas?" Heran Naura.
"Baca aja" Titah Mirsha pelan dengan raut wajah sedih.
Melihat raut wajah Mirsha, Naura penasaran dengan selembar kertas yang disodorkan. Naura mengambil kertas itudari tangan Mirsha. Dan ia langsung membukanya dan membacanya.
Dear Sahabat
Sebelumnya, gue minta maaf atas kejadian kemaren malam. Gue juga minta maaf, karena persahabatan kita telah menjadi serpihan debu dan hanya kenangan yang tersisa. Yang membuat kalian kecewa, dan mungkin benci sama gue. Dan gue tau, di kejadian ini gue lah yang paling bersalah. Gue terima semua akibatnya.
Gue izin pamit, dan pergi sejauh mungkin dari kalian. Gue akan selalu mengingat kenangan manis diantara kita bertiga. Dan gue pamit atas luka yang telah gue taburi di hati kalian. Semoga kalian selalu diberikan kesehatan disini..
Gehna Fyiaro
Naura sempat terdiam setelah membaca selembar surat di tangannya.
"Apa yang dia maksud, Mir? Apa dia akan pergi ke Belanda?"
Tanyanya pelan seraya terus menatap kertas itu. Namun tak ada jawaban dari Mirsha. Hanya isak tangis yang terdengar olehnya. Mungkin isak tangis itu dari Mirsha, yang tak kuasa menahan kesedihannya. Dan itu seakan memberi jawaban 'iya'.
__ADS_1
"Apa dia pergi sendiri? Very gak bakal ikut 'kan?" Takutnya di kalimat terakhir.
"Apa maksud lo, Ra?"
"Lo tau apa yang gue maksud" Naura berdiri dan mulai melangkah dengan tergesa-gesa.
"Ra! Lo jangan nekat!" Mirsha pun berdiri dan mengejar.
****
"Astaghfirullahal'adzim, Kakak kenapa?"
Naura hampir saja menabrak sang adik yang tengah berjalan di depannya.
"Maaf ya, Dek" Naura kembali melangkah.
"Tunggu Kak! Kakak dilarang keluar sama Ayah!" Seru Maura.
"Kakak harus mempersiapkan beberapa pakaian untuk pergi ke pesantren!"
Naura berhenti melangkah. Ia sempat berpikir sebentar. Kemudian melangkah kembali dan berlalu hingga menghilang. Ia sama sekali tak memedulikan ucapan sang adik padanya. Demi mengejar sang kekasih yang akan pergi meninggalkannya.
Mirsha yang berjalan tergesa-gesa, mengejar Naura. Tanpa sengaja mendengar apa yang dikatakan Maura. Awalnya ia tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Namun akhirnya ia memastikannya dengan bertanya pada Maura. Dan jawaban Maura membuat nya dadanya sesak.
______
Akhirnya Naura tiba di bandara setelah ia melaju kencang dengan mobilnya. Ia mulai mencari keberadaan Gehna dan Very di sekitar bandara. Ia berlari seraya berteriak histeris, memanggil mereka beberapa kali hingga orang-orang di bandara pun menontonnya. Namun nampaknya mereka tak ada.
"Dimana kalian?!"
"Gehna! Berani-beraninya kau membawa Very bersamamu! Aku tidak akan membiarkanmu!"
"Very! Aku sangat mencintaimu! Ku mohon kembalilah padaku!.." Suaranya sudah mulai serak dan berat.
Saat ingin berlari kembali, ia justru terjatuh. Ia menangis sejadi-jadinya. Hatinya sakit dan penuh kebencian. Tak peduli apa yang dipikirkan orang-orang di sekitarnya.
"Naura?" Setelah tiba, Mirsha melihat Naura yang sedang menangis keras di lantai. Ia langsung menghampiri.
"Naura, lo jangan kayak gini" Mirsha berusaha membantu Naura untuk bangkit dari jatuhnya. Hingga akhirnya Naura pun bangkit. Namun ia segera melangkahkan kakinya kembali. Dan Mirsha pun segera mencegahnya.
"Lo mau kemana, Ra?"
"Gue mau cari mereka, Mir! Gue gak bisa diam aja. Gue harus bawa Very kembali ke pelukan gue!"
"Lepasin gue, Mir!"
Mirsha masih tetap menggembok tangan Naura. Akhirnya Naura menepisnya dengan kasar. Hingga Mirsha terhempas ke belakang.
Dan Naura kembali melangkah.
"Mereka udah pergi!" Ujar Mirsha membuat Naura terkejut. Kemudian Naura membalikkan tubuhnya menghadap Mirsha.
__ADS_1
"Lo terlambat! Mereka udah melakukan penerbangan ke Belanda!"