Memintamu Di Setiap Sujudku

Memintamu Di Setiap Sujudku
20. Media sosial


__ADS_3

Maura merasa sangat risih dan mempercepat langkahnya saat dirinya diperhatikan sedemikian rupa oleh hampir seluruh penghuni sekolah yang juga sedang berjalan menuju parkiran sekolah.


Akhirnya, Maura tiba di depan kelas dua belas. Maura tersenyum tipis ke arah Amira yang sibuk membereskan tumpukan kertas di atas meja miliknya. Amira tersenyum dan memberi isyarat pada Maura untuk masuk ke dalam kelas, dan tidak hanya menunggunya di luar.


Maura enggan untuk melangkah masuk karena matanya juga melihat seorang siswa tinggi yang tak lain adalah Imran. Imran terlihat sangat sibuk di atas mejanya. Selain sedang membereskan tumpukan kertas, Imran juga terlihat sibuk menulis beberapa data yang tidak diketahui namanya.


Maura berjalan masuk seraya terus menundukan pandangan. Membantu Amira membereskan tumpukan kertas. Hingga selesai.


"Terima kasih," ucap Amira. Maura hanya mengangguk dan tersenyum simpul.


"Ayo, kita pergi."


"Sebentar, Kak." ucap Maura.


Maura berjalan ke arah Imran yang masih fokus pada kertas-kertas di atas mejanya. Bahkan Imran tidak menyadari Maura yang kini berdiri di samping mejanya.


"Permisi, Kak." ucap Maura sedikit ragu dan masih menundukan kepalanya.


Imran seketika menghentikan kegiatannya kala telinganya mendengar suara yang pernah ia dengar sebelumnya. Imran menoleh. Dirinya membatu dalam hitungan detik.


"Y-ya?"

__ADS_1


"Ini buku Ipa-nya, Kak." Maura meletakkan buku yang sedari tadi berada di tangannya ke atas meja Imran.


"Oh, terima kasih." Imran terlihat salah tingkah di atas kursinya. Lalu tersenyum tipis.


Maura hanya menangguk dan tersenyum tipis. Kemudian berjalan pergi.


Amira yang sedari tadi menunggu sembari memperhatikan keduanya, hanya mampu mengerjapkan matanya tanpa ada suara yang keluar dari mulutnya.


...


Amira dan Maura memasuki ruangan ganti untuk berganti pakaian ekskul beladiri. Setelah sepuluh menit keduanya sibuk dengan pakaian mereka, akhirnya keduanya selesai dan berjalan keluar dari ruangan itu.


"Apa kamu udah makan?" tanya Amira yang tampak sedikit sibuk dengan jam tangannya yang hendak ia pasangkan pada pergelangan tangannya.


Kemudian langkah keduanya berbelok ke arah kiri yang terdapat sebuah kantin sekolah. Kantin terlihat tidak cukup ramai. Mereka duduk di salah satu meja yang kosong. Memesan makanan untuk makan siang kali ini.


"Dua hari lagi, Imran mau ngadain perayaan Maulid Nabi," ucap Amira memberi tahu.


"Di mana?" tanya Maura dengan wajah yang tampak senang.


"Di sekolah. Katanya sih, akan ada beberapa dai yang mengisi acara itu."

__ADS_1


Maura mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. Dan Amira hanya tersenyum tipis. Hingga akhirnya, pesanan mereka datang. Kini sudah tertera di atas meja.


"Oh, iya, Kak. Kemarin Kakak bilang ada yang mau dibicarakan. Mau bicara apa ya, Kak?" tanya Maura sedikit ragu.


Amira tampak mencari-cari kata yang akan menjadi awal pembicaraan kali ini. "Sebenarnya, Aku cuma mau nanya sesuatu sama Kamu, Maura."


"Apa Kamu dan Imran saling suka?" tanya Amira, hampir membuat Maura tersedak minumannya.


"Kamu gak papa?" tanya Amira sedikit khawatir. Maura hanya menggeleng, memberi jawaban bahwa dirinya tidak apa-apa.


"Maaf kalo pertanyaan Aku bikin Kamu tersinggung," ujar Amira dengan rasa bersalahnya.


"Aku gak papa, Kak. Tadi cuma kaget aja. Aku dan Kak Imran gak ada apa-apa. Kenapa Kakak nanya kayak gitu?"


"Ehm, emang Kamu gak tau ya? Kamu jadi pusat gosip satu sekolah gara-gara foto Kamu dan Imran di pinggir jalan, depan sekolah."


Maura sontak menutup mulutnya karena terkejut dengan apa yang Amira katakan. Apakah itu sebabnya dirinya sering diperhatikan banyak siswa dan siswi di sekolah? Bahkan dirinya sendiri tidak menyadari hal itu.


"Foto Aku dan Kak Imran?" tanya Maura memastikan. Amira hanya mengangguk mengiyakan.


"Diposting di media sosial apa?"

__ADS_1


"Instagram."


##


__ADS_2